Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Dilaporkan Soal Pencemaran Nama Baik dan Rasis, Ini Kata Walikota Lhokseumawe

Dilaporkan Soal Pencemaran Nama Baik dan Rasis, Ini Kata Walikota Lhokseumawe
Wali Kota Lhokseumawe Suadi Yahya. (Foto: goaceh.co)

LHOKSEUMAWE, ANTEROACEH.com - Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya tidak mau memberikan lebih jauh terhadap laporan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian yang dilaporkan Sofyan  pedagang Pasar Inpres.

“hal itu saya no Comment, biarkan saja itu,  saya merasa  tidak melakukan tindak kriminal,” kata Suaidi Yahya saat diwawancara anteroaceh.com di sela-sela kegiatan tim Kemenko Polhukam di shelter Rohingya di komplek BLK Aceh Utara di Gampong Mee Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kamis (16/7/2020).

Namun saat ditanya soal pemeriksaan di Polres setempat, Suaidi Yahya mengaku sampai saat ini dirinya belum diperiksa. Karena untuk pemanggilan pejabat daerah harus ada proses yang harus dilalui,yaitu izin dari pimpinan daerah.

“tadi saya sempat ke Polres, tapi bukan untuk perkara itu, saya hanya menghadiri acara penyemprotan disinfektan,” imbuhnya.

Sementara itu beberapa hari lalu Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto menjelaskan saksi pelapor dan satu saksi lain sudah diperiksa penyidik. “Laporan sudah diterima, dua saksi, termasuk saksi pelapor sudah diperiksa,” singkatnya.

Belum Damai

Penasehat Hukum pelapor, Teguh Pribadi  SH saat dihubungi anteroaceh.com menjelaskan kliennya sudah dua kali menjalani pemeriksaan dan sejauh ini belum ada proses damai atau diselesaikan secara kekeluargaan.

“Prosesnya masih lanjut di Polres, saudara Sofyan sudah dua kali diperiksa. Dan ada saksi lain juga sudah diperiksa,” kata Teguh.

Dijelaskan juga, Walikota Lhokseumawe dilaporkan atas dua pasal yakni, Pasal 310 KUHP  tentang pencemaran nama baik dan pasal 27 ayat 3 UU ITE tentang ujaran kebencian .

Sofyan resmi melaporkan Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya ke  Polres  setempat pada Senin 12 Juli lalu. Sebelumnya  laporan mantan aktivis tersebut sempat ditolak petugas SPKT dengan dalih belum ada koordinasi dengan pimpinan.

Pelapor tidak terima disebut sebagai provokator  oleh Walikota Lhokseumawe dalam sebuah acara yang dihadiri unsur Forkopimda di aula Setdako. Ia mengetahui hal itu setelah membaca pemberitaan sebuah media online dan akhirnya mendapatkan rekaman pernyataan bernada tendensius  tersebut.

Dalam rekaman Walikota juga menyebutkan  ‘Sofyan Hitam’.  Kalimat itu dinilai  melecehkan  dan tidak pantas diutarakan seorang pejabat. Apalagi dalam forum resmi.

Sebelum dilaporkan ke polisi, Sofyan sempat memberikan ultimatum kepada walikota untuk meminta maaf 3 kali 24 jam dan disampaikan melalui media online. “Saya kecewa, beliau tidak minta maaf . ini jelas pencemaran nama baik , karena disebut seorang provokator dan ada  kata-kata sangat rasis, ada rekamannya,” ujarnya.

Untuk diketahui, Sofyan pernah aktif di Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat (SmuR) saat Aceh berstatus konflik. Paska damai, alumni FISIP Universitas Malikussaleh terlibat dalam aktifitas partai politik, yaitu Sekjen Partai Rakyat Aceh (PRA), Bacalon Walikota Lhokseumawe pada  Pilkada 2016 lalu bersama Zulkifli Yusuf.

Serta pernah menjabat Ketua Harian DPW Partai Nanggroe Aceh( PNA) Kota Lhokseumawe dan diberhentikan pada 11 Februari 2018 lalu oleh ketua DPW Dedi Safrizal, karena mempersoalkan penggunaan keuangan partai lokal tersebut.

Komentar

Loading...