Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Ibu-ibu Dewe, Belajarlah Pada Kak Ti dan Kak Dyah

Ibu-ibu Dewe, Belajarlah Pada Kak Ti dan Kak Dyah
Ilustrasi.

Oleh : Alja Yusnadi

HAMPIR disetiap kantor pemerintah, disamping plang nama instansi, selalu ada bertengger pamplet yang ukurannya lebih kecil bertuliskan “Dharma Wanita”.

Misalnya, Dinas Penanggulangan Banjir dan Puting Beliung, disampingnya pasti ada Dharma Wanita nya, begitu seterusnya untuk seluruh instansi.  Sesekali, pernahkah anda bergumam, apalah fungsi Dharma Wanita itu?

Dharma Wanita atau Ibu-ibu Dewe adalah istri para pegawai yang bekerja pada instansi pemerintah. Kalau di Tentara, Persit namanya. Di kepolisian, Bhayangkari.

Bisa saja ini merupakan persatuan ibu-ibu. Biar istri kepala dinas mengenal istri kepala bidang. Istri kepala seksi dapat bercakap-cakap dengan istri staf, siapa tahu jumpa di pasar bisa saling sapa. untung-untungan istri Kadis membayari anggotanya disaat ketemu di pasar sayur.

Mungkin juga sekedar arisan atau forum fashion dan perhiasan show. Memamerkan baju bermerek yang dibeli suami di sela-sela dinas luar daerah, kunjungan kerja atau konsultasi. Wah, itu Ibu Dewe atau Sosialita, ya? Atau keduanya berhubungan erat, seerat tali dan ikatannya.

Selebihnya, saya belum menemukan peran Ibu-ibu Dewe ini ditengah masyarakat, termasuk istri anggota DPR dan DPRD sekalipun. Kecuali, berpoto pakai kacamata hitam di bawah Menara Efil atau di bawah patung singa sambal menenteng Gucci atau Hermes.

Secercah harapan datang dari petinggi Ibu Dewe Aceh. Merekalah Darwati A Gani dan Dyah Erti Idawati, biar akrab, saya panggil Kak Ti dan Kak Dyah. Kedua perempuan hebat ini menghabiskan separoh waktunya untuk mengabdi kepada masyarakat.

Siapa mereka? Kakti, Ketua Penggerak PKK Non Aktif. Anggota DPRA dari PNA dapil Aceh I yang meliputi Banda Aceh, Sabang dan Aceh Besar.

Kak Dyah, istri Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, sekaligus Plt. Ketua Penggerak PKK. Entah disengaja atau tidak, aktivitas kedua perempuan ini cukup menyita perhatian publik, terutama pengguna media sosial. Baik Kak Ti maupun Kak Dyah membagikan photo dan video kegiatan di Istagram.

Sekali waktu, disaat Banjir melanda Banda Aceh dan Aceh Besar pertengahan bulan Mei, keduanya berpacu. Ibarat pembalap, saling mendahului, menggeber tunggangan. Jadilah, Kak Ti basah setengah badan, terjun ke dalam banjir di gampong Garot. Tak mau kalah, Kak Dyah juga mengunjungi Banjir Lhong.

Bisa saja keduanya melakukan dengan niat tulus tanpa tedeng aling-aling. Saya sengaja menarik benang merah. Setuju atau tidak, dari sekian banyak pejabat publik perempuan atau ibu-ibu dewe yang ada di Seantero negeri, mereka berdualah yang meratui.

Pola perjuangan telah bergeser. Pada zaman kerajaan, Aceh pernah dipimpin oleh Sultan Perempuan. Di Medan tempur ada Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, dan sederet nama lain.

Sekira tahun 1999, Cut Nur Asikin (CNA) tampil sebagai singa podium. Orasinya membakar semangat tua-muda. Atas perjuangan ini pula, CNA ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Lhok Nga. Bersama ratusan ribu masyarakat Aceh lainnya, CNA menjadi korban Tsunami 2004.

Setelah itu, saya tidak melihat ada perempuan Aceh yang tampil memukau. Jelas, Kak Ti dan Kak Dyah pemecah kebuntuan. Walau ada aroma tidak sedap diantara keduanya.

Memang, saya belum melihat ada gagasan besar yang mereka usung. Baik oleh Kak Ti sebagai wakil rakyat, atau Kak Dyah sebagai Plt Ketua PKK. Masih sebatas bantuan sporadis. Tak mengapa, paling tidak keduanya telah mewarnai jagat perpolitikan dan media sosial. Di tengah hegemoni politisi laki-laki.

Untuk melanjutkan tren positif, ada baiknya kedua perempuan ini ikut ambil bagian pada Pilkada serentak ke depan. Baik sebagai Gubernur-Wakil Gubernur Aceh maupun Walikota-Wakil Walikota Banda Aceh.

Saya menilai, keduanya punya peluang dan kapasitas. PNA memiliki enam kursi di DPRA. Cukup untuk Kak Ti sebagai modal awal digandeng menjadi Wagub. Atau, PNA memiliki satu kursi di DPRK Banda Aceh. Syaratnya, Kak Ti harus akur dengan kelompok Tiyong, ketua DPP PNA hasil KLB Bireuen.

Kak Dyah lebih mocer lagi. Di DPRA, Partai Demokrat memiliki sepuluh kursi, hampir cukup mengusung sendiri. Kalau untuk wakil Gubernur tentu lebih dari cukup untuk berkoalisi dengan partai politik lain. Tunggu dulu, ada sayaratnya, apabila, Nova Iriansyah, sang suami sebagai ketua PD tidak maju lagi, baik sebagai Gubernur maupun Wakil Gubernur.

Di Banda Aceh, PD dapat mengusung sendiri tanpa harus berkoalisi. Jika PD merekomendasikan Kak Dyah sebagai calon Walikota, tidak harus pusing tujuh keliling memikirkan tiket.

Atau, iseng-iseng begini. Kedua perempuan ini maju satu paket sebagai pemimpin Kota Banda Aceh. Kalau dilihat dari komposisi kursi, Kak Dyah lebih bepeluang menjadi nomor satu, Kak Ti nomor dua.

Kalau paket ini jadi, saya usul tagline nya: Duo Ratu. Mengulang kembali sejarah masa lampau. Aceh dipimpin oleh Sultanah. Siapa tahu, pasangan ini dapat mengikuti jejak Risma di Kota Surabaya atau Khofifah di Jawa Timur.

Jadi atau tidaknya Kak Ti dan Kak Dyah berduet, saya tetap mengacung dua jempol untuk Duo Ratu ini. Mereka ibarat oase di padang pasir. Menjadi tampilan baru bagi politisi perempuan dalam jagad politik lokal.

Dan, para ibu Dewe, bersatulah. Kalau Duo Ratu jadi ikut Pilkada, berdirilah kalian digarda depan. Kita ajak Kak Stefy dan Kak Yuni menjadi ketua dan sekretaris timses, setidaknya jadi jubir, lah.

Kalau tidak, cukuplah ikuti langkah mereka untuk mendampingi sang suami dalam mengurus rakyat. Tidak meminta yang bukan-bukan saja, itu sudah cukup.

Komentar

Loading...