Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Ma'meugang dan Kepedulian Sosial

Ma'meugang dan Kepedulian Sosial

Oleh : Alja Yusnadi

“Uroe get, Buleun get, kutupek mak peuget beu meu ta teume rasa,”. Frasa itu acap saya dengar ketika masih “meudagang” sekitar 16 tahun lalu, sesekali, saya juga mengucapkannya, meledek kawan. Kalau kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih ”Hari baik, Bulan baik, kita harus dapat merasakan ketupat yang dibuat ibu”.

Bagi perantau, minimal merantau karena melanjutkan pendidikan, baik itu ke perguruan tinggi atau ke rangkang manyang, adagium diatas sangat familiar. Apa maksudnya?, itulah cara aneuk dagang melampiaskan rindu kampung halaman dan keluarga.

Bagi yang tidak dapat pulang, maka di ‘ejek’ lah dengan kata,”Uroe get Bulen get, Kutupek Mak peuget hana meuteume rasa,” dengan penuh air mata tumpahlah segenap luka-lara.

Begitulah kearifan yang semasa saya kuliah dulu masih lazim di serukan. Hari baik dan bulan baik itu bertepatan dengan bulan Ramadhan dan Hari raya. Segenap masyarakat Aceh menyambut kedatangan hari baik itu dengan suka-cita, termasuk aneuk dagang tadi, berbondong-bondong pulang ke kampung halaman.

Beberapa hari sebelum puasa, dalam tradisi Aceh dikenal dengan istilah Ma’meugang atau meugang. Masing-masing keluarga membeli daging dan rempah, dibuat semacam persiapan pesta untuk menyambut Ramadhan datang. Begitulah pemuliaan orang Aceh masa lampau terhadap Ramadhan.

Pada awalnya, istilah Ma’meugang ini berasal dari kata ma’mu (makmur) dan gang (pasar yang terletak didalam gang).  Dulu, disebuah tempat di Bandar kerajaan, pada  setiap menjelang Ramadhan, orang ramai-ramai mengunjungi pasar yang terletak didalam gang, membeli daging dan rempah. Karena ramai, disebutlah Ma’mue that gang nyan (makmur sekali pasar itu). Seterusnya disebutlah Ma’meugang.

Sampai sekarang, Ma’meugang dalam prakteknya terjadi dua hari sebelum puasa dimulai, satu hari setelahnya dijadikan sebagai hari untuk menikmati masakan yang disebut pajoh-pajoh atau makan-makan, sebelum akhirnya puasa datang dan makanpun berpantang.

Berbagai macam makanan dihidang, sesuai dengan lidah atau selera. Setiap daerah memiliki ciri khas. Pidie, Bireun, Aceh Utara lebih suka memasak kari atau sop daging. Aceh Besar, lebih dekat dengan daging asam keueung dan sie reuboh (daging yang dimasak dengan cuka), walaupun nantinya juga ditambah dengan sop daging atau reundang (masakan daging rendang). Wilayah Aceh Selatan dan Barat lebih dekat dengan daging kerbau atau sapi.

Selain daging, ada beberapa jenis makanan lain, seperti tape (makanan dari ketan yang telah diprementasikan), leumang (makanan dari ketan yang dimasukkan dalam bambu, kemudian dimasak dengan cara dipanggang menggunakan api yang besar), Keutupek (ketupat), timpan (makanan khas Aceh, dibuat dari tepung dan dibalut dengan daun pisang muda).

Tradisi ini sudah berlangsung lama, turun temurun. Diperkirakan beriringan dengan masuknya islam ke Aceh. Dalam keseharian, masyarakat Aceh yang hidup di pinggir pantai sudah terbiasa menyantap ikan laut. Nah, pada Ma’meugang itu identik dengan daging.

Menurut Ali Hasjmy, semasa kerajaan Aceh Darussalam, Ma’meugang di rayakan di keraton Darut Dunia, dihadiri oleh Sultan, para pembesar kerajaan, dan alim-ulama.

Ma’meugang biasanya jatuh pada tanggal 29 atau 30 Sya’ban. Menjelang upacara, Syahbandar Seri Rama Setia memberikan pakaian yang akan dipakai Sultan pada saat upacara. Syahbandar juga memberikan karangan bunga dimakam para sultan yang telah meninggal.

Pada saat Ma’meugang itu, Sultan memerintahkan Imam Balai Baitul Fakir/miskin untuk memberikan daging, pakaian dan beras kepada fakir miskin, orang lumpuh dan para janda.

Biaya dibebankan kepada Bendahara Balai Silaturrahim, yang ditugaskan oleh kerajaan untuk mengurusi persaudaraan antar warga. Tradisi ini terus hidup dimasa kolonial, bahkan penjajah pun ikut merayakan dengan menjadikan hari ma’meugang sebagai hari libur.

Ma’meugang dalam dimensi lain dapat dimanfaatkan oleh para saudagar atau yang berkelebihan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Tidak jarang, disudut kota atau di pinggiran desa, masih ada yang termiskinkan oleh minimnya akses produksi atau miskin struktural.

Pernah, pada suatu Ma’meugang, saya meminta ibu untuk membagikan beras atau uang ala kadarnya kepada yang menurut ibu saya sangat membutuhkan. Ada air mata disana, seorang ibu tua, sebatang kara, jangankan untuk “merayakan” meugang, beras saja tidak ada.

Fenomena ini sama sekali tidak langka, asal mau saja sedikit kita menoleh, melihat ke bawah. Secara masif tentu pemerintah lah yang memikul tanggung jawab, memastikan tidak ada orang yang tidak makan.

Mulai pemerintah desa, kabupaten/kota, provinsi dan pemerintah pusat harus bertanggungjawab. Melalui APBDes, APBK, APBA, APBN, seharusnya tidak ada lagi yang sedemikian. Apalagi Aceh memiliki Baitul Mal. Jangan sampai kaum rentan itu tidak dapat menikmati Ma’meugang gegara pemerintah yang bebal!

Pada akhirnya, ditengah tekanan ekonomi dan psykologis akibat Corona, semoga Ma’meugang tahun ini bisa kita lewati seperti tahun-tahun sebelumnya. Harapan kita, kedepan bukan hanya “gang” yang makmu, tapi juga penghuninya. Semoga.!

Komentar

Loading...