Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Etnis Rohingya

Ditolak Banyak Negara, Dianggap Perusuh : Maafkan Kami

Ditolak Banyak Negara, Dianggap Perusuh : Maafkan Kami

Tak hanya jadi korban perang, etnis Rohingya juga kerap mendapatkan perlakukan tidak manusiawi di negara-negara singgahan  termasuk Malaysia, bahkan beberapa penolakan terhadap menusia perahu itu  dikaitkan dengan image etnis  perusuh yang mengancam keamanan  negara lain.

Terkait isu itu, anteroaceh.com sempat mewancarai sejumlah pengungsi Rohingya  yang ditampung di bekas Kantor Imigrasi Lhokseumawe di Syamtalira Bayu, Aceh Utara beberapa hari lalu,  mereka mampu berbahasa melayu karena  pernah tinggal di Malaysia sebelum konflik di Rakhine pecah tahun 2017.

Ziaburrahman (45) masuk ke Malaysia tahun 2015 sebagai pengungsi. ia hanya beberapa bulan disana sebagai buruh,  akhirnya kembali ke Rakhine karena dideportasi. Pria itu membantah dengan  sebutan Rohingya bangsa perusuh.  Ia bahkan menolak disamakan dengan orang-orang Banglades yang juga berada disana.

Menurutnya, Rohingya hanya sebagian kecil dari seluruh imigran yang bekerja di Malaysia. Kekerasan yang dilakukan  oleh segelintir etnisnya hanya karena berusaha bertahan hidup, tidak mau ditangkap atau dikembalikan ke asalnya.

“Maafkan kami, bila itu terjadi. Disana kami biasa saja, tidak banyak yang jahat. Orang-orang lain juga jahat, kenapa  kami yang disebutkan itu. Jangan samakan kami dengan Banglades,” kata Ziaburrahman yang mengaku kali ini  meninggalkan lima anak dan istri  di kem UNHCR  Cox’ Bazar, Teknaf, Banglades.

Namun, pria yang kerap menjadi imam shalat bagi pengungsi lain tersebut tidak membantah ada stigma  etnis Rohingya terbelakang. Menurutnya hal itu wajar, karena sudah sejak lama mereka mendapat perlakuan diskriminatif . Apalagi sejak status kewarga negaraan dicabut, semua hak-hak mendasar seperti pendidikan , kesehatan, beribadah dan keadilan hukum tidak didapatkan.

“Kami bodoh iya,  sejak dulu anak-anak kami  tidak mendapatkan pendidikan yang baik. Tidak ada hukum bagi kami disana. Mungkin ini yang membuat kami dianggap  buruk di negera lain,” sebut pria asal distrik Muangdaw itu.

Hal serupa  diungkap Yunus (23), bahkan dikatakan, pemegang otoritas di Rakhine menghalangi gerenasi muda, terutama anak-anak usia dini mendapatkan pendidikan formal di sekolah-sekolah yang ada hampir diseluruh  wilayah itu.

“Mungkin saya dan teman-teman seperti orang ketakutan. Apakah itu jahat? Jika ada yang memukul saya akan diam?  Saya rasa semua orang sama,” sebut Yunus diaminkan Muhmmad Bodi dan Yusuf.

Sementara itu, Direktur lembaga bantuan kemanusian Aksi Insan Nusantara (AIN) Ricky Hafidz menerangkan, stigma bahwa pengungsi atau korban perang adalah perusuh atau bersikap kurang bersahabat juga dirasakan warga Suriah yang tinggal di kem pengungsian.

“kami akan pelajari isu itu, bahwa mereka berprilaku buruk di Malaysia. Namun sepengetahuan kami hanya sebagian kecil yang sedikit bandel. Itu juga terjadi pada pengungsi perang Suriah,” kata Ricky.

Ia menilai, stigma itu tidak berlaku bagi seluruh pengungsi, contohnya dengan beberapa kasus pengungsi Rohingya yang ditampung di Aceh. Tidak ada persoalan, semua berjalan dengan baik. Termasuk sikap pihak keamanan yang menerima Rohingya atas dasar kemanusian.

Sebelumnya dikabarkan, 99 Rohingya  yang berada diatas kapal motor yang nyaris tenggelam berhasil diselamatkan nelayan  di jarak 80 mil dari bibir pantai Kuala Jambo Aye, Aceh Utara pada 13 Juni 2020 lalu.

Sehari kemudian, mereka digiring ke kawasan Lancok Bayu, kemudian ditarik oleh warga ke daratan. Saat ini 99 manusia kapal  yang kabur dari kem UNHCR  di banglades tersebut diinapkan di bekas kantor Imigrasi Lhokseumawe.

Komentar

Loading...