Gusur Darussalam

Gusur Darussalam
Lapangan Tugu Kopelma Darussalam. Foto: Humas USK

Oleh: Alja Yusnadi

Darussalam kembali digoyang. Kali ini yang membuat goyang bukan karena hasil penelitian, bukan pula perdebatan akademik, jauh dari itu semua, goyang dari dalam, apalagi kalau bukan rencana penggusuran rumah-- yang diklaim-- milik Universitas Syiah Kuala.

Bagaimana tidak goyang, yang digusur itu adalah keluarga dari para pendiri Universitas. Mereka yang sedari awal tidak memikirkan materi untuk menjadi akademisi di kebun kelapa itu.

Pemegang otoritas di kampus itu telah mengeluarkan maklumat: rumah harus segera dikosongkan. Alasan penggusuran, seperti yang sudah-sudah karena pembangunan. Padahal, di sisi lain, Syiah Kuala memiliki lahan yang sangat luas, terluas se Nusantara.

Para warga yang tergabung dalam forum warga Darussalam berupaya untuk mencari keadilan. Mereka, ada yang guru besar, Dosen, karyawan mengadu ke DPR Aceh.

Forum itu menunjuk Otto Syamsuddin Ishak sebagai Koordinator, ”saya dijebak oleh warga untuk menjadi koordinator, hehehe” ucap Otto dalam salah satu wawancara podcast belum lama ini. Jebak yang dimaksud tentu tidak dalam konotasi negatif.

Otto adalah pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Syiahkuala. Syamsuddin Ishak adalah nama ayahnya. Syamsuddin Ishak masuk ke Darussalam –yang masih dikelilingi pohon kelapa--sekitar tahun 1959.

Di tanah itulah, dibangun pemukiman Darussalam yang di dalamnya ada rumah warga dan ada kampus.

Pendirian Komplek Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam itu ada kaitannya dengan perjanjian Lam Teh—perjanjian damai antara DI/TII dengan Republik yang sudah berperang bertahun-tahun.

Darussalam itu semacam titik balik. Seperti tulisan Presiden Sokarno di prasasti peresmian: Tekad Bulat Melahirkan Perbuatan Nyata, Darussalam Menuju Cita-Cita.

Tekad itu, bukan hanya tekad satu-dua orang saja. Melainkan tekad bersama, seluruh masyarakat Aceh. Termasuk pendirian Unsyiah itu, di gotong bersama-sama, bukan oleh industri pendidikan.

Mulai dari Pemerintah Daerah yang saat itu dipimpin oleh Ali Hasyimi, masyarakat dan pengusaha.

Menurut Otto, tanah itu asal-usulnya milik Ali Hasyimi yang kemudian dihibahkan ke Pemerintah Daerah. Lalu, dibangunlah Kopelma itu. Tentu tidak semegah sekarang.

Saat itu tidak ada surat-menyurat. Yang penting jadi dulu. Itu juga yang dialami Syamsuddin Ishak dan kawan-kawannya. Jangankan surat-menyurat, Rektor saja belum ada pada saat itu.

Bisa juga, kepada mereka, generasi pertama yang bersedia mengabdikan diri di Darussalam, diberikan sepetak tanah.

Ini bukan hal mustahil, dalam kasus lain sering terjadi. Dalam tradisi Aceh, masyarakat bergotong royong menghibahkan tanah kepada seseorang yang sudah selesai mengaji di Pesantren. Syaratnya, mau tinggal dan menidirikan pesantren di kampung mereka. Kemungkinan itu juga bisa terjadi di Darussalam.

**
Apa yang Anda bayangkan jika mendengar Darussalam? Apakah nama salah satu Kecamatan di Aceh Besar? Apakah Simpang Galon? Apakah Universitas? Apa pula hubungannya dengan Komplek Pelajar Mahasiswa ?

Darussalam itu adalah Komplek Pelajar Mahasiswa. Di dalamnya ada sekolah, Universitas dan pemukiman.

Awalnya, hanya beberapa rumah tenaga pengajar dan beberapa gedung yang menjadi cikal-bakal Unsyiah dan UIN Arraniry.

Kemudian, terus berkembang, baik gedung Universitas, maupun jumlah penghuni Kopelma Darussalam.

Sekarang, Kopelma Darussalam menjadi Desa dengan beberapa dusun. Jumlah penduduknyapun sudah ribuan.

Saya duga, Awalnya Darussalam ini direncanakan menjadi pusat pendidikan-peradaban Aceh, setelah tertinggal karena konflik.

Oleh karena itu, Ketiga Perguruan Tinggi—Unsyiah-UIN-Pante Kulu—keberadaannya tidak sama dengan Perguruan Tinggi yang lain. Darussalam ini memiliki sejarah panjang.

Perkembangan zaman menuntut Perguruan Tinggi untuk menyesuaikan diri, termasuk menjadi Badan Hukum tersendiri, Ini juga harus kita pahami.

Kita berada ditengah, antara lanjutan pembangunan—fisik—Universitas dengan menjaga identitas Darussalam.

Saya bisa membayangkan perasaan yang berkecamuk di dalam jiwa pejabat Universitas ketika berhadapan dengan situasi seperti ini, kecuali mereka yang tidak tahu atau mengabaikan sejarah.

Namun, ada langkah lain yang lebih bijak yang dapat ditempuh. Pertama, mengundang para warga Darussalam. Menyampaikan rencana pejabat Universitas terhadap lanjutan pembangunan.

Tentu, pertemuan itu tidak akan selesai dalam satu-dua pertemuan. Pejabat Universitas juga harus mendengarkan pendapat warga Darussalam.

Kedua, pejabat Universitas dapat melanjutkan pembangunan di luar Darussalam. Kedua pilihan itu tentu memiliki kelebihan dan kekurangan.

Jika boleh saya usul kepada pejabat Universitas, biarkan saja Darussalam seperti yang ada sekarang. Tumbuh dan berkembang bukan hanya dari satu sisi saja. Sambil, memperbanyak diskusi dengan warga Darussalam terkait rencana pejabat Universitas mengenai perluasan kampus.

Pak Rektor, belajarlah dari Joko Widodo ketika masih menjabat Wali Kota Surakarta. Bagaimana gigihnya Jokowi mengundang para pedagang yang akan di relokasi. Para pedagang itu diundang ke rumah dinas Walikota.

Walaupun, ada pertemuan yang tidak membahas apa-apa, hanya sekedar makan, minum dan temu ramah saja.

Tugas sejarah yang tidak bisa dielak oleh pejabat Universitas adalah mengembalikan Darussalam ke khittahnya, Darussalam: Negeri yang damai. Damai di dalam dan membuat damai bagi orang luar.

Saya membayangkan, di tengah kesibukannya sebagai Guru Besar, sebagai pendidik, sebagai peneliti, sebagai pejabat Universitas, Rektor mengundang para koleganya—Forum Warga Darussalam-- ke rumah dinas. Entah sekedar sarapan pagi, makan siang atau makan malam.

Mungkin saja dari sana akan lahir “jalan tengah”, seperti jalan yang ditempuh oleh para pendahulu kita di tahun 1959 lalu. Jalan yang membangun, bukan jalan menggusur!

Komentar

Loading...