Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Deru Ekonomi Ditengah Pandemi

Deru Ekonomi Ditengah Pandemi
Foto: solider.id

PENCABUTAN jam malam yang pernah dikeluarkan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Aceh beberapa waktu lalu atas dasar pertimbangan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan pekerja sektor informal.

Selama pembatasan aktivitas setelah pukul 20.30 hingga pukul 05.00 WIB itu membuat pendapatan kedua sektor itu seret.

Setidaknya begitulah alasan Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah terkait pencabutan pemberlakuan jam malam beberapa waktu lalu. Pemerintah Aceh sangat hati-hati dalam mengeluarkan kebijakan, salah satu pertimbangannya adalah ekonomi.

Satu sisi, pemerintah menginginkan pandemi Covid-19 segera berakhir, disisi lain pemerintah juga berpikir dua kali untuk mengeluarkan kebijakan, Karena bisa meruntuhkan ekonomi.

Ekonomi dan keselamatan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan tidak layak juga disuruh memilih satu diantara keduanya. Sama-sama penting.

Di Banda Aceh dan sekitar, gerak keduanya sangat kentara disaat bulan puasa, lihatlah bagaimana disaat menjelang berbuka, beberapa ruas jalan menjadi ramai. Sejak pukul. 16.00 WIB sampai menjelang berbuka.

Sepanjang jalan Keutapang, Neusu, Stui, Ulee Kareng dan beberapa kawasan lainnya, disesaki manusia, jalanan macet. Kiri kanan jalan berjejer makanan-minuman.

Seperti biasa, selama bulan Ramadhan, sebagian masyarakat menjajakan penganan berbuka puasa, mulai dari air kepala, leumang, gado-gado, dan makanan-minuman lain yang menggugah selera.

Sebagian masyarakat lain membeli jajanan untuk keperluan berbuka puasa. Seperti pasar dadakan yang mempertemukan penjual dan pembeli.

Ditahun-tahun biasa tentu ini menjadi kearifan lokal yang belum tentu dimiliki semua daerah. Namun ditengah pandemi ini kita harus mempertimbangkan berbagai resiko, bisa saja penjual yang berpotensi menjadi carrier atau pembeli yang baru pulang dari luar daerah.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika carrier bersentuhan dengan yang bukan carrier? Atau orang yang baru pulang dari luar daerah dan tanpa dia tahu sudah terjangkit virus yang menyerang tenggorokan hingga paru itu, lalu berjabat tangan, tidak menggunakan masker, bersin mengenai masyarakat lainnya? Ini tentu saja mengusik akal sehat kita.

Di daerah yang sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti Bandung Raya dan Jakarta aktivitas serupa sudah mulai dibatasi atau tidak ada sama sekali.

Jika melarang total tidak memungkinkan, karena pasar dadakan itu berfungsi sebagai penopang pendapatan bagi penjual dan mempermudah bagi pembeli. Maka yang perlu diperhatikan adalah penerapan protokol kesehatan; pakai masker, atur jarak fisik, sediakan hand sanitizer. Minimal itu sebagai patokan dasar.

Pemerintah, seharusnya mengantisipasi sebelum Ramadhan, mengimbau, kalau perlu menyediakan lokasi khusus untuk penjual takjil. Penjual, harus memakai masker, menyediakan hand sanitizer untuk pembeli. Jarak antar pedagang harus lebih dari satu meter. Pembeli juga demikian.

Aceh belum aman dari penyebaran Corona, walau lambat, tapi data positif terus bertambah. Sampai hari ini, sudah 9 orang dinyatakan positif.

Karena itu pula, jangan sampai lengah dan menganggap Corona sudah reda. Sembari berpuasa dan berusaha, kita juga tetap harus waspada, karena menjaga agar tidak terkena juga ibadah, ikut serta menyelamatkan sesama.

Komentar

Loading...