Kadin Aceh Tolak Segala Bentuk Pungutan BSI 

Kadin Aceh Tolak Segala Bentuk Pungutan BSI 
Plt. Ketua Kadin Aceh Muhammad Mada atau Cek Mada

BANDA ACEH, ANTEROACEH.com - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Provinsi Aceh menolak penuh apapun bentuk pungutan yang dibebankan kepada nasabah saat melakukan proses migrasi ke Bank Syariah Indonesia (BSI). 

"Kadin Aceh keberatan kalau memang benar ada pungutan sebesar Rp. 50 ribu dalam bentuk apapun. Kalau memang ada potongan harus dikembalikan jangan hanya diberitahukan ke nasabah. Pokoknya Kadin tolak penuh tanpa harus ada kompromi," ucap Plt Ketua Umum Kadin Aceh, Muhammad Mada saat dihubungi anteroaceh.com, Rabu (9/6/2021). 

Walaupun pihak BSI mengatakan hal tersebut sebagai saldo minimun nasabah, Cek Mada tetap menilai hal tersebut tidak adil untuk para nasabah karena tidak ditampilkan. 

"Artinya kalau memang itu saldo minimum mereka katakan, tetap mereka wajib tampilkan di buku ataupun di saldo ATM. Jangan terkesan seperti ada sesuatu," tegasnya. 

Kadin juga menilai tidak perlu mengumpulkan massa sebanyak itu dengan menetapkan jadwal migrasi apalagi di masa pandemi Covid-19 saat ini. Padahal sebutnya kenapa tidak dilakukan migrasi saat nasabah ingin melakukan transaksi ke bank. 

Karena sebelumnya, sebut Kadin hal serupa pernah terjadi saat nasabah bank konvensional beralih ke bank syariah dan saat ini hal serupa kembali terjadi sehingga kesannya pihak bank tidak professional dan dinilai hanya memaksakan kehendak mereka saja. 

"Karena catatannya kita tidak mau Masyarakat Aceh dikorbankan. Karena dulu saat buat ke BRI Syariah kan sudah dipotong. Ini ketika mereka semua digabungkan menjadi syariah penuh nasabah harus bayar lagi," tuturnya 

Menurutnya, pihak bank saat ini harus berlaku adil dan jangan memanfaatkan situasi penerapan Qanun Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) 

"Pokoknya kita harus menjaga masyarakat kita jangan lagi pandemi seperti ini harus dikumpullan orang dan juga masyarakat lagi susah malaj dibebankan lagi," pungkas Plt Ketua Umum Kadin Aceh, Muhammad Mada.

Komentar

Loading...