Layak Terbang

Layak Terbang
Sertifikat hasil verifikasi yang dikeluarkan Dewan Pers

Oleh: Alja Yusnadi

Apa yang menjadi kebahagiaan di dalam hidup ini? Salah satunya jika kita berhasil mencapai apa yang kita inginkan, apa yang kita cita-citakan. Keinginan itu banyak sekali macam-ragamnya.

Ada orang, menetapkan keinginan pada usia sekian tahun harus kaya. Ada juga yang berkeinginan untuk menjadi sesuatu, entah itu ASN, pengusaha, penguasa, dan sebagainya.

Intinya, hidup ini harus diperjuangkan, tidak boleh berhenti. Standar pencapaian itu dikembalikan kepada masing-masing personal.

Itu menyangkut manusia, menyangkut saya, menyangkut Anda. Begitu juga dengan media. Belakangan ini, media massa, terutama yang mengandalkan teknologi informasi sebagai basis utamanya, lahir bagai cendawan di musim hujan.

Anda tahukan bagaimana cendawan di musim hujan? Cendawan tumbuh di mana saja, di pokok kayu yang sudah lapuk, di ampas nilam, di ampas pala, dan di mana saja yang dia suka, yang penting lembab.

Begitu juga media online. Dia tumbuh begitu pesat, bisa saja di pusat ibu kota, pusat provinsi pusat kabupaten, bahkan sampai ke pelosok negeri. Satu sisi, ini adalah pencapaian yang luar biasa. Informasi tidak lagi menjadi barang mewah.

Siapa saja bisa mendapatkan informasi, bahkan siapa saja dapat dengan mudah mendirikan media online. Hanya bermodalkan domain, lalu kemampuan mendesain website, jadilah media online yang redaksinya entah di mana, wartawannya entah di mana. Di kelola satu-dua orang saja.

Tentu, ini tidak semua. Yang kecuali itu tidak saya singgung, memang sudah tumbuh menjadi media alternatif, bahkan media mainstreme yang mengandalkan kecepatan dan kualitas.  

Memang, melalui kecepatannya, media online ini menjadi mesin pembunuh bagi media cetak. Situasi ini, menyebabkan perusahaan media cetak harus menyesuaikan. Pilihannya, mengalihkan samasekali dari cetak ke online, atau membuka anak perusahaan yang berbasis online.

Ya, begitulah. Di mana ada kemajuan, di situ ada dampak, ada resiko. Apa dampaknya? Karena begitu mudahnya mendirikan media online, banyak yang tidak sesuai kaidah, tidak sesuai aturan.

Dari sekian banyak kaidah dan aturan itu, saya kutip dua saja: Harus berbadan hukum dan terferivikasi Dewan Pers. Ini yang paling pokok. Media online harus dikelola oleh badan hukum, tidak boleh CV, apalagi personal.

Harta kekayaannya harus dipisah. Media online itu harus dikelola oleh Perseroan Terbatas (PT) atau Yayasan. PT untuk yang tujuan komerisal, Yayasan untuk tujuan sosial.

Berikutnya terverifikasi, baik secara administrasi maupun faktual. Yang bertanggung jawab memverifikasi media adalah Dewan Pers.

Lembaga ini juga yang berkewenangan untuk menyelesaikan sengketa. Siapa saja yang merasa dirugikan karena pemberitaan, mengadunya ke Dewan Pers, bukan polisi, apalagi Tenatara, kecuali untuk perkara yang tidak menjadi kewenangan Dewan Pers.

Inilah pentingnya verifikasi Dewan Pers. Karena, bagi media yang belum terferivikasi, tidak akan menjadi kewenangan Dewan Pers untuk menyelesaikan, jika ada sengketa.

Dari sekian banyak cendawan, ehhh, media online itu, salah satunya adalah Antero Aceh, media yang sedang Anda baca ini. anteroaceh.com didirikan oleh salah seorang kawan saya, anak muda, namanya Ihsan Yunadi.

Ihsan adalah lulusan Ilmu Teknik Informatika di salah satu Perguruan Tinggi di Kota Padang, Sumatera Barat. Awalnya, dia mendirikan media Aceh Selatan News (ASN), sekira sembilan atau sepuluh tahun yang lalu.

Saya lihat, melalui ASN nya itu, Ihsan masih belajar mengelola media online. Sebagai pendatang baru, ASN berhasil mendapatkan pasar di Aceh Selatan. Sebagai pimpinan umum, Ihsan agak luwes dalam komunikasi. Dia membangun komunikasi dengan semua pihak, termasuk dengan saya--saat itu saya masih menjadi sesuatu di Aceh Selatan.

Berhasil ASN nya tidak membuat Ihsan cepat berpuas diri. Dia kembali mendirikan media online dengan cakupan yang lebih luas. Jika ASN ruang lingkupnya adalah Aceh Selatan, maka anteroaceh.com merambah ke level Provinsi.

Kali ini, Ihsan lebih siap, PT. Aceh Cipta Media (ATADIA) didirkan untuk mengelola anteroaceh.com, sejak tahun 2019, antero aceh sudah mengurus verifikasi administrasi Dewan Pers. Di tengah pandemi, antero aceh diverifikasi faktual oleh Dewan Pers.

Atas kerja keras itu, 30 Mei 2021, anteroaceh.com dinyatakan sudah terverifikasi faktual oleh Dewan Pers.

Ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa, apalagi untuk media online yang ruang lingkupnya Aceh. Sebenarnya, apa yang dilakukan antero aceh ini harus diikuti oleh semua media online di Aceh, terutama yang belum terverifikasi.

Verifikasi itu adalah lisensi. Apa perlu lisensi itu? Seperti pesawat yang harus memiliki izin terbang, seperti kendaraan umum yang harus memiliki izin berkendara. Semua itu untuk menunjukkan, bahwa pesawat layak terbang, kendaraan umum layak jalan.

Begitu juga dengan media online, yang sudah terverifikasi itu menjadi petunjuk bagi kita, bagi pembaca, bahwa media itu layak tayang, layak baca.

Seperti yang saya tulis di awal tadi, salah satu kebahagiaan itu adalah sampai pada suatu titik yang diinginkan, yang diharapkan, yang dicita-citakan.

Berbahagialah pemilik, bahagia pengelola, bahagia segenap penulis, wartawan, dan siapa saja yang menjadi bagian dari antero aceh. Terutama, berbahagialah para pembaca, media Anda sekarang sudah layak terbang.

Selamat kepada anteroaceh.com!

Komentar

Loading...