Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Langkah Kuda Haji Karnawi

Langkah Kuda Haji Karnawi
Foto: Istimewa

Oleh: Alja Yusnadi

Nama Haji Karnawi (seterusnya saya sebut HK) dalam beberapa hari ini kerap diperbincangkan, minimal di meja kopi. Bukan apa-apa, para penikmat kopi di Aceh Selatan dikejutkan oleh pertemuan HK dengan tokoh masyarakat Labuhanhaji Raya di Jakarta.

Meja kopi, merupakan salah satu episentrum politik. Di meja itu, mulai dari awam, hingga tokoh politik lokal menumpahkan gosip sampai analisis yang mereka punya.

Soal benar-salah, tepat-keliru, itu urusan belakangan. Yang penting, isu masuk dulu.

Kalau Anda hendak menguasai isu politik, maka kuasailah warung kopi. Kirim orang-orang Anda untuk duduk, lalu menghembus isu di meja kopi.

Sebenarnya pertemuan itu biasa saja, silaturahmi tokoh masyarakat sekaligus tokoh politik dengan tokoh masyarakat dan tokoh politik lainnya.

Pertemuan-pertemuan model begini, kalau kita urut berdasarkan waktu pelaksanaan, tidak cukup jari untuk menghitungnya.

Secanggih apapun kemasannya, isinya tetap sosialisasi dan mencari dukungan politik tahap awal. Syukur-syukur dalam pertemuan itu ada deklarasi dukungan.

Tapi, yang membuat publik (termasuk saya) tercengang, karena hajatan itu milik HK.

Siapa HK? Secara personal, saya tidak mengenalnya. Yang saya tahu, dialah pemilik sekolah swasta Al-Munjiya. Sekolah boarding di Labuhanhaji Barat yang telah mencetak penghafal Quran.

Selebihnya, saya mengenal HK sebagai pengusaha yang lumayan sukses di Jakarta.

Walau terbilang sukses di perantauan, HK tidak pernah melupakan kampung halaman, termasuk saat Pilkada.

Dalam dua kali keikutsertaannya, HK mencatat kemenangan berturut-turut dengan mendukung calon yang berbeda.

Pilkada 2013, HK mendukung T. Sama Indra - Kamarsyah. Pilkada 2018, HK beralih mendukung Azwir - Amran. Padahal, pada waktu bersamaan, T. Sama Indra juga maju kembali yang berpasangan dengan Harmaini.

Sampai disini, langkah politik HK sudah mulai diagonal. Entah karena apa, HK pada saat itu juga tidak mendukung Mirwan yang notabenenya putra Labuhanhaji.

Singkatnya, dalam menentukan dukungan politik, hitungan HK tepat.

***

Kembali ke hajatan HK yang di selenggarakan di salah satu hotel di Jakarta baru-baru ini. Menarik perhatian karena beberapa hal:

Pertama, HK adalah salah satu penyokong utama Azwir-Amran pada pilkada 2018. Kedua, Amran sedang dalam posisi mencari wakil. Ketiga, pemerintah yang didukungnya itu belum genap berusia dua tahun.

Setidaknya, tiga alasan itulah yang membuat publik heboh dengan pertemuan HK itu.

Apa yang dapat kita tangkap dari deklarasi HK sebagai calon Bupati Aceh Selatan periode selanjutnya?

Pertama, Gertak sambal. Begini, sebagai salah satu penyokong utama Azam, saya perkirakan HK sudah mulai tidak nyaman. Bisa saja beberapa komitmen politik tidak berjalan, salah satunya soal Sekda.

Pada saat itu, HK tampil mewakili tokoh Labuhanhaji Raya. Tentu ada pertaruhan kredibilitas di sana. Maka, untuk mengembalikan “nama baik”, HK ingin mengatakan kepada pendukungnya,”Saya saja sudah tidak di situ lagi.”

Gerakan HK itu bisa juga dianggap sinyal yang harus ditangkap oleh penyokong Azam yang lain, termasuk Bupati. Pesannya, “Jika tak segera ditepati, saya akan lari.”

Kedua, Gerakan Perlawanan. Jika komitmen politik yang pernah di bentuk oleh HK dengan Azam tidak dapat diwujudkan, mungkin HK akan melawan.

Perlawanan ini kalau dilakukan secara serius dapat memberikan ancaman bagi incumbent. Dimana, lumbung suara HK merupakan penyumbang suara untuk pasangan Azam. Ini akan mendelegitimasi pemerintah sekarang.

Ketiga, kemunculan HK sebagai salah satu bakal calon Bupati membuat peta politik berubah.

Jika HK tampil dengan kekuatan penuh, sebagaimana digadang-gadangkan oleh orang dekatnya, maka HK bisa menjadi kuda hitam.

Karena, sudah tiga kali Pilkada berlangsung, belum ada kekuatan politik yang berasal dari lumbung suara HK yang menjadi pemenang.

Sejak era Zulkarnaini, Wahyu Wali, hingga Mirwan, langkah politik mereka selalu terganjal, salah satunya adalah karena HK berdiri mendukung kandidat lain.

Sebaliknya, jika HK tidak tampil dengan kecepatan penuh, maka kemunculannya akan merubah peta politik.

Beberapa bakal calon yang sebelum kemunculan HK sudah buat ancang-ancang di Labuhanhaji harus merumuskan ulang.

Sejauh ini, selain HK, sudah ada beberapa nama yang muncul menjadi kontestan pilkada yang akan datang. Mirwan, T. Sama Indra, dan Tgk. Amran. Ketiganya memiliki keterikatan sejarah dengan Labuhanhaji.

Ini memang masih terlalu pagi. Pilkada masih lama. Namun waktu terus berputar. Menarik kita saksikan kelanjutan langkah HK. Apakah langkah kudanya untuk mematikan Raja? Atau sekedar mengurung Mesa? Atau jangan-jangan, langkah kudanya terhenti dimakan pion.

Apakah nasib HK akan sama dengan beberapa pendahulunya? Hanya untuk merecoki meja kopi? Atau akan mencetak sejarah baru: menjadi Bupati sesungguhnya. Itu hanya HK dan Tuhan yang tahu.

Kita hanya bisa menebak berdasarkan langkah HK dalam beberapa bulan ke depan. Jika pertemuan kemarin itu dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan berikutnya, maka besar kemungkinan HK akan masuk ke gelanggang.

Melihat kiprahnya selama ini, terlalu mahal bagi HK untuk mepertaruhkan kredibilitasnya sebagai pengusaha dan tokoh politik untuk sesuatu yang tidak pasti. Tapi, langkah kuda, bisa mundur juga, kan ya?.

Komentar

Loading...