Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Kisruh Rencana Mataqu Dijadikan Ruang Pinere Covid-19, Manajemen Dayah Lakukan Pertemuan dengan Pemko Lhokseumawe  

Kisruh Rencana Mataqu Dijadikan Ruang Pinere Covid-19, Manajemen Dayah Lakukan Pertemuan dengan Pemko Lhokseumawe  
Manajemen Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) saat sedang melakukan pertemuan dengan pihak Pemko Lhokseumawe dan DPRK (Foto: Sirajul Munir/anteroaceh.com)

LHOKSEUMAWE, ANTEROACEH.com - Manajemen Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) telah melakukan pertemuan dengan pihak Pemko Lhokseumawe dan DPRK setempat soal rencana pengalihan komplek dayah untuk ruang rawat Pinere di aula dayah di komplek perumahan Perta Arun Gas , Batuphat, Kecamatan Muara Satu, pada Rabu lalu.

Pertemuan itu dihadiri pimpinan Mataqu Ustadz Azhar Ibrahim SQ, Mudir Mataqu Ustadz Zakaria, Kepala Bappeda Lhokseumawe Salahuddin, anggota  Komisi D DPRK Lhokseumawe Abdul Hakim, perwakilan RSU Arun,  Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) perwakilan Aceh, perwakilan PAG dan  para wali santri.

Berdasarkan rilis yang diterima anteroaceh.com, Jumat (25/9/2020) dalam pertemuan sore ba’da Ashar tersebut, Kepala Bappeda Salahuddin menyampaikan rencana alih fungsi  gedung Mataqu  menjadi Ruang Rawat PINERE Pasien Covid-19 didasari instruksi Gubernur yang harus disahuti Pemko akibat meningkanya pasien Covid-19. Kemudian lokasinya berdekatan dengan RSU Arun.

Sebagai gantinya, ungkap Salahuddin, Pemko menawarkan Mataqu untuk menempati  gedung eks  Maintenance Service Arun yang berdekatan dengan gedung Mataqu saat ini, hanya berjarak 10 meter.

Kemudian pernyataan kepala Bappeda tersebut disahuti dengan penjelasan dari Mudir Ma’had Mataqu Ustadz Zakaria Yahya. Beliau menjelaskan kronologi alih guna gedung eks Arun itu untuk kegiatan pendidikan Tahfiz Dayah Mataqu sebelum RSU Arun PDPL berencana untuk membangun ruang Pinere.

Kemudian pada sesi diskusi wali santri  mendesak Pemko  mengeluarkan kebijakan yang lebih arif tanpa mengusik pendidikan Dayah Mataqu , karena rencana tersebut mengganggu  santri yang keseharian mondok untuk menghafal Alquran, soalnya disisi lain mereka menilai keberadaan ruang Pinere juga dianggap penting.Kondisi itu  melukai dan menciderai rasa keadilan bagi wali santri 

“Pemerintah peduli terhadap kesehatan kita dukung, tapi tidak juga menafikan dan mengorbankan pendidikan santri Mataqu. Sementara untuk pindah ke bangunan dayah Mataqu di Alue Lim, juga belum bisa karena kapasitas gedung disana tidak mampu menampung 460 santri plus tenaga pendidik untuk mondok,” kata seorang wali santri.

Kebijakan Pemko Jangan Jadi Pengundang Bala 

Dalam sesi diskusi itu para wali santri juga mengingatkan, bahwa rencana Pemko tersebut telah mengusik santri penghafal Alquran, yang disebut dalam hadist Rasulullah sebagai keluarga Allah di bumi.

“Di satu sisi kita ingin berikhtiar menangani pandemi Covid-19, disisi lain kami khawatir kebijakan Pemko yang kurang arif menjadi pengundang bala Allah, karena mengusik santri yang sedang menghafal Quran, oleh sebab itu kami berharap Pemko punya empati menyelesaika masalah ini,”  sebut Setia Budi, wali santri.

Selanjutnya seorang wali santri yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan yakni dr Jerry Indrawan Sp.OG menilai tawaran kepada Mataqu agar memakai gedung eks Maintenance Servis Arun, bertentangan dengan  Buku Pedoman Teknis Bangunan dan Prasarana Ruang Isolasi Penyakit Infeksi  Emerging (PIE) yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun   2020. Karena jarak dengan rencana ruang Pinere hanya 10 meter 

Berdasarkan buku pedoman itu  disebutkan bahwa persyaratan teknis bangunan ruang isolasi harus memenuhi syarat  bangunan yang sudah mengantisipasi kemungkinan 3 trasmisi/penularan yaitu melalui kontak ( contact ), percikan ( droplet) dan udara ( airborne).

“Anak-anak kita pasti punya rasa ingin tahu yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya apalagi bila mereka melihat petugas medis mengunakan APD seperti angkasawan  dan bersentuhan  limbah kesehatan, ini bisa membahayakan peserta didik di Mataqu,” ungkap wali santri yang bertugas di RSUD Cut Meutia tersebut.

Ia juga menambahkan, sedianya untuk ruang Pinere  pemerintah bisa membangun di rumah sakit sesuai dengan Buku Pedoman tehnis dan Prasarana Isolasi   seperti yang dilakukan daerah lain dan anggarannya itu tersedia . berdasarkan pantauannya dan wali santri , di komplek RSU Arun PDPL masih tersedia lokasi untuk ruang Pinere.

Sementara itu perwakilan PAG mengaku keberatan dengan rencana Pemko tersebut dan sangat mendukung aset eks SMP 1 Arun itu dipertahankan untuk Dayah Mataqu. Bahkan PAG siap membantu dana CSR untuk memenuhi kebutuhan air, listrik demi kelancaran kegiatan belajar santri dayah. Apalagi selama ini para Ustadz dan santri sangat berkontribusi memakmurkan masjid Istiqamah Arun.

Pada akhir pertemuan perwakilan Pemko Kota Lhokseumawe meminta  maaf kepada wali santri dan berjanji akan berkomunikasi kembali dengan  pimpinan, dan akan menyampaikan semua aspirasi yang telah disampaikan manjemen Mataqu dan Wali santri. 

Pemko Lhokseumawe berkomitment untuk mendukung kegiatan lembaga Pemdidikan apalagi Dayah Mataqu yang pada sejumlah kesempatan santri dan stariwatinya ikut mengharumkan nama Kota Lhokseumawe baik tingkat daerah maupun nasional 

Kemudian anggota Komisi D DPRK  Lhoksuemwe , Abdul Hakim mengatakan pihaknya  berkomitmen untuk terus membangun komunikasi dengan para pihak sehingga solusi untuk kepentingan pendidikan dan kesehatan dapat terlaksana tanpa mencederai dan mengusik roda pendidikan di Dayah Mataqu.

“Kami dari komisi D akan berupaya dan membangun komunikasi dengan pihak eksekutif agar pendidikan anak-anak di Mataqu tetap berjalan dengan baik,” kata  Abdul Hakim didampingi di  Ustadz  Abdurrahman yusuf sekretaris komisi   D DPRK  Lhokseumawe. 

Pertemuan ditutup oleh pimpinan Mataqu  Ustadz Azhar Ibrahim dengan harapan  ada solusi yang terbaik dalam menyelesaikan masalah itu dan mendapatkan keberkahan dari Allah.

Komentar

Loading...