Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Dua Kematian Rohingya di Lhokseumawe Tanggung Jawab Siapa?, UNHCR dan IOM Bungkam

Dua Kematian Rohingya di Lhokseumawe Tanggung Jawab Siapa?, UNHCR dan IOM Bungkam

LHOKSEUMAWE, ANTEROACEH.com - Aceh menjadi salah satu area pendaratan manusia kapal etnis Rohingya sejak terjadi konflik militer di Rakhine beberapa tahun lalu, dan terbesar terjadi pada 2017 lalu. Dalam dua bulan   terakhir Kota Lhokseumawe telah menampung hampir 400 jiwa imigran  tersebut di Shelter BLK Kandang, Kecamatan Muara Dua.

Gelombang terbesar terjadi pada Senin (7/9/2020) dinihari, 297 jiwa mendarat di pantai Ujong Blang, Lhokseumawe. Beberapa dari mereka sempat kabur ke area perkampungan masyarakat tapi berhasil ditangkap dan diserakan ke pihak kepolisian.

Sehari kemudian, seorang dari mereka meninggal dunia di lokasi. Tanpa penangana medis, wanita bernama Nur Halimah (21) itu menghembuskan nafas terakhir hanya ditemani tiga saudaranya yang tidak berbuat apa-apa.

Seorang wartawan TV, Saiful MDA sempat mengabadikan video Nur Halimah  dalam kondisi sekarat. Wanita muda itu hanya ditempatkan di velbed, itupun bukan didalam ruangan atau dibawah tenda melainkan di depan kamar mandi pengungsi.

Kala itu, Saiful   sempat berusaha mencari petugas medis agar bisa diambil tindakan, namun tidak ada. Bahkan ambulance yang ada dilokasi tanpa sopir.

“Banyak relawan disana, tapi semuanya tidak bisa berbuat apa-apa,  saya juga cari mobil agar bisa dibawa  ke rumah sakit , tapi saat saya kembali menemui wanita malang itu, ia telah meninggal dunia,” kata Saiful.

Tak hanya  itu, saat sedang meminta pertolongan, tiba-tiba datang seorang wanita berpakaian bak relawan NGO ikut langsung meminta Saiful meninggal tempat itu. wanita itu melarang dirinya meliput kejadian menyedihkan tersebut.

Diduga , Nur Halimah meninggal dunia akibat  sesak nafas  sejak mendarat. Bahkan pada siang hari sebelum meninggal dunia, Nur Halimah sudah terlihat sakit parah dan mengeluh sakit dibagian dada. Hal itu berdasarkan kesaksikan beberapa wartawan yang mengaku melihat kejadian itu.

Tidak hanya itu, sampai hari kedua banyak pengungsi terlihat masih berjalan tertatih-tatih, sakit dibagian kaki, dan menderita penyakit kulit. Tidak terlihat ada tenda khusus bantuan medis, namun hanya beberapa orang dibawa ke rumah sakit.

“Saya datang di hari kedua, rata-rata mereka kakinya bengkak, tapi tidak ada pengobatan  disana. Mereka hanya ditempat ditenda. Seharusnya langsung diobati, baru hari ketiga mereka mendapat suntikan. Tenda itu juga tidak bersih,  mereka tidur di lantai tenda, miris melihatnya,” kata Gita, jurnalis  salah satu media online.

Sementara itu pada Kamis (10/9/2020) dikabarkan seorang Rohingya lainnya meninggal dunia, Muhammad Khelal (21). Ia menderita hernia dan sempat sesak nafas  sebelum meninggal dunia di RSUD Cut Meutia, Buket Rata , Kamis (10/9/2020) sekitar pukul 07.15 WIB.

Sedangkan Kabag Humas Pemko Lhokseumawe yang juga jubir Satgas penanganan Rohingya menjelaskan yang paling bertanggungjawab dengan kematian dua Rohingya tersebut adalah pihak United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan pihak International Organization of Migration (IOM)

“Untuk kejadian ini mereka yang paling bertanggungjawab, karena mereka yang mengurus pengungsi internasional, dengan Pemko hanya memfasilitasi saja bila ada yang sakit bawa ke rumah sakit,” jelasnya.

Sementara itu sampai saat ini, beberapa petugas UNHCR dan IOM di lokasi shelter tidak mau memberikan informasi terkait kejadian  itu, bahkan terkesan menghindar setiap akan ditemui jurnalis.

Bahkan terkesan UNHCR berusaha menutup semua informasi terkait pengungsi, sehingga   sampai saat ini , publik belum mendapatkan informasi, asal pengungsi tersebut,apakah korban konflik terbaru atau Rohingya yang kabur dari kamp Cox Bazar, Banglades.

“Kami tidak bisa memberikan informasi  kepada media , kami menggunakan translator terhadap Rohingya disini hanya untuk kebutuhan internal UNHCR,” kata seorang petugas UNHCR saat ditemui anteroaceh.com beberapa hari lalu.

Seorang relawan yang menangani pengungsi mengaku, kesulitan berkomunikasi dengan Rohingya karena soal bahasa.

“hanya dua penerjemah dari UNHCR yang ada disini, sangat terbatas, padahal kita butuk berkomunikasi dengan pengungsi setiap hari. Salah satunya biar kita paham mereka butuh apa, termasuk kondisi kesehatan,” keluh relawan itu.

Sementara Ridwan Jalil, Kadis Sosial Kota Lhokseumawe juga menjabat ketua Satgas Penanganan Rohingya, menjelaskan tidak ada yang mengepalai shelter. Kelembagaan yang terlibat saat ini memiliki tugas masing-masing.

“Sifatnya, Pemko dengan lembaga lainnya seperti UNHCR, IOM dan NGO hanya berkoordinasi saja. Kita punya tugas masing-masing,” singkatnya.

Ia juga menjelaskan, Pemko tidak mendanai penangan Rohingya, semuanya ditangani UNHCR dan donasi dari pihak lain.

Komentar

Loading...