Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Ini Profil  Rohingya yang Kabur dari Kamp  BLK Kandang, Sempat Viral  karena Cantik dan Bercadar

Ini Profil  Rohingya yang Kabur dari Kamp  BLK Kandang, Sempat Viral  karena Cantik dan Bercadar

LHOKSEUMAWE, ANTEROACEH.com - Polisi dan sejumlah pihak yang bertanggungjawab dengan imigran Rohingya di kamp BLK Kandang, Lhokseumawe masih mencari keberadaan seorang gadis Rohingya yang dikabarkan menghilang sejak Sabtu (8/8/2020) pagi.

Namun Pemko Lhokseumawe yang bertanggungjawab terhadap keberadaan 99 etnis Rohingya itu hingga saat ini belum memastikan bahwa Tasfiah kabur dari lokasi penampungan.Justru juru bicara satgas penanganan pengungsi , Marzuki menjelaskan, hal itu belum pasti, karena bisa saja wanita itu berada tidak jauh dari kamp.

“Belum pasti kabur, kita masih mencari. Bisa saja dia sedang berada di rumah warga di sekitar lokasi pengungsian BLK,” jelas Marzuki kepada anteroaceh.com, kemarin.

Siapa sebenarnya Tasfiah binti Salamatullah tersebut ? berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi. ia lahir pada  1 Januari 2003, asal dari Desa Kheladuang, Distrik Maungdaw , Maungdaw , negara bagian Rakhine , Myanmar.

Ia salah satu imigran Rohingya terpaksa mengungsi ke Kamp teknaf, Cox Bazar Banglades pada 2017 akibat terjadi penyerangan besar-besaran dari junta Militer Myanmar.

Kemudian pada akhir Februari 2020 lalu, gadis manis berkulit kuning langsat itu ikut  bersama 114 pengungsi lainnya kabur dari kamp  menuju ke  Malaysia via laut. Berbekal satu pakal kayu berbobot 30 GT ditarik dengan satu kapal motor milik tekong Buddish Myanmar.

Setelah 4 bulan terombang ambing di tengah laut, akhirnya  kapal kayu mereka ditinggalkan kapal motor tekong yang berisi 9 orang Myanmar saat tiba di perairan Aceh Utara, tepatnya 18 mil laut dari pesisir pantai Bantayan Seunuddon, Aceh Utara pada Rabu 24 Juni lalu.

Mirisnya kapal itu ditinggalkan dalam kondisi mesin rusak dan lambung bocor sehingga nyaris tenggelam. Untung dua nelayan asal Aceh yang hendak melaut melihat kejadian itu, kemudian memberikan pertolongan pertama. Mereka dipindahkan ke kapal motor milik nelayan.

Sempat terjadi keraguan dari otoritas Aceh Utara saat itu, untuk mendaratkan para imigran korban perang itu. bahkan sempat terkatung-katung selama  1 hari di dekat pantai Lancok, Meuraksa, Syamtarila Bayu, Aceh Utara.

Kemudian pada Kamis 25 Juni, mereka akhirnya didaratkan oleh nelayan yang merasa kasihan, karna banyak wanita dan anak-anak.

 Mereka itu manusia, tempatnya didarat bukan dilaut seperti ikan, kalau pemerintah tak mampu memberikan mereka makan, biar kami,” teriak seorang warga Lancok sesaat sebelum drama pendaratan paksa dilakukan warga terjadi.

Kemudian pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan mengizinkan pengungsi didaratkan dan ditampung di bekas kantor Imigrasi di Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. disana mereka mendapatkan bantuan logistik, kesehatan dan mendapatkan fasilitas lainnya dari banyak pihak yang berempati.

Jumlah pengungsi yang terdata adalah  72 orang perempuan,  31 dewasa dan 41 anak. Kemudian ada pengungsi laki-laki yang berjumlah 27 , 16  laki-laki dewasa dan 11 anak-anak.

Berdasarkan penuturan pengungsi, sebagian ada sekitar 16 pengungsi meninggal dunia selama berada dilaut. Kebanyakan tewas adalah wanita dan anak-anak. Bahkan salah satunya bayi yang masih berumur 1 tahun.

Penyebabnya adalah  kekurangan makanan, dehidrasi, sakit dan akibat disiksa 9 Tekong Buddish yang berada di kapal motor yang menarik kapal motor pengungsi. Semua jasad yang meninggal dibuang ke laut setelah dishalatkan oleh pengungsi lain.

Tasfiah Bercadar

Diawal-awal penempatan imigran tersebut di bekas kantor imigrasi, banyak warga datang ke lokasi tersebut untuk melihat langsung kondisi etnis minoritas tersebut. Tidak hanya itu, masyarakat juga memamfaatkan momen itu untuk mengabadikan video atau gambar.

Salah satu sosok yang sempat viral yaitu Tasfiah, karena saat itu ia terlihat bercadar. Matanya yang indah membuat beberapa warga yang merekam dirinya meminta Tasfiah melepaskan cadarnya dari balik jendela berjeruji.

Banyak netizen yang memuji kecantikan paras gadis belasan tahun itu. namun banyak juga yang menghujat si perekam video, karena dinilai tidak etis dan telah melanggar Syariat Islam, karena meminta wanita non mahram membuka cadar.

Bahkan kabarnya setelah kejadian  itu pihak keamanan memperketat pengamanan di lokasi pengungsi. Warga tidak diperkenankan mengakses jendela bangunan.

Komentar

Loading...