Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Kisah Pilu Rohingya Kabur dari Kem Banglades dan Menjadi Korban Perdagangan Manusia

Kisah Pilu Rohingya Kabur dari Kem Banglades dan Menjadi Korban Perdagangan Manusia
Anak anak rohingya di kem kantor imigrasi di Bayu Aceh Utara

LHOKSEUMAWE, ANTEROACEH.com - Penindasan terhadap Rohingy terus terjadi, tidak hanya oleh junta militer Myanmar, otoritas negara yang menjadi migrasi mereka juga banyak menolak dengan berbagai alasan. Termasuk Banglades, yang telah menampung 1,1 juta pengungsi dari Rakhine itu.

Sejak konflik, Rohingya juga ditindas dan menjadi sasaran perdagangan manusia oleh sekelompok orang tidak bertanggungjawab. Seperti yang terungkap saat anteroaceh.com mewawancara pengungsi Rohingya di bekas Kantor Imigrasi Lhokseumawe di Bayu, Aceh Utara, Kamis (2/7/2020).

Ada 99 pengungsi saat ini berada di shelter sementara itu. Mereka diselamatkan nelayan Aceh di Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara pada 24 Juni lalu setelah sempat terombang ambing di dekat pantai karena sempat ditolak pemerintah setempat.

Sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak dibawah umur . Bahkan ada bayi yang masih berumur satu tahun. Mereka mengaku kabur dari Kem Teknaf, Banglades pada akhir Februari 2020 lalu. Berada di lautan selama 4 bulan, hingga pada 23 Juni dinihari, mereka ditemukan oleh nelayan Aceh, atau 80 mil dari pesisir pantai Seunuddon, Aceh Utara pada 23 Juni. Setelah itu dievakuasi ke Lancok.

Seperti kisah Muhammad Yunus (23), ia bersama istri dan dua saudara kandung terpaksa ikut dalam rombongan migrasi itu karena kehidupan di Kem UNHCR di Banglades tidak layak. Tidak bisa mendapatkan pekerjaan dan uang untuk menghidupi keluarga. Ia menyasar Negara Malaysia , karena sebelumnya pernah tinggal dan bekerja disana tahun 2012.

Pemuda yang mampu berbahasa melayu itu mengaku berasal dari Desa Ali Tanjung, di Distrik Muangdaw di negara bagian Rakhine. Tahun 2017 saat konflik etnis besar-besaran terjadi, desanya mendapat serangan dari militer Myanmar dan kelompok orang-orang dengan ikatan kain merah di kepala. Rumah, kios dan tempat milik etnisnya dibakar.

Orang-orang yang dianggap pembangkang dan menolak untuk lari dikumpulkan, terutama pria dewasa dan orang tua. Ada yang disiksa, ada yang ditembak dan sebagian besar dilepas setelah dianiaya. Iapun, terpaksa mengungsi dengan ratusan ribu orang lainnya dengan menyeberangi sungai Naf. Sungai yang berbatasan langsung dengan wilayah Banglades.

“Kami diusir oleh orang-orang bersenjata hingga ke dekat sungai, kami seberang ke Banglades. Ada yang tenggelam, yang sakit kami tinggalkan . saya dan keluarga selamat sampai kesana. Kami dibantu UN (UNHCR) disana,” kata Muhammad Yunus dengan bahasa Melayu terbata-bata.

Diakhir Februari lalu, ia dan warga lain ditawarkan pergi ke Malaysia via laut oleh sekelompok orang asal Myanmar yang disebut Buddhis. Kelompok yang disebut Yunus seperti kelompok yang diberi izin dari otoritas Myanmar untuk mengusir Rohingya dari Rakhine.

Yunus bersama pengungsi lain diangkut dengan Kapal kayu setara 30 Gross Tonnage (GT), berangkat dari kawasan pantai dekat muara Naf, namun masih berada di wilayah Myanmar. didalam kapal sudah ada sembilang orang Buddhis yang menjaga mereka. Mengatur makan dan minum selama perjalanan. Sebenarnya banyak yang ingin pergi, namun hanya 112 orang yang tertampung. Mereka dikenakan ongkos, bayar diawal 50 persen, setelah sampai di Malaysia dari jalur haram, baru bayar lunas.

“Semuanya 112 orang, 13 orang meninggal dunia di tengah laut. Ada 1 bayi berumur 2 tahun, namanya Muhammad Roshid. Dia sakit dan meninggal karena tidak cukup makanan, tidak ada susu dan hanya sedikit air di kapal. ibunya tidak bisa berbuat banyak , karena semua dijatah Buddhis,” cerita Yunus dengan dana sedih.

Tidak hanya itu, selama di kapal para Buddis memperlakukan mereka seperti hewan, dianiaya bila dianggap tidak patuh, bahkan anak-anak yang menangis dan terlalu ribut di atas kapal ikut dipukul dengan kayu.

Dijelaskan juga, 9 penjaga kapal Myanmar itu meninggalkan mereka setelah diketahui kapal rusak, beberapa hari sampai akhirnya boat yang mereka tumpangi masuk ke wilayah Aceh. “Mereka pergi naik kapal lain, saya tidak tahu kemana,” ungkap Yunus.

Yusuf (37), rekan Muhammad Yunus mengaku ibu jari tangan kirinya nyaris putus setelah dihantam parang oleh penjaga saat diatas kapal. Ia tidak bercerita lebih detail alasan pelaku menganiayanya. Karena Yusuf memang tidak bisa berbahasa Melayu dengan baik.

“Ini, ini putus dengan besi tajam,” sebut Yusuf sambil menunjukkan ibu jari yang telah dibuka perban. Kemudian ia menggerak kedua tangan seperti gaya memukul ke arah kaki, bahu dan kepala. Sebagai isyarat, ia mendapat pukulan dengan kayu di kaki, bahu dan di kepala.

Cerita Ziaburrahman (45) tak kalah sedih. Perjalanan di laut hingga terdampar di Aceh membuat dirinya kehilangan saudara perempuan. Rhiena Begum (28), wanita bertubuh tambun itu meninggal dunia diatas kapal, karena dehidrasi, kekurangan makanan dan tidak bisa bergerak leluasa, ia berdesakan dengan pengungsi lain.

“Rheina Begum tidak bisa bergerak, susah berjalan. Dia sakit perut dan kekurangan makanan. Dia tidak bisa antri ke toilet kapal. dia meninggal dunia diatas kapal. setelah shalat jenazah, Rheina dibuang ke laut oleh penjaga kapal,” kata pria yang juga berasal dari Muangdaw.

Rahman juga bisa berbahasa melayu, karena pernah bekerja di Malaysia beberapa tahun lalu hingga dideportasi kembali ke Myanmar setelah terjaring razia imigran gelap. ia memiliki 5 anak dan seorang istri. Mereka ditinggalkan di kem Teknaf.

“Tujuan kami ke Malaysia, saya ingin bekerja dan mendapatkan uang. Di kem tidak bisa bekerja, Banglades tidak membolehkan kami bekerja disana,” kata Rahman.

Terkait jumlah pengungsi yang meninggal dunia, sedikit berbeda dengan jumlah yang disebutkan Yunus. Rahman mengatakan ada 15 orang yang tewas selama perjalanan boat, karena kekurangan makanan. Ada beberapa anak-anak dan wanita.

“Semuanya dibuang ke laut, tidak ada daratan yang bisa kami singgah, karena penjaga kapal kejam,” sebut Rahman. Selama konflik di Rakhine, beberapa saudara kandungnya ikut tewas akibat operasi militer.

“Kami tidak ingin kembali ke Myanmar atau ke Banglades, lebih kami mati di laut daripada kembali kesana,” pungkasnya.

Kabar terkini, 99 imigran Rohingya masih berada di Shelter sementara di bekas kantor Imigrasi, Lhokseumawe, Syamtalira Bayu, Aceh Utara. Rencananya, pada Senin ini, mereka akan dipindahkan ke Shelter baru di gedung BLK milik Aceh Utara di Gampong Mee Kandang, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe.

Komentar

Loading...