Bupati Resmikan Kilang Padi Modern Milik Pemkab Abdya, Ini Kelebihannya

Bupati Resmikan Kilang Padi Modern Milik Pemkab Abdya, Ini Kelebihannya
Bupati Akmal Ibrahim didampingi Ketua DPRK Nurdianto dan sejumlah pejabat saat meresmi kilang padi milik Pemkab Abdya. Foto: Ilyas

BLANGPIDIE, ANTEROACEH.com – Kilang padi modern  atau Milling Rice Unit (MRU) milik Pemkab Aceh Barat Daya (Abdya) yang terletak di Gampong Suak Labu, Kecamatan Tangan-Tangan akan segera beroperasi setelah diresmikan oleh Bupati Akmal Ibrahim, Kamis (18/2/2020).

Berdasarkan keterangan Kadis Pertanian dan Pangan Abdya, Nasruddin kilang padi itu memiliki sejumlah kelebihan dan nantinya diharapkan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat disana.

Ia mengatakan kilang padi  itu dilengkapi mesin pengering gabah (drayer) dengan kapasitas 20 ton. Proses pengeringan menggunakan drayer bisa memakan waktu 7-8 jam, dengan kalkulasi itu maka kilang itu mampu mengeringkan gabah hingga 40 ton per hari.

Selain itu mesin giling padi pada kilang itu bisa mengiling dengan kapasitas 1,5 - 2 ton per jam, keren bukan.

"Mesin di kilang ini dapat memproduksi beras kelas premium," kata Nasruddin di sela-sela peresmian kilang itu.

Kilang padi milik Pemkab itu dibangun menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2019 sebesar Rp.7,7 miliar lebih.

Kilang padi modern tersebut selama lima tahun kedepan akan dikelola oleh pihak ketiga yakni; PT. Semangat Bersama Entrepreneurship (SBE).

Perusahaan berasal dari Jakarta tersebut secara resmi mulai mengelola kilang padi tersebut setelah menandatangani  kontrak kerja dengan Pemkab Abdya pada tanggal 17 Februari 2021, kemarin.

Bupati Ajak Tanam Bibit Unggul
Bupati Akmal Ibrahim dalam sambutannya saat meresmikan kilang padi tersebut mengajak patani agar menanam bibit padi unggul agar hasil berasnya bisa premium dan enak sehingga bisa membuat harga gabah naik.

“Kalau kualitas benihnya baik dan rasa berasnya enak tentu hasil gabah yang akan kita jual harganya juga tinggi, tetapi saat ini yang terjadi, kualitas benih rendah, rasanya tidak enak, lalu kita berharap agar hasil gabah bisa terjual mahal, tentu tidak mungkin,” kata Bupati peduli pertanian itu.

Akmal menyebutkan agar petani bisa mendapat penghasilan lebih besar bisa menerapkan pola tanam setahun 3 kali. 

“Jika kita mampu menerapkan pola tanam setahun 3 kali panen tentu hasilnya lebih banyak, meski harga gabah hanya Rp 4 ribu per kilogram,” lanjutnya.

Komentar

Loading...