Jika Tidak Migrasi, Kita Bisa Apa?

Jika Tidak Migrasi, Kita Bisa Apa?
Ilustrasi.

Oleh: Alja Yusnadi

Masih tentang ribut-ribut konversi. Kali ini, saya mengutip beberapa percakapan dan perdebatan di media sosial. Saya awali dengan persoalan “susahnya ber-KTP Aceh.”

Seingat saya, rumitnya memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Aceh terjadi pada saat masih konflik bersenjata, masih berperang untuk merdeka. KTP masyarakat Aceh dirancang khusus, warna merah putih yang lengkap dengan Pancasila di dalamnya. Tidak ditemukan di daerah manapun di Nusantara ini.

Sejak kapan KTP itu diteken oleh Danramil, Kapolsek? Ya, sejak darurat militer itulah. TNI dan Polisi memegang peranan di lapangan. Mau apa saja, harus sepengetahuan mereka.

Mau kemana-mana, kita harus membawa KTP yang ukurannya tidak muat di dompet itu. Tidak ada yang lebih penting dari KTP pada saat itu. Ketinggalan KTP bisa berakibat fatal, salah-salah nyawa melayang.

Baru-baru ini, seorang kawan memposting status di media sosial ”Susahnya ber KTP Aceh”. Paul, sedang “mengkritik” situasi yang terjadi saat ini.

Salah satu penyedia jasa jual-beli online menolak untuk memproses registrasi nasabah yang ber-KTP Aceh. Inilah yang menjadi inti dari postingan kawan saya tadi itu.

Dugaan saya, hal itu karena penyedia jasa jual-beli online itu belum syariah, makanya tidak bisa melalukan transaksi di wilayah Aceh. Mungkin, Qanun Aceh tentang Lembaga Keuangan Syariah (LKS) juga menyasar tranksaksi jual-beli online?

Cerita berikutnya saya kutip dari media sosial milik Amru. Dia menulis: “Luar biasa antusias masyarakat menyambut keberadaan BSI. Demi mutasi rekening mereka rela antri untuk mengambil nomor antrian sejak pukul 6.00 WIB, tak peduli hujan. Padahal, nomor antrian baru dibagikan pukul 7.30 WIB.”

Saya cermati, postingan itu bernada ngejek. Itu tafsiran saya atas status Amru. Bisa jadi benar, bisa juga salah. Saya minta maaf, jika salah menafsirkan.

Yang tidak salah itu, nasabah dipaksa antri, hanya untuk mengganti buku rekening dan kartu ATM. Memang, tidak ada anjuran untuk datang selepas shalat subuh seperti yang dilakukan Amru itu.

Selanjutnya, cerita lain dibagikan oleh salah seorang video maker senior di Aceh. Dia mengunggah foto mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Lalu, mesin itu menelan kartu ATM nya. Saya kurang tahu, apakah ada hubungan ribut-ribut migrasi itu dengan ditelannya kartu ATM.

Kasus-kasus tersebut, bisa saja dihindari, jika tanpa kasak-kusuk konversi itu. Tapi, nasi telah jadi bubur, maksudnya Qanun LKS telah ditetapkan, dan sudah mulai berlaku.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Kalau mau ribet, lakukan upaya yang terukur, selemah-lemahnya menceritakan di media sosial, seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan yang saya sebut di atas tadi, siapa tahu dibaca oleh mereka-mereka itu dan ada kebijakan yang lebih syariah, menguntungkan kedua belah pihak.

Ada juga jalan lain, minta bantu sama orang dalam. Tentu, tidak semua nasabah punya akses ke dalam. Atau, bersikap bodo amat, seperti disarankan oleh kawan saya yang lain: Hermanto yang pengacara dan penceramah itu. Menurutnya, jangan terlalu fokus untuk hal-hal yang bisa diabaikan. Tidak usah ribut-ribut, kalau ada waktu ya silakan antri, kalau tidak, ya sudah, nikmati saja.

Sebenarnya, migrasi itu kepentingan siapa, sih? Jelas bukan kepentingan nasabah. Bagi nasabah, yang penting layanan mudah, tidak njelimet. Setidaknya menurut saya, nasabah cilik ini. Migrasi ini merupakan akibat dari mergernya beberapa Bank Syariah yang “serumpun”.

Kalau sudah begini, apa yang dapat dilakukan nasabah? Ikut antrian atau tidak melakukan migrasi. Bagi sebagian nasabah, tidak ikut migrasi mengalami kerugian besar, karena tidak dapat melakukan transaksi. Itu juga yang menyebabkan Amru uring-uringan, karena dia tidak bisa menggunakan uang yang ada dalam rekeningnya.

Kalau masih bisa, kosongkan rekening, lalu biarkan bermigrasi sendiri atau tidak samasekali.

Seharusnya, pihak perusahaan menyiapkan perpindahan sistem dengan lebih sederhana yang tidak mengakibatkan antrian panjang. Apalagi, ini musim Korona. Angka vaksin kita masih sangat rendah, jadi jangan nakal membuat kerumunan.

Sebelum proses migrasi selesai seluruhnya, perusahaan  harus menyediakan mesin ATM yang dapat melayani transaksi tunai dan non tunai dengan kartu ATM BRI Syariah dan BNI Syariah. Sehingga, nasabah yang belum memindahkan buku dan kartu ATM masih dapat menggunakan dananya.

Baru beberapa hari migrasi, sudah ada 1 juta nasabah yang ikut program itu. Andai saja satu orang nasabah memiliki saldo minimal 50.000, maka ada Rp. 50 Milyar uang yang dikelola Bank itu. Jika ada 4 juta? Silakan dijumlahkan sendiri. 

Nah, kebayangkan, jika separoh nasabah itu memilih untuk pindah haluan? Ya, begitulah pentingnya nasabah. Tanpa nasabah, perusahaan keuangan itu tidak ada apa-apanya.

Sudah sepatutnya perusahaan itu mengutamakan kepentingan nasabah, membuat nasabah nyaman. Jangan sampai, nasabah menyatukan kekuatan, dan mengalihkannya ke saluran yang berbeda.

Komentar

Loading...