Derita Fatimah di Rumah Pelepah Rumbia Lapuk 

Derita Fatimah di Rumah Pelepah Rumbia Lapuk 

LHOKSUKON, ANTEROACEH.com -Kemiskinan masih menjadi persoalan utama di Aceh Utara, kian tahun jumlah masyarakat kurang mampu semakin bertambah. Bahkan kondisinya semakinya parah. Seperti kisah ibu Fatimah yang ditinggal cerai suami dan saban hari harus berjuang agar anak-anaknya bisa makan.

Fatimah menghuni rumah kayu yang sudah rusak parah di Gampong Lhok Seuntang, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. Rumah yang jauh dari layak itu dikabarkan  sudah sangat rapuh, sebagian besar dinding sudah bolong, karena dinding pelepah rumbia tersebut  sudah lapuk dan patah.

Rumah itu juga bukan miliknya, melainkan rumah bekas milik adiknya yang juga sudah janda. Berhubung Fatimah anaknya lebih banyak, makanya rumah itu dipinjamkan. Sedangkan adiknya saat ini menumpang di rumah orang tuanya di desa yang sama.

Di rumah itu ia tinggal bersama anak-anaknya yang masih kecil, yang paling tua bernama Nur Aklima yang tahun ini selesai menamatkan bangku SMP.  Sedangkan anak kedua Septia masih masih SMP dan dalam kondisi cacat. Sebagian tubuh gadis kecil itu terlihat tidak normal,  akibat saat berumur tiga tahun tersiram minyak panas dari belanga penggorengan. 

Kondisi tersebut membuat Fatimah semakin tidak berdaya, karena anaknya jadi cacat seumur hidup. Selian itu ia juga memiliki dua lainnya yang  masih duduk di pendidikan dasar dan seorang masih digendongan.

Fatimah adalah petani upahan, ia tidak punya sawah atau kebun untuk bercocok tanam. Sehari-hari ia menerima pekerjaan sebagai buruh olah sawah dengan upah yang jauh dari kata cukup.

“Ibu Fatimah salah satu warga yang kami prioritaskan mendapat bantuan rumah. Namun tahun ini belum dapat, karena saat tarik tos yang dapat warga miskin lain. Kami selama ini juga mulai menggalang bantuan untuk ibu Fatimah,” ujar Mardani Geuchik Lhok Seuntang, Senin (21/6/2021).

Kata geuchik, selain rumah layak, ibu Fatimah juga sangat membutuhkan biaya untuk melanjutkan sekolah anaknya  ke tingkat SMA. Soalnya untuk keperluan masuk sekolah menengah atas di Kota Lhoksukon membutuhkan biaya lebih besar. 

“Anaknya banyak, jadi kebutuhan makanan pasti lebih besar. Uang hasil kerja sebagai buruh sawah sama sekali tidak cukup. Saya pernah beri bantuan titipan dermawan, kebetulan saat malam jelang Idul Fitri, ia sangat berterima kasih, karena saat itu tidak ada bahan makanan di rumah.  Begitu gambaran kondisi ibu Fatimah,” tambah Mardani.

Mardani yang baru menjabat sebagai geuchik juga mengaku ikut menyebarkan informasi kondisi warganya itu ke media sosial, dengan harapan ada dermawan yang bisa meringankan beban warganya itu.

Komentar

Loading...