Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Ie Bu Peudah, Kanji Khas Aceh yang Dimasak Setiap Hari Sepanjang Ramadhan dan Dibagi Gratis

Ie Bu Peudah, Kanji Khas Aceh yang Dimasak Setiap Hari Sepanjang Ramadhan dan Dibagi Gratis

JANTHO, ANTEROACEH.com - Berbicara takjil ramadhan memang tidak akan pernah habis, apalagi takjil ini hanya ada pada saat bulan suci Ramadhan. 

Kalau di Jakarta kita bisa menyantap bubur ayam plus taburan kacang kedelai goreng di atasnya, sama halnya dengan di Aceh.

Aceh juga mempunyai penganan yang hampir serupa dengan bubur ayam, namun bedanya bubur ini di racik dari rempah-rempah khas Aceh dan ada 44 macam jenis rempah dan bahan lainnya.

Ya, namanya Ie Bu Peudah, makanan sejenis bubur ini dimasak dalam kuali besar dan hanya ada saat Ramadhan tiba, maka tidak heran kalau penganan ini menjadi takjil andalan para kaum lansia di Aceh saat puasa.

Gampong Bueng Bak Jok adalah salah satu Gampong di kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar  yang masih menjaga dan menjalani tradisi memasak kanji atau Ie Bu Peudah di Meunasah Gampong saat Ramadhan.

Tradisi yang sudah ada sejak zaman kesultanan Sultan Iskandar Muda tersebut, sampai saat ini masih tetap di pertahankan oleh masyarakat setempat.

“Disini memang ada tradisi memasak Kanji setiap tahun, mungkin di sebagian besar gampong-gampong lain sudah tidak ada lagi akibat terimbas oleh arus globalisasi,” cerita Hafidz Ma'sub, Geuchik Bueng Bak Jok kepada anteroaceh.com, Jum’at (1/5/2020).

Hafidz tidak sendirian memasak Kanji, seluruh warga ikut bergotong royong dari mulai mencari rempah, meracik bumbu lalu sama-sama memasak di dapur umum Gampong.

“Yang meracik dan mengolah rempah dasar ini adalah kaum ibu-ibu, jika memang ada bahan yang tidak ada di Gampong, seperti dedaunan kami berusaha mencarinya ke pegunungan,” tutur Hafidz.

Seluruh pemuda ikut bekerjasama dalam menyiapkan segala kebutuhan untuk memasak kanji, dari persiapan bahan mentah seperti kelapa, kayu bakar hingga jadwal memasak pun mereka persiapkan.

“Untuk jadwal memasak kami ada jatah masing-masing tiap dusun, dan setiap hari bergiliran yang masak,” terang salah seorang pemuda Gampong yang enggan disebutkan namanya.

Rutinitas memasak kanji di mulai setelah pelaksanaan shalat dhuhur sampai waktu shalat ashar tiba, setelah pelaksanaan shalat ashar para pemuda akan memberi pengumuman melalui pengeras suara Menasah.

Pengumuman supaya warga bisa datang dan mengambil kanji yang sudah di masak. Karena kanji itu dibagikan kepada seluruh warga gampong secara Cuma-Cuma.

Tradisi memasak kanji ini mulai dilaksanakan sejak awal Ramadhan sampai akhir Ramadhan nanti.

“Ini kita lakukan terus sampai akhir Ramadhan nanti, dan siapa saja boleh mengambil kesini tidak hanya warga disini saja, karena kita memang menyiapkan kanji ini setiap hari untuk menu berbuka,” tutup Geuchik Hafidz.

Komentar

Loading...