Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Dona

Dona

Oleh: Alja Yusnadi

Ada dua Dona yang namanya lagi tinggi-tingginya di saat saya masih anak-anak. Yang satu Madona, satunya lagi Maradona.

Kedua nama itu, tanpa saya kenal wajah sudah dengan sangat mudah melafalkannya. Walau Dona tidak masuk ke dalam materi penataran pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila, namun daya ingatnya melebihi semua itu.

Bahkan, untuk mengingat kabinet pembangunan di bawah pimpinan Presiden Harto butuh waktu lama, walau TVRI dan RRI sudah memutarnya berulang-ulang. Setiap hari, ada beberapa kali siaran berita. Jadwalnya sudah melebihi jadwal makan yang tiga kali sehari itu. Tidak demikian dengan duo Dona itu.

Serampangan, anak-anak usia sekolah dasar sudah sangat jitu menyebut: Madona dan Maradona.

Dona yang pertama, terkenal karena keindahan suara dan kemolekan tubuhnya. Entah dia tahu atau tidak, prestasinya itu sudah meresap hingga ke sudut lorong yang sangat terpencil.

Berikutnya, Dona yang kedua adalah Maradona. Dia dikenal karena gojekannya, goyangannya di lapangan. Bukan hanya gojekan kaki, tapi juga gojekan tangan.

Saya tidak memiliki informasi lebih lengkap mengenai dua Dona itu, baik Dona yang pertama maupun Dona yang kedua. Bukan apa-apa, saya tidak begitu menyukai music seperti Madona atau sepakbola seperti Maradona.

Yang saya tidak lupa, ketika bermain bola di sawah, ramai-ramai memakai baju sepakbola dengan nomor 10 di punggung. Sawah, ketika selesai panen, digunakan oleh anak-anak untuk bermain sepak bola, layang-layang.

Pun Maradona yang saya “kenal” lebih identik dengan Argentina. Baju kebesarannya itu lebih banyak beredar sebagai seorang Argentina. Padahal, Di klub, karir Maradona juga tidak kalah mentereng.

Di Napoli, Maradona begitu diagungkan. Bahkan ada pemuka agama yang menyebutkan datangnya Maradona ke kota itu sebagai petunjuk Tuhan.

Kedatangan Maradona disambut raturan ribu orang. Bagaikan pahlawan yang baru pulang dari medan perang dan membwa panji kemenangan.

Ekspektasi publik Napoli terlalu besar kepada Dona.

Memang benar, kedatangan Donna membawa berkah kepada Napoli. Klub papan bawah tersebut seketika menjelma sebagai klub elit Eropa. Sampai Juventus, klub papan atas dalam jagad sepakbola Italia dari masa ke masa itu harus takluk di bawah lutut Napoli. 

Itu semua setelah kedatangan sang Dewa Sepakbola, Mardonna.

Maradona adalah pesebakbola yang namanya tersohor ke seluruh pelosok negeri. Secara umum, peristiwa penting yang melambungkan nama dan nyaris tidak bisa diulangi oleh pemain lain adalah gol tangan dan gol gocek.

Gol tangan itu terjadi pada piala dunia 1986. Di partai perempat final mempertemukan Argentina dengan Inggris. Babak pertama pertandingan berakhir dengan nol-nol, sama kuat.

Di babak kedua, terjadi kemelut di gawang Inggris. Maradona berduel di udara dengan penjaga gawang Inggris, Shelton. Maradona membuat Shelton tidak berdaya. Dengan mengayunkan tangan seirama dengan kepala, Dona berhasil memasukkan bola ke dalam gawang.

Walau mendapat protes dari pemain Inggris, Ali Bin Naser, Wasit asal Tunisia mensahkan gol tersebut. Dan, gol itu ramai disebut sebagai gol tangan Tuhan. Karena, pasca pertandingan itu, Maradona menyebut gol tercipta melalui kepala Maradona dan campur tangan Tuhan.

Pertandingan itu dimenangkan Argentina dengan skor 2-1. Satu lagi, gol Argentina juga diciptakan oleh Maradona. Proses gol kedua juga tidak kalah cantik. Meliuk-liuk Dona berhasil melewati empat sampai lima pemain Ingris, termasuk memperdaya Shelton, sebelum bola dimasukkan ke dalam gawang. Nyatanya, baik Kepala dan Tangan dua-duanya milik Maradona.

Pertandingan itu terjadi pada 22 Juni 1986, masa dimana saya masih berumur lima bulan. Jangankan menonton, untuk makanpun saya masih disulang.

Saya mengetahui tentang kedua gol itu berpuluh tahun setelah itu. tentu, daya magicnya tidak sememukau dulu.

Pun demikian juga dengan VAR, sebuah teknologi yang dapat melihat ulang peristiwa “penting” yang terjadi di lapangan belum ditemukan.

Setelah itu, nama Maradona menjadi ikon sepak bola dunia. Ketenarannya mengalahkan tokoh politik dan tokoh apapun. Sampai-sampai, sekelompok manusia mendewakan Maradona.

Setelah membawa negaranya menjadi juara dunia tahun 1986, Maradona juga berhasil membawa Napoli menjuarai seri A Italia, UEFA.

Di luar lapangan, Maradona juga terlibat dalam penggunaan obat terlarang. Dia tidak bisa benar-benar lepas dari candu. Beberapa kali harus batal merumput karena tidak lewat tes doping.

Secara politik, Maradona juga dikenal dekat dengan pemimpin negara sosialis. Sebut saja Fidel Castro, Hugo Chaves, Nicolas Maduro, Evo Morales, Daniel Ortega.

Kedekatan dan kegandrungannya dengan tokoh sosialis itu di wujudkan Dona dengan membuat tato dengan wajah Fidel dan Che Guevara di tubuhnya.

Semua itu harus berakhir. Tidak ada lagi gol tangan Tuhan. Tidak ada lagi gocekan. Tidak ada yang abadi. Rabu, 25 November 2020, Diego Armando Maradona telah pergi untuk selama-lamanya.

Di akhir hidupnya, tidak ada lagi badan atletisnya, yang ada hanya badan gempal yang kemungkinan ditimbun banyak lemak. Banyak orang, dari tujuh arah mata angin ikut mengenang kepergian Dona.

Legenda sepakbola itu pergi di usia yang tidak begitu tua dan juga tidak lagi muda: 60 tahun.

Sudah banyak tulisan dari pengamat, pemain, penikmat sepakbola tentang kepergian Dona itu. Sebagai yang bukan pecandu bola dan bukan pula penggemar berat Maradona, saya sengaja menulis artikel ini setelah beberapa hari kepergian Maradona… Selamat jalan Dona.

Komentar

Loading...