Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Cerita Janda Miskin di Lhokseumawe , Huni Gubuk Kardus bersama Empat Anaknya

Cerita Janda Miskin di Lhokseumawe , Huni Gubuk Kardus bersama Empat Anaknya
Laila dan anaknya Zahra

LHOKSEUMAWE, ANTEROACEH.com - Baru-baru ini viral video di media sosial curhatan seorang wanita empat anak yang hidup dibawah garis kemiskinan di Kota Lhokseumawe.

Dia adalah Laila (41),  janda miskin yang menghuni gubuk kardus di Gampong Uteungkot, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Gubuk kardus yang dihuni Laila sangat sempit, hanya berukuran 3x2 meter. Tanpa sekat kamar maupun dapur.

Hampir seluruh sisinya terdapat barang, seperti baju dan peralatan sekolah anak-anaknya. Atapnya juga dibuat seadanya dari sisa-sisa karpet plastik ditindih dengan kayu dan batu agar tidak lepas.

Dengan kondisi, bisa dipastikan saat hujan lebat, Laila dan keempat anaknya tidak bisa bertahan di dalam rumah tersebut alias mengungsi.

Gubuk kecil itu mudah dijumpai oleh siapapun yang melintas di kawasan desa yang berbatasan dengan Meunasah Blang Kandang dan Gampong Blang Poroh, terletak  disamping jalan di Lorong Tengku Cot Kupula.

Saat ditemui anteroaceh.com Rabu (3/2/2021) sore Laila mengaku tidak punya uang untuk membeli sepetak tanah apalagi rumah karena sejak berpisah dengan suaminya 10 tahun lalu, ia hidup terus berpindah-pindah dan akhirnya menetap di kawasan tersebut.

Untuk kebutuhan makan dia dan empat anaknya Laila terpaksan harus kerja banting tulang menjadi buruh cuci.

Bahkan ia dan anaknya; Ilham Hidayat baru tamat SMA, Zahra kelas 3 SMP, Sucila Iqomah kelas 1 SMP dan Wahyuda kelas 1 SD sering menahan lapar karena tidak ada uang untuk beli beras.

"Meski kadang saya tidur disini, namun gubuk ini lebih tepatnya kami  gunakan sebagai dapur dan tempat menyimpan barang- barang dan pakaian. Saya belum punya uang untuk buat rumah atau tanah, karena untuk dapat uang makan saja semakin susah," kata Laila.

Ia juga mengaku kerap tidur disebuah kios milik salah seorang warga, karena rumahnya tidak cukup muat untuk tidur berlima. Bahkan sering saling bergantian. Sedihnya lagi, ternyata  gubuk yang dihuni Laila  tanpa aliran listrik.

Laila juga mengaku dia tidak pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah.

"Hingga saat ini saya tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah," ujarnya dengan nada sedih.

Pilunya lagi anak-anak Laila harus berangkat ke sekolah lebih pagi karena harus berjalan kaki agar tidak telah sampai ke sekolah. Dia mengaku tak punya kendaraan dan ongkos angkot untuk anaknya ke sekolah.

"Jangankan uang untuk jajan, untuk ongkos berangkat ke sekolah saja kadang mereka tidak ada, makanya saya sering sedih melihat anak-anak saya seperti itu, " ujarnya.

Informasi lainnya, pihak  guru SMPN 5 Lhokseumawe tempat Zahra bersekolah sudah menyumbang sejumlah bantuan untuk membangun rumah di sebuah tanah kosong milik desa di Gampong Meunasah Mee, Kandang, Kecamatan Muara Dua Lhokseumawe.

Salah seorang guru SMP yang sempat diwawancara mengaku, untuk sementara Zahra serta ibu dan saudaranya tidak lagi huni gubuk kardus dan saat ini sudah berada di rumah baru walau belum selesai.

"Sementara ini mereka sudah bisa menetap di rumah yang baru dibangun itu, karena gubuk mereka kondisinya tidak layak ditempati," ujar guru tersebut yang tak mau disebut namanya.

Menurut sang guru, dana  untuk bangun rumah untuk Zahra dikumpulkan dari donasi para guru di sekolah tersebut, sejak pihak sekolah mendapat kabar kondisi keluarga Zahra.

“Rumahnya belum siap, dan masih butuh banyak biaya dan donas dari pihak masyarakat, karena baru siap kerangka saja. Mudah-mudahan dengan tersebar informasi ini semakin banyak yang membantu Zahra, semoga,” pungkasnya.

Komentar

Loading...