Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Kursi Kosong untuk Terawan

Kursi Kosong untuk Terawan
Foto: Istimewa

Oleh: Alja Yusnadi 

Najwa Shihab, siapa tidak kenal presenter kondang itu. Melalui program Mata Najwa membuat namanya melambung, mencapai langit di dunia jurnalistik.

Walaupun anak dari seorang ulama besar —Qurai Shihab--, namun Najwa lebih dikenal karena karya, kemampuannya dalam urusan jurnalistik, terutama dalam hal tanya-menanya, korek-mengorek.

Sebagai pewawancara, kemampuan Najwa sangat mumpuni, sesekali terlihat seperti intel yang lagi menginterogasi tersangka. Kalau narasumber tidak cukup kuat referensi, saya sarankan tidak usahlah hadir di Mata Najwa, cukup lewat rilis saja.

Mungkin, hal itu juga yang menyebabkan Terawan tidak memenuhi undangan Najwa. Terawan yang saya maksud adalah Terawan Menteri Kesehatan, tepatnya Letjen (Purn) Dr.,dr, Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K).

Sebenarnya bukan tidak mau hadir, karena awal 2020 lalu, Terawan sudah pernah menjadi tamu di Mata Najwa.

Lebih tepatnya belum mau hadir untuk kedua kalinya. Padahal, hampir setiap minggu Mata Najwa mengirim surat. Setidaknya, begitulah penjelasan Najwa perihal ketidak hadiran Terawan.

Lalu, apa yang dapat kita tangkap dari ketidakhadiran itu? Saya melihatnya dari dua sisi. Pertama, sebagai tuan rumah Mata Najwa, Najwa Shihab gagal menghadirkan narasumber. Kedua, sebagai pejabat publik, Terawan gagap.

Najwa telah mengukuhkan diri sebagai pewawancara yang kritis, analitik, berwawasan luas, lugas, tegas.

Pertanyaan-pertanyaan mendarat di ruang interview dari arah yang tak terduga, bisa membuat narasumber terdiam beberapa saat.

Tidak bisa biasa saja menghadapi Najwa. Setidaknya, ada dua gaya yang bisa mengimbangi ketajaman Najwa; berkelakar atau tegas.

Untuk yang pertama, saya melihat ada pada Adian Napitupulu. Dia menjawab Najwa dengan sarkas. Kedua, saya lihat ada pada Luhut Binsar Panjaitan. 

Tentunya, modal pokoknya menguasai masalah, mempunyai bahan. Tidak cukup dengan nyengir saja.

Kalau tidak siap mental, forum interview itu berubah menjadi forum “pembantaian”, tentunya bagi mereka yang tidak siap. Banyak pula yang memanfaatkan panggung itu untuk menunjukkan kelas.

Mungkinkah Terawan takut? Sibuk? Hmmm, apapun alasannya, Terawan belum memenuhi undangan Najwa, sampai akhirnya Mata Najwa mewawancarai bangku kosong. Seolah-olah, Najwa sedang bertanya pada Terawan, walau pada kenyataannya, Najwa bertanya pada kursi.

Apa yang dilkukan Najwa adalah hal baru dalam industri media elektronik. Biasanya, hal seperti itu sering kita temukan dalam media cetak atau media daring. Wartawan menuliskan bahwa narasumber tidak mengangkat telpon atau tidak membalas pesan yang dikirim ke ponselnya. Najwa menampilkan hal baru.

Lalu, kenapa pula Terawan tidak mau datang? Memang tidak ada paksaan. Narasumber boleh saja menolak untuk di wawancarai atau mengutus bawahannya untuk bicara.

Dugaan saya, Terawan tidak berani datang. Bisa saja dia tidak kuat dengan gempuran Najwa, apalagi mantan Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto ini sudah pernah merasakan betapa panasnya kursi tamu Mata Najwa tersebut.

Ditambah lagi, Terawan memang ada masalah dengan komunikasi publik. Sudah beberapa kali purnawirawan Jendral bintang tiga ini “dipersekuisi” karena komentarnya yang tidak memenuhi kaidah publik.

Pun demikian, Terawan adalah pejabat publik. Keterangannya sebagai Menteri Kesehatan sangat dinanti-nantikan, minimal publik mendapat gambaran informasi dari sumber resmi, baik atau buruk. 

Situasi penyebaran Korona sudah memperihatinkan. Pasien positif terus bertambah, tenaga kesehatan tidak terproteksi dengan baik, dan sekelumit masalah lainnya. Hal inilah yang ingin diketahui oleh publik.

Kementrian Kesehatan memang bukan satu-satunya instansi yang bertanggung jawab. Karena, Presiden telah membentuk satuan tugas Covid-19 yang diketuai oleh Kepala BNP Letjen Doni Monardo dan juga menunjuk Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Jendral (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan untuk mempercepat penanganan penyebaran Covid-19 terutama untuk 8 Provinsi prioritas.

Begitupun untuk melayani media, baik Kemenkes maupun satgas Covid-19 sudah memiliki jubir: Ahmad Yurianto dan Reisa Broto Asmoro.

Ahmad Yurianto juga memiliki pengalaman buruk dalam komunikasi publik, salah satunya pernyataan Yurianto mengenai Rumah Sakit yang enggan membuka ke publik status pasien yang sudah terpapar Korona. Hingga akhirnya Terawan melakukan permintaan maaf kepada Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).

Belakangan, situai agak sejuk saat Reisa bergabung menjadi Jubir.

Untuk memberikan informasi yang utuh kepada masyarakat terkait langkah Pemerintah dalam menangani Korona, tidak ada salahnya Terawan mengkonsolidasi informasi dari seluruh sektor, lalu menyampaikan ke publik.

Jika Terawan tidak mampu menyampaikannya sendiri, bisa diajak dr. Reisa untuk mendampingi. Jika Terawan tidak mau menyampaikan ke Mata Najwa, pilih saja kanal yang lain.

Kalau Terawan tidak mau di acara televisi, dapat menggunakan jasa Podcast Dedy Corbuzer yang lagi naik daun. Di sini, Terawan bisa lebih santai.

Apapun medianya, yang jelas, sebagai pejabat publik, Terawan harus menyampaikan informasi penanganan Korona, biar masyarakat tidak tersesat dalam arus informasi yang tidak karuan ini.

Komentar

Loading...