Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Hujan, Antara Keberkahan dan Teguran

Hujan, Antara Keberkahan dan Teguran
Ilustrasi hujan

Oleh : Muhammad, mahasiswa pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan juga founder instagram @habagampong.id

DALAM beberapa hari ini, jagat maya diwarnai dengan ramainya postingan dan pemberitaan mengenai banjir yang melanda sebagian wilayah Aceh.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan akan terus terjadi dua hingga tiga hari kedepan, dengan intensitas sedang hingga lebat.

BMKG Blang Bintang juga menyebutkan, hujan yang terjadi disebabkan oleh belokan angin yang pusarannya di selat Malaka dan konvergensi atau penyatuan massa udara hingga mengakibatkan berkumpulnya uap air di atas wilayah Aceh.

Namun jika dikembalikan pada hakikatnya, hujan adalah sebuah fenomena alam yang terjadi di bumi, dimana hujan akan menjadi sumber kehidupan.

Al-Qur'an dan sains menjelaskan bahwa alam menjadi terjaga dengan adanya proses hujan. Melalui hujan pula, Allah swt menurunkan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk penghuni bumi.

“Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.” (QS. al-Furqan : 48-49).

Dalam Islam, segala apa yang diciptakan oleh Allah pasti memiliki makna dan tujuan tersendiri. Semua gejala yang ada di semesta ini Allah ciptakan bukan tanpa tujuan dan manfaat bagi kehidupan manusia.

Allah ciptakan angin, udara, air, dan tanah di muka bumi ini semata-mata agar manusia dapat hidup dengan baik dan beribadah hanya kepada-Nya.

Air menjadi kebutuhan dasar manusia. Untuk itu, adanya siklus hujan membuat kita bisa melaksanakan kehidupan di muka bumi ini dengan baik.

Hujan mengantarkan keberkahan bagi penduduk bumi, namun terkadang sebuah keberkahan itu bisa berubah menjadi sebuah teguran.

Bukan dalam artian hujan sebagai pembawa bencana, tetapi hujan sebagai teguran atas kecerobohan dan keserakahan yang telah disebabkan oleh tangan-tangan manusia.

Penggundulan hutan dan pertambangan secara ilegal, serta kurang baiknya tatanan kebersihan di aliran sungai menjadikan hujan seringkali dianggap sebagai musabab ‘pembawa bencana’.

Data di tahun 2019 menunjukkan seluas 15.140 hektare tutupan hutan Aceh hilang akibat terjadinya perambahan. Angka ini setara dengan 2,5 kali lipat luas Kota Banda Aceh atau 14 ribu kali lapangan bola kaki.

Banyaknya kasus kejahatan atau kerusakan lingkungan yang tidak terselesaikan dengan baik, kondisi ini menyebabkan rawan terjadinya bencana.

Tanah longsor dan banjir adalah langganan yang tak terelakkan,di samping itu juga berdampak terjadinya konflik antara satwa dengan manusia.

Rusaknya ekosistem hutan di Aceh dan Indonesia umumnya tidaklah terjadi dengan begitu saja, ada tangan kapitalis sebagai the invicible hands yang menjarah secara serakah. Bahkan tak jarang mereka masuk berkolaborasi dengan pihak-pihak yang menciptakan kebijakan itu sendiri.

Menjaga hutan adalah menjaga kehidupan, hutan merupakan napas dan paru-paru dunia. Ketika hutan rusak, manusialah yang akan menerima dampak lebih dari bencana tersebut.

Sekecil apapun kontribusi kita dalam menjaga hutan, itu akan membantu menjaga hutan kita tetap lestari, atau paling tidak kita telah membantu memperlambat kerusakan hutan.

Seperti pepatah yang menyatakan, “Jika tidak mampu memberikan kebaikan, maka tidak merusak pun sudah cukup”. Artinya jika kita tidak mampu menjaga dan meningkatkan kelestarian hutan, maka tidak ikut melakukan pengrusakan pun sudah cukup.

Dengan melihat sederet fenomena di atas, maka jangan salahkan ketika hujan sebagai rahmat Allah turun membasahi bumi yang mestinya menjadi berkah justru berubah menjadi sebuah musibah.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar Ruum:41).

Komentar

Loading...