Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Hayati Korban Konflik yang Tak Pernah Tersentuh Bantuan

Hayati Korban Konflik yang Tak Pernah Tersentuh Bantuan

SUBULUSSALAM, ANTEROACEH.com - Hayati Rangkuti (43) seorang wanita paruh baya yang kini mengontrak di i dusun Sejati Desa Subulussalam Selatan Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam berharap perhatian pemerintah.

Wanita kelahiran Labuhan Batu, Sumut ini dulunya mengadu nasib di Aceh Timur tepatnya di desa Pinarun, Kecamatan Bayuen. Saat itu suaminya almarhum Edi Wibowo merupakan karyawan perkebunan kelapa sawit di PT Dani Putra dekat Putri Hijau.

Ditengah konfilik Aceh bergejolak sekitar tahun 2001 suami Bersama tiga orang lainnya hilang saat akan mengambil uang di sebuah bank di Kota Langsa. Sejak hilang hingga kini tak ada kabar tentang suaminya tersebut.

"Suami saya hilang, tidak tau rimbanya,” cerita Hayati.

Kabarnya mobil yang membawa suami Hayati dicegat di halan saat hendak kembali setelah melakukan penarikan gaji karyawan PT tempat ia bekerja.

Dari berbagai informasi yang ia terima ketika itu, memastikan jika suami dan lainnya menjadi salah satu korban konflik di Aceh.

"Semenjak bapak hilang, saya, ibu saya dan Rozanika, anak pertama saya harus lari dari daerah itu untuk menghindari isu bahwa akan terjadi perang antara aparat dan GAM," tuturnya.

Karena saat itu akses jalan semua ditutup, sehingga mereka harus menapaki hutan dan sungai dengan jarak puluhan kilometer menuju kota Langsa.

"Sesampainya di Langsa barulah ada tanda-tanda kehidupan bagi kami. Karena kami diungsikan pemerintah ke wilayah Sumatera Utara," ucapnya.

Sederet kenangan delapan belas tahun silam, seakan menjadi takdir bagi dirinya untuk tidak dapat meninggalkan tanah Aceh.

Kini Hayati tinggal di sebeuah rumah kontrakan dengan bekerja sebagai buruh cuci dan gosok pakaian di Kota Subulussalam.

Kendati kini ia telah bersuami namun keberuntungan belum berpihak kepadanya. 

Belakangan kekecewaan Hayati terus berlanjut, pasalnya ia tidak pernah menerima bantuan apapun dari Pemerintah termasuk bantuan BLT DD bagi yang terdampak Covid-19.

"Bantuan PKH, BST dan BLT DD pun kami tidak terdaftar sebagai penerima," ucap Hayati sedih.

Secara kasat mata Hayati sangatlah  pantas sebagai penerima salah satu bantuan sosial sebagaimana anjuran pemerintah pusat.

Penasaran dengan hal itu, anteroaceh.com mencoba mengkonfirmasi prihal itu kepada Amrin Limbong, Kepala Kampung tempat Hayati berdomisili saat ini.

Ia tidak membantah jika Hayati tidak masuk ke dalam sekema penerima BLT DD karena berdasarkan kesepakatan disana yang menerima BLT DD adalah masyarakt jompo saja.

"Kesepakatan tim relawan Covid-19 desa kita bahwa penerima BLT DD di desa kami hanya bagi yang jompo saja, itu kesepakatan bersama sesuai hasil musyawarah penerima berjumlah 43 Kepala Keluarga," terang Amrin Limbong.

Amrin manambahkan jika data penerima dilakukan di luar kriteria jompo maka anggaran yang tersedia tidak cukup.

"Jika kita salurkan diluar keriteria jompo, dana kita tidak mencukupi karena ada sekitar 300 KK lagi yang harus kita salurkan," aku Amrin.

Komentar

Loading...