Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Setelah Milad GAM ke 44

Dulu Pejuang, Kini di Gubuk Bertahan Hidup

Dulu Pejuang, Kini di Gubuk Bertahan Hidup

Selasa sore (1/12/2020), pria itu terlihat sedang duduk di depan sebuah gubuk. Ukurannya sangat kecil, sekitar 3x3 meter.

Dindingnya papan, tanpa cat. Bahkan masih jauh dari kesan sedehana, apalagi mewah.

“Rumah saya di Mata Ie tidak bisa lagi ditempati karena sudah rusak. Jadi terpaksa saya harus tinggal di gubuk ini sambilan berkebun,” ucap pria itu.

Namanya Hamdie. Sudah empat tahun lebih ia tinggal di gubuk tersebut seorang diri.

Saat ini Hamdie masih tercatat sebagai penduduk Gampong Mata Ie, namun keadaan memaksanya tinggal di gubuk itu, di Gampong Babahlung Kecamatan Blangpidie, Aceh Barat Daya.

Pria berperawakan kecil itu adalah eks kombatan GAM yang pernah ikut bergriliya keluar masuk hutan.

Setelah puluhan tahun berjuang mengangkat senjata di hutan, kini Hamdie kembali berjuang. Tapi kali ini berjuang mempertahankan hidup.

“Untuk kebutuhan sehari-hari disini saya berkebun seadanya,” kata Hamdie sambil menyerumput kopinya.

Pada lahan yang tak seberapa luas di dekat rumahnya, biasanya Hamdie menanam cabai, dan bayam. 

Dari hasil itulah dia menyambung hidup. Tak ada yang mewah melekat padanya begitu juga pada rumahnya.

Hari ini 44 tahun GAM sejak pertama dideklarasikan pada tahun 1976 silam di Pidie, dan 15 tahun lebih kesepakatan damai antara Aceh-Indonesia ditanda tangani. 

Tapi Hamdie mengaku belum pernah merasakan buah dari 30 tahun perjuangannya dalam belantara rimba raya.

“Saya belum pernah merasakan hasil perdamaian yang diamanahkan dalam MoU  yang pernah dijanjikan,” tambahnya.

Tidak hanya Hamdie, banyak eks kombatan lain yang bernasib sama dengannya.

“Padahal kami pernah mempertaruhkan nyawa demi perjuangan pada masa konflik Aceh,” ucapnya serius.

Meski kini hidup di bawah garis kemiskinan, namum sebenarnya Hamdie tak pernah menyesal. Berjuang puluhan tahun adalah pilihan hidupnya kala itu. 

Namun ia menyayangkan, ternyata hasil perjuangan itu hanya dinikmati oleh orang-orang tertentu saja.

“Selama ini saya menilai janji yang tertuang dalam MoU hanya dapat dirasakan oleh orang-orang tertentu,” tambah pria berkulit sawo matang itu.

Hamdie bercerita, pasca damai Aceh ia pernah mengajukan proposal bantuan rumah ke Badan Reintegrasi Aceh (BRA) wilayah Abdya, Namun sayang, mimpi tinggal di rumah yang layak belum tiba saat itu.

“Alhamdulillah, saat itu saya tidak berkecil hati serta tetap bersabar,” kata Hamdie.

Namun demikian, pada tahun 2020 ini lanjutnya, ia menerima bantuan rumah dari Baitul Mall Abdya yang direkom oleh Kapolres Abdya.

“Sebentar lagi mungkin bisa kembali menempati rumah yang layak,” ucapnya.

Hamdie berharap kepada pemerintah Aceh, Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dan Wali Naggroe agar memperhatikan eks kombatan GAM yang kehidupannya masih berada di bawah garis kemiskinan. 

“Jangan sampai anggota GAM yang di bawah  ini seperti ayam tidak ada induknya,” sebutnya.

Menurut Hamdie, orang-orang seperti dirinya tidak pernah meminta banyak. Diberikan modal atau disediakan lapangan kerja saja sudah sangat membahagiakan.

“Kalau itu saja dibantu kami rasa sudah lebih dari cukup,” tutup Hamdie.

Komentar

Loading...