Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Jiwa-Jiwa Mati

Jiwa-Jiwa Mati
Ilustrasi. Foto: Tribun Jogja

Oleh: Alja Yusnadi 

Kepala tulisan saya pungut dari novel Nikolai Vasilievich Gogol. Judul aslinya: The Dead Souls.

Gogol, novelis kelahiran Ukraina. Jiwa-jiwa mati bercerita akal licik manusia ambius. Modusnya memperoleh keuntungan. Para pegawai di Rusia.

Dalam kasus yang berbeda, kita bisa menemukan dengan tidak begitu susah jiwa-jiwa mati itu.

Luarnya sama dengan manusia lain. Berkepala, berkaki, tangan, dan seluruh anggota badan. Entah kalau otak.

Hanya saja, “organ” yang di dalam—jiwa---kering, bahkan tidak berfungsi, mati. Seperti disebut Gogol dalam novelnya.

Biasanya, perilaku itu bertabrakan dengan nilai-nilai sosial yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Jiwa-jiwa itu tidak mempedulikannya. Menabraknya. Meninggalkannya.

Seperti beberapa peristiwa yang terjadi belum lama ini, di Aceh. Di sekeliling kita.

Pertama, kasus pencabulan. Kedua kasus pemerkosaan dan pembunuhan. Ketiga, kasus perdagangan anak.

Pencabulan itu terjadi di Februaril 2020. Pelakunya seorang pedagang keliling. Korbannya tiga orang anak kecil berusia di bawah sepuluh tahun.

Baru terungkap beberapa waktu yang lalu. Pelaku menemani istri untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga. Rupanya, rumah yang dituju adalah rumah salah satu korban. Sontak, anak kecil itu berteriak histeris. “orang itu jahat,” teriaknya.

Ibu korban mulai curiga. Akhirnya melapor ke polisi.

TR tidak sendiri, dia mengajak RR dan RS. Ketiganya, sudah pernah berurusan dengan polisi dalam kasus narkoba dan pencurian. Saya memakai inisial, karena tidak tahu nama panjangnya.

Para predator seks itu bisa muncul darimana saja. Ketiga anak itu, dipanggil, disekap beberapa jam, mulutnya dilakban, dibawa ke semak-semak. Lalu, terjadilah pelecehan itu.

Kejadiannya di kawasan Lueng Bata, Kota Banda Aceh, yang notabenenya ibukota provinsi Aceh. Yang menjalankan syariat Islam.

Kejadian kedua, beberapa hari yang lalu. Ini lebih kejam dan keji. Seorang laki-laki dewasa memperkosa seorang ibu rumah tangga dan membunuh anak dari Ibu muda tersebut.

Entah ditaruh di mana akalnya, mungkin bukan di kepala, mungkin juga otaknya tidak berfungsi dengan baik, entah juga tidak ada otak.

Saya membaca di berbagai media, pelaku bernama Samsul. Seorang residivis. Dia baru saja keluar dari penjara di Medan, Sumatera Utara. Kasusnya juga pembunuhan.

Dia keluar lebih cepat dari penjara karena Korona. Sejalan dengan kebijakan asimilasi dari Kemenkumham.

Setelah bebas, iblis berwajah manusia ini pulang ke Idi, kampung orang tuanya. Masyarakat dibuat tidak tenang. 

Dia kerap menganggu perempuan, tua atau muda. Tidak ada masyarakat yang berani menegurnya. Kabarnya, dia kebal, memakai ilmu hitam. Begitu penjelasan Kepala Gampong.

Sampai seorang anak kecil, berani melawannya. Namanya Rangga, usianya sekitar 10 tahun.

Rangga tentu bukan lawan sepadan. Tubuh kecil itu syahid karena di tebas dengan samurai, oleh manusia bejat itu. Bukan sekali, berkali-kali, hampir di setiap bagian tubuh mungil itu.

Rangga melawan ketika Samsul bejat berupaya memperkosa Ibunya.

Kejadian itu di Aceh Timur, masih menjalankan syariat islam. Kejahatan memang tidak mengenal tempat dan waktu.

Pelaksanaan syariat islam tidak membuat manusia seperti mereka jera, menghentikan tindak kriminalitas yang kadarnya jauh di bawah binatang.

Lakon ini bukan hal baru, sebaya dengan umur manusia. Dalam setiap potongan sejarah, selalu ada, bermacam pula modelnya.

Manusia selalu diberikan pilihan-pilihan, menjadi baik atau menjadi buruk, tentu di luar karena alasan takdir. Semua bermula sebab.

Sebab-sebab itu di pengaruhi oleh nafsu dan gagalnya akal mengendalikan nafsu.

Entah apa yang bersemayam di benak mereka.

Jiwa-jiwa mereka kering kerontang.      

Ada lagi, yang ini kejadiannya di Pidie. Beberapa anak di bawah umur diperdagangkan, dipekerjakan sebagai Pekerja Seks.

Awalnya, tiga pasang remaja digerebek warga karena berada dalam satu rumah kosong. Rupanya, remaja perempuan itu ada kaitannya dengan kasus perdagangan anak. Hasil pengembangan kasus.

Seorang perempuan dewasa berperan sebagai mucikari yang mengoperasikan mereka telah ditangkap. Dua orang lelaki dewasa yang berperan sebagai pemangsa telah ditangkap, satu orang lainnya masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Polres Pidie.

Hukum harus ditegakkan. Polisi harus mengenakan pasal perlindungan anak, pemerkosaan, pencabulan. Penuntut pun demikian. Harus menuntut dengan tuntutan maksimal. Demikian juga hakim, memutus dengan akal yang sehat.

Kasus-kasus itu memberi isyarat bagi kita, bahwa Aceh sedang tidak baik-baik saja, terutama untuk perempuan dan anak. Darurat perempuan dan anak. Harus ada proteksi khusus.

Bagaimana seharusnya negara hadir untuk melindungi rakyatnya dari predator semacam Samsul cs itu.

Sekali lagi, entah di Rusia, Amerika, Arab, dan belahan bumi manapun, kejadian seperti ini bisa terjadi. Begitu juga dengan korban, bisa menimpa siapa saja, bahkan orang sekeliling kita.

Ini juga menjadi cermin, kita ikut bertanggungjawab. Sebagai sekumpulan manusia, mahkluk sosial. Sebagai orangtua. Sebagai masyarakat, dan sebagai pemimpin. Apa yang telah kita lakukan untuk mencegah jiwa-jiwa mati itu?. Setidaknya, lindungilah perempuan dan anak yang terdekat dengan kita.

Komentar

Loading...