Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Keluarga Korban Pencabulan Santri di Lhokseumawe Minta Hakim Vonis Tgk Ali Imran Sesuai Tuntutan Jaksa

Keluarga Korban Pencabulan Santri di Lhokseumawe Minta Hakim Vonis Tgk Ali Imran Sesuai Tuntutan Jaksa
Foto: Pelaku pencabulan dan pelecehan seksual santri Ponpes An-Nahla Lhokseumawe saat di Mapolres Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE, ANTEROACEH.com - Keluarga santri korban pencabulan mendesak hakim Mahkamah Syariah Lhokseumawe agar menjatuhkan hukuman setimpal terhadap terdakwa Tgk Ali Imran bekas Pimpinan Ponpes An-Nahla dan guru Miyardi dalam sidang vonis nanti. Atau menjatuhkan hukuman sesuai dengan tuntutan jaksa.

“Dia (terdakwa-red) harus mendapatkan hukuman setimpal dengan perbuatannya, minimal vonis nanti sesuai dengan tuntutan jaksa, kami memohon majelis hakim mempertimbangkan kondisi anak-anak kami dan masa depan mereka setelah kejadian biadab itu,” terang salah satu ayah korban kepada anteroaceh.com, Selasa (14/1/2020).

Pria tersebut menjelaskan, vonis hakim nantinya harus berpihak terhadap rasa keadilan korban dan keluarganya. Apalagi, saat ini para korban masih mengalami trauma psikis yang luarbiasa dan pihak keluarga masih terus berupaya agar kejadian memalukan itu tidak merusak masa depan korban.

“Perbuatan terdakwa dan oknum guru itu sudah merusak citra dayah dan tempat pendidikan Islam di Aceh dan itu juga harus menjadi pertimbangan serius majelis hakim. Bila terdakwa mendapat hukuman setimpal, maka akan jadi pelajaran bagi yang lain dimanapun dan kapanpun,” jelas keluarga korban itu.

Hal sama juga diungkap, keluarga korban lainnya. Bahkan keluarga korban ini berharap Vonis hakim bertambah tidak hanya sebatas , penjara saja. “Kami sekeluarga sangat yakin hakim akan menjatuhkan hukuman yang berat terhadap kedua terdakwa, termasuk menambah hukumam cambuk di depan umum, selain hukuman penjara,” terangnya.

Informasi lain, hari ini, Mahkamah Syariah menggelar sidang perkara dugaan pencabulan santri Ponpes An-Nahla dengan agenda mendengarkan tanggapan JPU atas pledoi terdakwa (replik).

Sebelumnya dalam sidang Kamis 26 Desember 2019 lalu, JPU dari Kejaksaan Negeri Lhokseumawe menuntut terdakwa Tgk Ali Imran dengan hukuman Uqubat Ta’zir penjara 200 bulan dikurangi masa tahanan dan Uqubat Ta’zir tambahan berupa pencabutan izin dan pencabutan hak untuk mengajar pada Lembaga Pendidikan Dayah selama 224 bulan.

Sebagaimana dakwaan primair Pasal 50 Qanun Aceh Nomor 6 tahun 2014 tentang hukum Jinayat, jo Pasal 65 ayat (1) KUHP
JPU Fakrillah SH juga menuntut bekas ketua yayasan An-Nahla itu untuk membayar Uqubat Restitusi dalam bentuk emas murni untuk korban MR,TM dan ML masing-masing 187,5 gram dan untuk korban R sebanyak 93.75 gram.

Sedangkan dalam berkas berbeda, untuk terdakwa guru Miyardi, JPU menuntut dijatuhkan hukuman Uqubat Ta’zir yakni 170 bulan penjara dan membayar 93,75 gram emas murni untuk korban R.

Untuk diketahui, Tgk Ali Imran dan guru Miyardi ditetapkan sebagai tersangka perkara pencabulan anak dibawah umur oleh Polisi pada 17 Juli 2019 lalu.dari belasan korban, polisi hanya menerima 5 laporan dari 5 santri Ponpes An-Nahla yang menjadi korban aksi bejad keduanya.

Saat itu penyidik menerangkan , korban semuanya masih dibawah umur dan mengalami pelecehan seksual dalam bentuk oral seks.

Komentar

Loading...