Corona Kembali Meregang, Perketat Perbatasan!  

Corona Kembali Meregang, Perketat Perbatasan!  

Sekitar satu pekan Aceh bebas dari Corona. Bebas, dalam makna tidak ada lagi pasien yang dinyatakan positif. Untuk menyatakan bebas sebenarnya bebas, ya harus dilakukan tes swab masal.

Dari lima yang sebelumnnya ditemukan, satu orang meninggal, dan empat lainya dinyatakan sembuh. Sebuah prestasi ditunjukan tenaga medis di RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUD ZA), Banda Aceh sebagai rumah sakit rujukan pasien Covid-19.

Namun,status bebas itu kembali tercoreng. Seorang pasien rujukan dari RSUD Muhammad Ali Kasim, Gayo Lues dinyatakan positif, berdasarkan hasil swab dari laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementrian Kesehatan.

Sebagaimana diberitakan,  yang bersangkutan baru saja pulang dari daerah Zona merah dan statusnya menjadi Orang Dalam Pengaawasan (ODP). Karena ada keluhan sakit, maka dirawat di RSUD Mummahd Ali Kasim, Gayo Lues, dan statusnya menjadi Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Setelah menjalani Rafid test, hasilnya positif.

Selanjutnya, pasien dirujuk ke RSUD Cut Mutia sebagai salah satu rumah sakit rujukan. Untuk lebih meyakinkan, pihak rumah sakit melakukan tes swab, dan hasilnya juga positif. Pasien dirujuk ke RSUD ZA. Sedangkan 16 orang yang pernah bersentuhan dengan pasien melakukan isolasi mandiri dan di tes swab, mulai dari keluarga hingga rekan kerja.

Berikutnya, Minggu (19/4), pasien positif kembali bertambah. Satu orang PDP yang berasal dari RSUD Tgk. Chik Ditiro, Sigli, Kabupaten Pidie di rujuk ke RSUD ZA. Berdasarkan hasil tes swab, PDP tersebut dinyatakan positif.  

Sejak awal ditemukan sampai hari ini, sudah ada tujuh pasien yang dinyatakan positif. Satu orang diantaranya meninggal dunia, empat sembuh, dan sekarang dua orang lagi dirawat di RSUD ZA.

Dengan bertambahnya pasien positif, ini menjadi alarm. Aceh belum maman. Tetap jalankan protokol kesehatan, upayakan tidak keluar rumah, jika pun terpaksa keluar, jangan lupa pakai masker, cuci tangan pakai sabun.

Pemerintah harus meningkatkan pemeriksaan di kawasan perbatasan. Dari kasus baru tersebut, hasil tracking menunjukkan keduanya  baru saja melakukan perjalanan keluar daerah.

Aceh nemiliki beberapa pintu keluar-masuk, diantaranya adalah Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Subulussalam dan Singkil yang berbataan langsung dengan Sumatera Utara. Setiap yang melintas di pintu perbatasan harus di rafid test, tidak cukup dengan tes suhu badan, kalau perlu sekalian ambil sampel air liur untuk tes swab.

Itu jalur darat yang resmi, bagaimana dengan jalur tikus? Jalur laut? dan jalur udara?. Semua jalur itu harus diproteksi ketat oleh pemerintah, jangan lalai atau terlena. Dengan otoritas yang dimiliki, pemerintah dapat menekan penyebaran virus melalui kebijakan yang tepat dan cepat. Salah satu yang patut ditiru adalah apa yang dilakukan Polisi Air dan Udara Polda Aceh, memantau jalur tikus dari udara.

Pesonil yang menjaga perbatasan harus ditambah, bukan hanya jumlah, tapi juga kelengkapan alat, seperti alat rafid tes, Alat Pelindung Diri (APD), alat penagmbil sampel air liur untuk swab tes, dan juga insentifnya.

Sebagaimana tenaga medis, penjaga perbatasan berinteraksi langsung dengan orang yang keluar-masuk yang bisa saja pembawa (carrier) Covid-19, sehingga berpotensi sebagai kelompok rentan. Akhirnya, Corona kembali meradang, Pemerintah harus perketat Perbatasan!

Komentar

Loading...