Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Intinya Bung ?

Intinya Bung ?

Oleh : Alja Yusnadi

Dahulu, semasa masih mengikuti sidang wakil rakyat, ada satu kata yang sering saya ucapkan, kadang kala kata tersebut membuat rekan-rekan yang duduk di kursi dewan jengkel. Yaitu kata ‘Intinya’. Dalam sidang yang bertele-tele, saya sering menginterupsi singkat, “Intinya bung?,”

Setengah tahun sudah, saya tidak lagi mengikuti rapat-rapat itu, suatu malam, seorang teman yang juga pernah berjuang sebagai wakil rakyat, menulis status di media sosial sebagaimana kata yang saya sering ucapkan, ”Intinya?,”. Hanya itu saja, tanpa penjelasan apapun. Seketika, saya membayangkan, kawan saya itu lagi bernostalgia.

Selain molor, penyakit dari sidang-sidang wakil rakyat adalah bertele-tele, penuh retorika yang sebenarnya tidak begitu penting. Namun itulah cerminan rakyat yang diwakili. Jadi, serupa apapun kulitas mereka, itulah daulat rakyat, si pemilik suara.

Untuk menjadi wakil, ukurannya bukan kehebatan intelektual, atau kecakapan oral. Bagaimana memperoleh suara rakyat menjadi kuncinya. Jangan coba-coba menjadi wakil rakyat, mencalonkan saja jangan, apalagi di itengah demokrasi liberal seperti ini, selain kantong yang sobek, emosi juga bisa meluber, tumpah sampai ketanah.

Wakil rakyat itu paling minim diberi tiga tugas pokok; tugas Anggaran, Legislasi, dan Pengawasan. Ketiga tugas ini melekat kepadanya, mulai dari Undang-undang susunan dan kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD hingga tata tertib lainnya.

Jadi, kalau hendak mengukur kulitas mereka, jangan jauh-jauh, perkara bagi-bagi beras atau bagi-bagi uang tidak termasuk. Uji saja dengan tiga perkara itu. Apakah wakil anda itu paham fungsi anggaran yang harus dijalankan?. Seberapa bertaji dia memperjuangkan pembangunan jalan, jembatan, irigasi dan pembangunan lainnya yang pro rakyat.

Sebenarnya taji wakil rakyat adalah pengetahuan, argumentasi, meyakinkan pemerintah. Kalau diam-diam saja, ya tidak dapat apa-apa.

Berikutnya, uji pula dengan tugas legislasi, qanun apa yang sudah diperjuang untuk kemaslahatan masyarakat, minimal di daerah pemilihannya. Kebutuhan itu biasanya lahir ketika reses. 

Reses adalah kegiatan wakil bertemu dengan tuan yang diwakilinya, ini pertemuan maha penting, sampai-sampai negara membiayainya. Disitu akan tampak, apakah reses hanya seremonial belaka agar bisa mengamprah anggaran atau betul-betul menyerap aspirasi.

Bisa saja peserta reses mengusulkan qanun pemeliharaan tanaman pala, qanun burung, qanun kopi, qanun ternak, qanun masjid, atau qanun ikan, yang dibutuhkan hanya judul dan ide awal, selebihnya lembaga wakil rakyat memiliki dana untuk membayar ahli menyusunnya sesuai kaidah legislasi. Jadi tidak rumit, dan tidak susah sekali.

Ujian terakhir, tanyakan pengawasan seperti apa yang sudah dilakukannya terhadap pemerintah. Perihal pengawasan ini adalah perkara yang paling mudah dan mencerminkan tugas utama.

Wujud formal, biasanya setiap tahun ada panitia khusus yang akan mengawasi kerja anggaran. Di luar itu, wakil rakyat dapat mengawasi kapanpun, dimanapun, siang dan malam. Karena tugas ini juga tidak kalah penting, negara memberi hak imunitas, tak boleh dipidana karena ucapannya berkaitan bidang tugas. Kecuali, amoral, itu tidak berlaku.

Modal utamanya adalah bicara. Bicara disaat rapat komisi, bicara disaat rapat banggar, rapat bamus, rapat pansus, rapat dengar pendapat, bahkan berbicara kepada publik melalui media. Ada banyak sekali corong untuk bicara, tidak ada alasan untuk tidur, sekalipun anda ngantuk, minta saja kepada staf ahli untuk membantu, menyiapkan bahan untuk bicara.

Hanya dengan berbicara sebenarnya, apalagi pembicaraan bermutu, wakil rakyat sudah menunaikan tugas awalnya. Jangan hanya datang, duduk, diam, kemudian pulang, kalau begitu, rugi saja negara membayar gaji, beserta tunjangan.

Maka, jika anda wakil rakyat, paksalah diri untuk melakukan tiga fungsi tadi, cukuplah berbicara bagaimana mengawal agenda pembangunan atas kekuasaan eksekutif, apakah benar-benar menyentuh kepentingan konstituen, jika tidak segera interupsi, beri masukan.

Jika ada wakil rakyat, baik tingkat pusat, provinsi atau kabupaten/kota bicara, mengkritik sesuatu yang ditimbulkan akibat kebijakan pemerintah, maka disaat bersamaan dia sedang menjalankan tugas.

Kepentingan wakil rakyat yang tau diri adalah kepentingan rakyat yang diwakilinya, yang memilihnya, konstituen yang sesekali menjadi orang yang dihormati dan ditakutinya.

Sesekali, perdebatan juga terjadi di gedung parlemen, untuk yang kurang berkapasitas, bertele-tele, tidak fokus, atau hanya retorika belaka, jadilah wakil rakyat lainnya menyela, menginterupsi, boleh katakana, ”Intinya Bung?,” Intinya adalah kepentingan rakyat.

Komentar

Loading...