Update COVID-19 Aceh

0 ODP
0 PDP
0 Positif
0 Meninggal
0 Sembuh

-

Sumber: -

Juni, Dalam Takdir Bung Karno dan Hasan Tiro

Juni, Dalam Takdir Bung Karno dan Hasan Tiro

Oleh : Alja Yusnadi

Bagi Sukarnois dan Tiroisme, tunggu dulu. Saya tidak membandingkan tokoh kebanggaan anda dari satu sudut pandang, tok. Sukarnois, adalah pengikut pemikiran-ajaran Bung Karno. Tiroisme, saya gunakan untuk menyebut pengikut pemikiran Hasan Tiro. Istilah ini, juga sudah sering digunakan oleh beberapa penulis di Aceh.

Tidak perlu menjadi PNI dulu untuk disebut Sukarnois dan tidak perlu menjadi GAM atau PA baru disebut Tiroisme. Keduanya adalah pergulatan pemikiran. Untung-untungan jika dapat diterapkan. Jadi, siapa saja bebas mengulik pemikiran kedua tokoh itu. Bahkan, untuk tidak setuju sekalipun.

Bung Karno, melalui pergerakan dan pemikirannya menjadi referensi kuat bagi Nasionalisme Indonesia. Sebaliknya, Hasan Tiro meletakkan kepentingan Ke-Acehan untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah Indonesia.

Sekilas, pertentangan keduanya tak bisa dielakkan. Mungkin, ini juga yang menyebabkan pengagum Bung Karno tidak hadir dalam diri yang sama sebagai pengagum Hasan Tiro.

Jika Bung Karno pada 17 Agustus 1945 menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia, maka Hasan Tiro adalah Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pada 4 Desember 1976, di pegunungan Halimon, dia menyatakan perlawanan terhadap pemerintah.

Sejak saat itu, gerakan perlawanan lahir di Aceh. Itu memang bukan yang pertama. Semoga saja menjadi yang terakhir. Hasan Tiro menghabiskan sebagian besar umurnya untuk memperjuangkan Aceh Merdeka. 

Sejak deklarasi itu, Hasan Tiro menjadi orang yang paling diburu oleh serdadu. Hal itu juga yang menghantarkannya ke beberapa negara Eropa untuk  mencari suaka. Dari pengasingan, Hasan Tiro dikontruksi menjadi simbol perjuangan Aceh dalam melawan pemerintah.

Dalam propaga GAM, Hasan Tiro disebut sebagai Wali Nanggroe. Ketika Aceh damai, Wali Nanggroe menjadi bahagian pemerintahan, diluar kekuasaan eksekutif dan legislatif. Dan, Jadilah Hasan Tiro sebagai  Wali Nanggroe pertama. Tidak ada di provinsi lain.

Sebagaimana Bung Karno dimasa orde lama, Hasan Tiro menjadi penyulut semangat bagi pasukan GAM ketika Aceh konflik bersenjata. Disaat kepulangannya pertama ke Aceh, Hasan Tiro disambut banyak orang, layaknya pejuang. 

Sedikit berbeda, Bung Karno di penguhujung hayatnya menjadi tahanan rumah. Di tahan di Wisma Yaso, Jakarta. Pergerakannya di batasi. Orde Baru mencurigai setiap gerik-geriknya.

Sampai-sampai, pemerintah juga mengatur lokasi pemakaman. Bagaimana karisma sang proklamator, rezim pada saat itu takut jika Sukarnois menggunakan momentum itu untuk melawan pemerintah. Padahal, Bung Karno sempat menitip pesan agar dikebumikan di sekitar Istana Bogor.

Ketakutan itu bukan tanpa alasan. Sebagai pemikir dan orator ulung, Bung Karno memiliki pengikut setia. Kaum Marhaen siap berjuang untuknya. Tapi, dalam sebuah kesempatan, seorang ajudan bertanya, kenapa pemimpin revolusi itu tidak melawan? Baginya, persatuan bangsa adalah yang utama, Tidak boleh ada korban jiwa. Suatu saat kebenaran akan terungkap.

Dari beberapa persamaan, salah satu yang paling berkesan bagi pengikut keduanya adalah bulan Juni. Bagi Bung Karno, ada tiga peristiwa penting dalam sejarah hidupnya terjadi pada bulan Juni. Bisa dibilang, Awal-akhir hidupnya terjadi dibulan Juni.

Lahir pada tanggal 6 Juni 1901. Meninggal dunia pada tanggal 21 Juni 1970. Yang sangat penting, Bung Karno menyampaikan pidato tanpa teks tentang Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945.

Ketiga peristiwa itu tak berada pada ruang kosong. Banyak sekali dinamika yang terjadi di dalamnya, termasuk pengaruh terhadap perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara.

Walau ada beberapa pendapat mengenai waktu kelahiran, saya merujuk kepada 6 Juni, menjelang subuh. Oleh karena itu pula, Bung Karno disebut sebagai putra sang fajar.

Tentu, yang paling berpengaruh terhadap perjalanan bangsa Indonesia adalah pidatonya pada sidang BPUPK, yang kemudian kita kenal sebagai pidato 1 Juni 1945. Bung Karno menjawab pertanyan ketua sidang, apa yang menjadi landasan Indonesia? Pancasila sebagai Fhilosophische gondslag.

Bagaimana dengan Hasan Tiro?, setidaknya, ada satu hal yang di kenang oleh Tiroisme setiap bulan Juni, yaitu hari berpulangnya Hasan Tiro ke ilahi rabbi. Tepatnya pada tanggal 3 Juni 2010, atau sekitar 40 tahun setelah kematian Bung Karno

Baik Bung Karno maupun Hasan Tiro, sama-sama menjadi inspirasi. Melahirkan banyak karya. Dan, yang paling penting berani menempuh jalan sunyi, yang mengorbankan bukan hanya pribadi, tapi juga keluarga untuk sebuah cita-cita kemajuan bangsa.

Keduanya menanamkan semangat Nasionalisme. Bedanya, Bung Karno mempersatukan Nusantara, Hasan Tiro mempersatukan Aceh. Dimata para pengikut, keduanya adalah pahlawan.

Oleh karena itu pula, melihat Hasan Tiro dari Jawa adalah pemberontak,  sama seperti melihat Bung Karno pada tahun 1945 dari Belanda.

Saya membaca karya kedua tokoh besar ini, jika memungkinkan menjadi Sukarnois sekaligus Tiroisme. Bagi saya, kedua orang ini telah meletakkan dasar-dasar perjuangan. Melalui pemikiran dan pergerakan, mereka berhasil menjadi katalisator kesadaran kolektif.

Kesadaran untuk merdeka, kesadaran untuk mandiri, kesadaran untuk berdiri diatas kaki sendiri. Perlahan, saya mencoba memahami Aceh bak mata Donya nya Hasan Tiro sebagaimana berupaya melahap Indonesia Menggugat nya Sukarno yang panjang dan njelimet itu.

Saya berupaya menyelami Hasan Tiro; Jalan Panjang Menuju Damai Aceh, sama pentingnya seperti membaca Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Jika kedua pemikiran itu di gabung, mungkin daya ledaknya bisa lebih membahana, menjadi ; Penyambung Lidah Rakyat untuk Dunia.

Komentar

Loading...