Korupsi, Hari-hari yang Sepi dan Jiwa-Jiwa Mati

Korupsi, Hari-hari yang Sepi dan Jiwa-Jiwa Mati

Oleh: Alja Yusnadi 

Sebuah kereta kuda kecil, yang agak bagus, berpegas baik, beroda empat, dan beratap lipat, melintas memasuki pintu gerbang sebuah penginapan di kota pedalaman N. Ini adalah jenis kereta yang biasa dikendarai para bujangan, pensiunan letnan kolonel, mayor atau tuan tanah yang memiliki kira-kira seratus orang hamba sahaya. Singkatnya, orang-orang yang digambarkan sebagai tuan-tuan berpangkat menengah.

Orang yang ada di dalam kereta itu tidaklah tampan, tetapi tidak pula terlalu buruk muka: ia tidak terlalu gemuk, tidak pula terlalu kurus, ia tidak dapat dikatakan tua, tapi tidak pula terlalu muda.

Kedatangannya di kota itu tidak menimbulkan keramaian besar, dan tidak pula ditandai oleh sesuatu yang luar biasa. Hanya dua orang petani Rusia yang kebetulan sedang berdiri di pintu sebuah kedai minuman di seberang rumah penginapan mengeluarkan pendapatnya. Itupun lebih banyak tentang kereta tersebut daripada tentang tuan yang ada di dalamnya.
***

Cerita itu saya kutip, mentah-mentah dari The Dead Souls, karya Nikolai Vasilievich Gogol, salah satu sastrawan Rusia. Tuan yang dimaksud adalah Pavel Ivanovich Chichikov, seorang anggota Dewan Kolegial, pegawai pemerintah tingkat enam. 

Di kota itu, Chichikov mengunjungi banyak pejabat lokal, mulai dari Gubernur, Wakil Gubernur, Kepala Kepolisian, Penuntut Umum, dan pejabat lainnya.

Situasi hampir sama terjadi di Aceh selama beberapa hari terakhir. Hanya saja, yang datang bukan pejabat rendah seperti Chichikov. Melainkan, pejabat dari lembaga yang tinggi sekali keberadaanya, lembaga yang besar sekali kewenangannya. Lembaga yang telah menangkapi beratus orang Kepala Daerah, anggota DPR, anggota DPRD, Menteri, pengusaha, penguasa.

Mereka adalah para pejabat KPK. Tidak ada informasi yang pasti berapa orang pejabat anti rasuah itu dan sudah berapa lama “Ngendap” di Aceh. Kehadiran mereka mirip dengan kehadiran Chicikov, tidak ada penyambutan, tidak ada pesta. 

Bedanya, Chichikov menghadiri berbagai macam jamuan di tempat yang berbeda. Pejabat KPK keberadaannya tidak boleh terendus, termasuk oleh media. Mereka “bersembunyi” di gedung BPKP, dari situlah beberapa pejabat pemerintah di periksa.

Jagad per-sosmed-an ramai dengan prediksi, lebih tepat harapan agar beberapa orang pejabat Aceh yang sudah dipanggil KPK segera ditahan. Harapannya ini, baik untuk menangkap orang yang korupsi, tapi tidak untuk mengurangi jumlah tukang korupsi.

Sejak 2003, sampai 2021, hitung saja sudah berapa tahun keberadaan KPK, sudah berapa jilid pula komisionernya, entah sudah berapa kasus pula yang sudah ditangani. Sepertinya, pelaku kejahatan luar biasa itu juga tidak berkurang, hanya mengganti pemain saja. Ditangkap si A, muncul si B, dibenam pejabat di lembaga C, muncul pejabat di lembaga D, dan seterusnya, sampai kapan? Itu yang tidak pernah dijelaskan. Mungkin saja sampai jiwa-jiwa itu mati.

Kali ini, dari nama-nama yang dipanggil pejabat KPK itu, bisa ditebak kasus apa yang lagi mereka endus di Aceh. Sepertinya berkaitan dengan pengadaan kapal Aceh Hebat dan proyek Multi Years.

Ya, kedua program itu menjadi andalan Pemerintah Aceh di bawah kendali Gubernur Nova. Kedua program itu pula yang saya prediksi akan menjadi legacy bagi Nova di sisa masa jabatannya.

Bayangkan, dengan kapal Aceh Hebat itu, bisa menghubungkan Aceh daratan dengan Aceh kepulauan. Dengan proyek multi years itu bisa menghubungkan Aceh perkotaan dengan Aceh pedalaman. Salah satu ruasnya itu menghubungkan Aceh Selatan dengan Singkil. 

Betapa malangnya nasib para pejabat yang sudah dipanggil itu. sepertinya, semakin hari, semakin banyak yang tidak bisa tidur nyenyak. Kita belum tahu, kerugian negara semacam apa yang ditimbulkan, apakah harga yang melambung? Adanya bagi-bagi komisi? Memperkaya diri sendiri? Atau memperkaya orang lain.

Dalam beberapa hari ini, menjadi hari yang sunyi, sepi bagi Gubernur Nova. Situasi makin tidak menguntungkan di saat Bustami Hamzah, Kepala Badan Pengelola Keuangan Aceh memilih mundur.

Pada saat yang hampir bersamaan, Bustami merupakan salah satu yang dipanggil KPK. Padahal, Chichikov pun tahu, Bustami adalah salah satu orang kepercayaan Gubernur Nova.

Badan Keuangan itu adalah kunci. Kunci APBA, semacam urat nadinya Pemerintah Aceh. Jika badan ini berhenti berdetak, putuslah suplai “darah” ke seluruh tubuh SKPA.

Bisa jadi, Gubernur Nova mulai ditinggal oleh pengikutnya. Pemandangan seperti ini tidak aneh. Banyak orang yang diperankan dalam berbagai adegan dan naskah, akan berkhianat di ujung cerita. Konon lagi, ketika berurusan dengan KPK.

Yang lagi dirundung duka bukan hanya eksekutif. Di ujung Daud Beureueh, beberapa orang anggota DPRA terkait kasus pemotongan beasiswa juga mulai tidak enak badan.

Polda Aceh sudah mendapat izin dari Mendagri untuk memeriksa beberapa anggota DPRA itu. Bukan tidak mungkin, status hukumnya akan berubah, sejurus dengan penemuan bukti-bukti baru.

Memang, ada adigium begini: Menjadi pemimpin itu satu kaki sudah di neraka. Satu tangan sudah di KPK. Nyata memang begitu. Salah administrasi juga masuk ke dalam definisi korupsi. Apalagi, kalau memang sengaja memperkaya diri. 

Sejarah Aceh juga sudah mencatat, dua orang Gubernurnya sudah pernah berurusan dengan KPK. Abdulalah Puteh, terseret pengadaan Heli Kopter, itu di masa awal KPK, 2003. Irwandi Yusuf, terjerat dengan kasus pengutipan fee proyek Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA).

Kalau boleh kita berharap, cukup sudah. Jangan ada lagi yang menghuni jeruji besi perihal korupsi ini. Penegak hukum harus mensupervisi setiap pengadaan proyek yang berpotensi ada masalah, diawal. Jangan menguntit, membiarkan, lalu di garis finis menangkap.

Chichikov berkeliling kampung untuk “membeli” Jiwa-jiwa mati. Membeli daftar petani yang sudah mati. Andai saja Chichikov melanjutkan perjalanannya ke sini, dia akan menemukan banyak sekali.

Jiwa-jiwa yang sudah kering kerontang  itu, entah di sekitar penegak hukum, birokrat, politisi, akademisi, pengusaha, penguasa, mungkin juga di bilik-bilik yang selama ini dianggap suci.

Kereta kuda terus melaju, mungkin sampai Chichikov menyusul Nikolai Gogol, menemukan tempat keabadiannya.

Oiya, saya akan menuntaskan bacaan novel yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia itu, dengan judul: Jiwa-Jiwa Mati, yang ceritanya berkelok, panjang, dan memukau itu.

Iklan Bank Aceh Idul Adha 1442

Komentar

Loading...