Getar Corona Hingga Dataran Tinggi Gayo

Getar Corona Hingga Dataran Tinggi Gayo
Ilustrasi kopi. Foto: merc67

PANDEMI Corona tidak hanya berdampak kepada keselamatan jiwa, namun juga merusak sendi-sendi ekonomi. Daya rusak itu menyasar hingga ke dataran tinggi Gayo. Selama ini, Gayo - Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues merupakan penghasil Kopi dan Holtikultura.

Banyak masyarakat yang menggantungkan ekonomi keluarga dari hasil Kopi. Sebagian, memiliki kebun, sebagiannya lagi menjadi pedagang. Kopi Gayo menghegemoni Perkopian dunia.

Ketiga daerah yang berada diketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut itu memiliki luas kebun kopi sekitar 97.554 Ha. Kopi yang sudah mulai dibudidayakan sejak tahun 1908 itu di eksport ke sejumlah negara, seperti Amerika, Eropa, dan sebagian kawasan Asia.

Jika untuk eksport ada Kopi, maka untuk kebutuhan domestik, dataran Tinggi Gayo memiliki Tomat, Cabe, dan berbagai tanaman subsektor Holtikultura lainnya. Beberapa komoditas itu bahkan menjadi komoditi unggulan di wilayah setempat.

Sejak pandemi Corona mengguncang dunia, perlahan harga Kopi dan holtikultura beranjak turun. untuk komoditas Kopi, karena hampir semua negara tujuan ekport juga terserang Corona, permintaan pasar teradap Kopi juga lesu. Hal ini berimbas kepada merosotnya harga.

Beberapa buyer menunda kontrak hingga bulan Juni atau Juli, itupun kalau Corona sudah mereda. Situasi ini tentu tidak menguntungkan petani. Menyikapi ini, Bupati, DPRK, pengusaha kopi Aceh Tengah melakukan rapat untuk membahas mengenai kondisi tersebut.

Dalam rapat tersebut, dibahas salah satunya mengenai kemungkinan resi gudang. Resi gudang merupakan dokumen bukti kepemilikan barang yang disimpan di suatu gudang terdaftar secara khusus yang diterbitkan oleh pengelola gudang.

Dokumen ini untuk selanjutnya dapat diperdagangkan, diperjualbelikan dan dapat menjadi jaminan untuk pinjaman di Bank. Dengan tidak adanya pembeli, maka dapat dipastikan barang tertahan, jika resi gudang dapat menjadi jaminan dalam jaminan ke per Bankan, tentu dapat membantu sementara para pengusaha kopi.

Bupati Aceh Tengah, dalam pertemuan itu menyinggung, pihaknya sedang mencari payung hukum, apakah pergeseran Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) dapat digunakan sebagai modal usaha. Jika bisa, barangkali para pengusaha kopi akan mendapat bantuan, talangan, atau stimulus. Namun, bagaimana dengan nasib petani?.

Tidak berbeda jauh, nasib para petani holtikultura, terutama Tomat dan Cabe rawit juga memprihatinkan. Harga cabai rawit di Aceh Tengah, sebagaimana diberitakan anteroaceh.com, Rabu (14/4), mencapai Rp. 4.000 per kilogram. Padahal, untuk biaya panen mencapai Rp. 90.000 per hari, begitu juga dengan Tomat, petani membiarkan busuk dibatang. Salah satu faktor, banyak kedai penampung yang tidak buka akibat teror virus Corona, sehingga tidak dapat dipasarkan.

Siapa yang dapat menanggulangi hal itu semua?, pemerintah daerah adalah yang paling tepat. Jika keuangan daerah cukup kuat, pemerintah daerah dapat menampung hasil panen melalui Badan Usaha Milik Daerah atau Perusahaan Daerah.

Atau, pemerintah daerah dapat memberikan bantuan, subsidi, atau apapun namanya, sehingga kerugian yang dialami petani dapat tertutupi, minimal tidak hancur-lebur. Sebagaimana kata Bupati Aceh Tengah tadi, kalau payung hukum yang dicari itu ketemu, maka sudah seharusnya pemerintah membantu petani dan pelaku usaha kecil.

Komentar

Loading...