Covid-19 dan Ekonomi Gotong Royong

Covid-19 dan Ekonomi Gotong Royong
Ilustrasi virus corona di Indonesia. Foto: Shutterstock
Oleh Herman RN
Berkhidmad pada kerja-kerja sosial dan kebudayaan.

KRISIS keuangan selama penanganan pandemi Virus Corona benar-benar telah menggoyahkan keutuhan perekonomian bangsa Indonesia. Aneka cara dilakukan pemerintah demi penanggulangan Covid-19, termasuk mengalihkan dana desa dan mencari donasi para dermawan.

Semua dilakukan pemerintah demi mengatasi krisis dana kesehatan semasa pandemi Corona. Belakangan, ternyata tidak cukup hanya mengalihkan dana desa dan mencari donasi rakyat, Presiden Jokowi juga meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani mengkaji ulang pembayaran Tunjangan Hari Raya atau THR dan gaji ke-13 para PNS. Imbasnya, ASN, Polri, dan TNI yang memiliki jabatan eselon I dan eselon II tidak mendapatkan THR tahun ini. Dana THR mereka akan dialihkan untuk penanganan Covid-19.

Hal ini terpaksa dilakukan pemerintah karena keuangan negara mengalami defisit sebesar Rp.853 Triliun (tempo.co, 6 April 2020). Di satu sisi, para ASN yang memiliki jabatan eselon tentu merasa bersedih dengan sikap ini. Namun, di sisi lain, Pemerintah Indonesia berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia punya kearifan di tengah bencana, yakni nilai kebersamaan atau gotong royong.

Nilai-nilai gotong royong ini tidak hanya terjadi dalam kebersihan lingkungan, tetapi juga dalam bentuk pengumpulan dana penanganan Covid-19.

Jika dicermati pola penanganan wabah Corona di Indonesia dengan negara-negara lain, memang ada perbedaan drastis. Negara-negara lain berusaha menggelontorkan dana negara dan gaji para pejabat tinggi demi penanganan wabah mematikan ini. Tidak tanggung-tanggung nominalnya, jika di rupiahkan angkanya mencapai ratusan triliun.

Menariknya, di negara kita semangat gotong royong justru membuat penanganan Covid-19 jauh lebih mahal ketimbang negara-negara luas. Kelompok komunitas tertentu ada yang mulai mengumpulkan donasi untuk pembelian Alat Pelindung Diri atau APD tenaga kesehatan. Ada pula kelompok anak muda yang meracik hand sanitizer lalu membagikannya untuk masyarakat.

Semangat gotong royong inilah yang terus digelorakan oleh pemerintah sehingga tidak sungkan minta rakyat memberikan donasi kepada negara melalui rekening-rekening yang dibuka oleh pemerintah.

Menakjubkan! Di antara donasi yang dikumpulkan oleh lembaga tertentu, ternyata rekening yang dibuka oleh pemerintah juga dibanjiri sedekah rakyat. Per 7 April 2020, pemerintah telah berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp.83 miliar (liputan6). Fantastis bukan?!

Harus diakui bahwa nilai gotong royong telah membuat negara ini kokoh dan tangguh. Tentu masih hangat diingataan semua orang betapa rakyat Aceh bergotong royong membeli dua pesawat yang diminta oleh Presiden Soekarno tatkala membangun negara ini di antara puing perang melawan Belanda.

Kiranya, nilai-nilai gotong royong ini diteruskan oleh Presiden Jokowi. Presiden memberikan kebijakan bahwa dana desa dapat dialihkan untuk membantu penanganan kasus Covid-19. Hal ini merupakan sikap gotong royong dari desa. Berikutnya, Presiden Jokowi juga minta kerelaan ASN, Polri, dan TNI eselon I dan II bergotong royong menyumbang THR jatah mereka untuk penanganan Covid-19.

Ada hal yang terlupakan mungkin. Bahwa ASN yang dimaksud oleh pemerintah termasuk di dalamnya dokter, perawat, dan paramedis lainnya. Semua tahu, dokter dan paramedis merupakan ujung tombak dalam menangani pasien terpapar virus Corona. Beberapa dokter bukan hanya menyumbang tenaga, waktu, dan pikiran, tetapi juga sudah menyumbang nyawa untuk negara ini dalam menangani pasien positif Corona.

Ada ribuan dokter dan paramedis lainnya juga sedang menyabung nyawa bersama pasien. Mereka adalah ASN yang di antaranya berpangkat eselon I dan II. Dana THR merekalah yang akan dipotong oleh pemerintah. Sudahkah presiden dan menteri memikirkan hal ini?. 

Pandemi Perekonomian

Semua orang paham bahwa pandemi virus Corona telah berimbas pada pandemi perekonomian bangsa dan negara. Krisis ekonomi tidak hanya dirasakan oleh keuangan negara, tetapi juga oleh rakyat menengah ke bawah. Beberapa tukang ojek online melakukan protes terhadap kebijakan pemerintah yang tidak membolehkan keluar rumah. Beberapa pedagang kakilima juga protes tatkala pemerintah daerah membuat karantina terbatas dan memberlakukan jam malam. Imbas perekonomian masyarakat selama pandemi Corona sungguh terasa tragis, nyaris seperti krisis ekonomi pada masa orde baru.

Nyaris semua negara di dunia merasakan pandemi ini. Akan tetapi, negara-negara di dunia itu berusaha hadir pada periuk-periuk nasi masyarakat miskin. Negara-negara di dunia senantiasa hadir pada hati rakyatnya. Ada presiden di luar sana yang merelakan gajinya dipangkas beberapa bulan untuk penanganan virus Corona. Ada menteri di luar sana yang merelakan gaji mereka hilang hingga 50 persen. Ada anggota dewan di luar sana yang mengikhlaskan gaji dan tunjangan mereka dipotong beberapa bulan. Di Indonesia, ada rekening yang dibuka agar rakyat memberikan donasi.

Tak ada yang salah. Semua itu bentuk solidaritas dan semangat gotong royong rakyat Indonesia. Tanpa ada rekening resmi pemerintah, di daerah-daerah memang sudah dibuka rekening donasi oleh lembaga dan komunitas tertentu. Donasi tersebut ada yang mereka belikan APD lalu diserahkan kepada pihak rumah sakit terdekat, ada pula yang mereka serahkan dalam bentuk makanan bergizi bagi masyarakat yang membutuhkan. Artinya, semua rakyat Indonesia memang sudah melakukan ekonomi gotong royong selama wabah ini. Pertanyaannya, apakah Presiden Indonesia beserta kabinetnya sudah memikirkan pemotongan gaji mereka seperti negara jiran dan negara-negara besar lainnya di dunia sebagai wujud gotong royong bersama rakyat?

Mengutip Ketua Umum Korpri, para ASN di tanah air siap bahu membahu membangun negeri ini. Namun, alangkah baiknya, bahu membahu dan gotong royong tersebut tidak hanya dibebankan kepada ASN, tetapi juga melibatkan kepala negara, wakil rakyat, para menteri, dan staf khusus kepresidenan. Hingga hari ini, rakyat Indonesia belum membaca sebuah kebijakan pribadi dari pemimpin negeri dan para menteri bahwa mereka juga siap dipotong gajinya.

Semua juga tahu bahwa selama kebijakan belajar di rumah, bekerja di rumah, dan beribadah di rumah, ada banyak anggaran perjalanan dinas para pejabat yang dapat dihemat. Rapat demi rapat sudah dilakukan secara virtual. Tidak ada sewa menyewa hotel atau konsumsi rapat seperti sebelumnya. Dengan demikian, ada banyak dana yang semestinya dihemat oleh negara ini. Jika semua dana yang telah nyata dihemat ini ditambah dengan—misalnya—sumbangan gaji presiden, wapres, para menteri, wakil menteri, staf khusus kepresidenan, ditambah dengan sumbangan gaji anggota dewan yang notabene adalah wakil rakyat, barangkali negara ini akan sangat terbantukan. Selain itu, nilai-nilai gotong royong dari tingkat bawah ke atas benar-benar nyata sehingga Indonesia dapat berbangga diri pada dunia bahwa negeri ini adalah negeri gotong royong.

Sebuah pepatah mengatakan bahwa ketangguhan seorang pemimpin itu akan diuji dan teruji pada masa krisis, bukan pada masa normal. Kita tahu bahwa rezim Orde Baru runtuh pada masa krisis, bukan masa normal. Habibie juga mundur secara terhormat pada masa krisis, bukan masa normal. Kini, seluruh rakyat Indonesia membutuhkan ketangguhan Presiden Jokowi dan wapres dalam menangani wabah pandemi Corona. Sebagai rakyat Indonesia, saya yakin Pak Jokowi tangguh!

Komentar

Loading...