Kemewahan yang Terusik

Kemewahan yang Terusik

HARI ini, Mesjid Agung Abdya telah berdiri kokoh, kalau kita lihat sepanjang Barat-Selatan Aceh, masjid yang diberi nama Baitul Gahfur telah menjadi salah satu ikon baru. Selain tempat shalat, dipekarangan masjid juga dimanfaatkan sebagai komplek perkantoran yang mengurus keistimewaan Aceh; Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah, Baitul Mal dan Majlis Permusyawaratan Ulama (MPU).

Kemewahan dan kegagahan tersebut sedikit terusik gegara plafon masjid yang baru saja selesai dibangun empat bulan lalu itu ambruk. Ya, ini adalah tamparan keras. Bagaimana bisa baru empat bulan selesai dibangun, plafon sudah ambruk dan beberapa bagian keramik lantai retak bahkan pecah.

Melihat peristiwa ini Dewan dan Bupati kompak, mereka yang berada di legislatif dan eksekutif seakan seirama untuk melakukan pendalaman atas siapa yang betanggung jawab atas buruknya kualitas bangunan tersebut.

Akmal Ibrahim, selaku Bupati memerintah jajarannya untuk mengusut tuntas soal plafon masjid Agung tersebut.

“Ini mesti ada investigasi yang dalam agar jelas siapa penanggungjawabnya,” ucap Akmal.

Dinas Perumahan dan Pemukiman langsung disuruh untuk melakukan investigasi. Akmal juga menyarankan agar DPRK Abdya juga melakukan telaah, apakah Dinas Perkim Abdya yang bertanggunhjawab atau Dinas Perkim Aceh, biar enak diajak kerjasama.

Sementara itu Dewan saat melakukan kunjungan ke masjid agung telah menagtakan akan membentul tim pansus untuk mendalami pembangunan masjid megah itu.

”DPRK Abdya akan membentuk pansus untuk mengecek pembangunan masjid Agung Baitul Ghafur,” Ungkap Ikhsan Jufri, Ketua Komisi D.

Siapapun yang memiliki kewenangan terhadap pengawasan, baik DPRK Abdya maupun DPRA, publik berharap ada yang bertanggungjawab terhadap ambruknya plafon masjid, apalagi jika pembangunan tersebut masih dalam masa pemeliharaan. Lebih baik lagi, tanpa harus melalui penyelidikan wakil rakyat, pihak kontraktor pelaksana dengan arif dan bijak dapat memperbaikinya. Semoga saja kemawan itu tidak terusik dengan ada kekurangan-kekurangan kecil disudut bangunan.

Masjid mewah itu memang menjadi cita-cita besar Akmal tak salah dia ingin yang terbaik untuk masjid itu.

Jika dirunut pembangunan masjid ini dimulai pada masa kepemimpinan Bupati Akmal Ibrahim periode pertama (2007-2012). Pada saat itu, dimulai dengan pembebabasan tanah, pembangunan  pondasi, diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp. 23 milyar, secara bertahap, sejak tahun 2010 hingga 2012 yang bersumber dari APBK dan APBA.

Pembangunan terhenti setelah Bupati Abdya tidak lagi dijabat oleh Akmal. Tapak yang sudah dibangun terbengkalai kurang lebih sekitar 6 tahun. Pernah, tahun 2016, DPRK Abdya menganggarkan sekitar 10 milyar, namun terkendala, tidak dapat dicairkan. Jadilah, serupa bangunan terbengkalai.

Setelah Akmal Ibrahim kembali memimpin Abdya untuk periode 2017-2022, pembangunan masjid Agung kembali dilanjutkan. Tidak tanggung-tanggung, akmal mengusulkan dana otsus sekitar 53 miliar. Pada tahun 2018, Akmal mengusulkan anggaran sebesar Rp. 25 miliar untuk kelanjutan pembangunan masjid dan tahun 2019 sebesar Rp. 28 miliar untuk penyelesaian pembangunan, seperti fisik mesjid, tempat wudhu, saluran air, taman, dan sejumlah item lain, termasuk plafon.

Dalam perjalanannya, pada tahun 2019 pekerjaan bernilai kontrak sekitar Rp. 20 miliar dan lanjutan pembangunan masjid ini dibawah tanggungjawab Dinas Perumahan dan pemukiman provinsi Aceh.

Komentar

Loading...