Bocah Miskin  Penderita  Spina Bifida Dirujuk Kembali Ke Banda Aceh

Bocah Miskin  Penderita  Spina Bifida Dirujuk Kembali Ke Banda Aceh

LHOKSUKON, ANTEROACEH.com -  Akmalul Hadi, bayi tujuh bulan penderita Spina Bifida dan penyakit kronis lain terpaksa dirujuk kembali  ke RSU Zainal Abidin Banda Aceh,  Selasa (19/11/2019) pagi. Untuk mendapatkan pengobatan lanjutan.

Baca: Bayi Keluarga  Miskin  di Aceh Utara Alami Penyakit Kronis, Butuh Bantuan Segera

“Kita ambil inisiatif segera merujuk Akmalul Hadi ke Banda Aceh, karena harus segera  ditangani medis secara intensif,” jelas Sriwahyuni ketua Lembaga Peduli Duafa Indonesia (LPDI) Aceh Utara kepada ANTEROACEH.com.

Menurut Sri, bocah dari keluarga miskin asal Gampong Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon itu dijemput langsung dari rumah oleh tim, kemudian dibawa ke poli anak di RSU Cut Meutia  Lhokseumawe untuk  mendapatkan rujukan ke Zainal Abidin.

“Alhamdulillah, walau bantuan minim, kita sudah bisa membantu memberangkatkan  bocah itu dan ibunya ke Banda Aceh, disana akan menjalani rawat jalan ke Poli Anak, untuk penginapan sudah ada rumah singgah di Jeulingke,” katanya .

Untuk kebutuhan, pihaknya sudah memberikan bantuan  uang makan untuk keluarga bocah malang itu selama menjalani perawatan di Banda Aceh. Namun ia berharap banyak  bantuan dari dermawan , karena bantuan yang masuk masih sangat minim.

Sebelumnya dikabarkan, Seorang bayi 17 bulan di Gampong  Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara menderita penyakit komplikasi dan membutuhkan biaya pengobatan besar.

Akmalul Hadi  terdapat benjolan di punggung  yang terus membesar atau Spina bifida , itu adalah cacat lahir yang ditandai dengan terbentuknya celah atau defek pada tulang belakang dan saraf tulang belakang bayi. Kelainan ini dipicu oleh pembentukan saraf tulang belakang yang tidak sempurna pada bayi selama dalam kandungan.

Kemudian,  bocah malang pasangan Iskandar  dan Yuliana itu sejak berumur 8 bulan sudah menderita Hidrosefalus, kepala terus membesar . Selain itu juga menderita Hernia. Perut dan kelamin terus membengkak.

Saat ini ia dan keluarga tinggal di rumah neneknya di Lhok Puuk, karena belum memiliki rumah sendiri, selama ini ia tidak mendapat rawatan layak karena ayahnya hanya seorang buruh nelayan. Dengan pendapatan tak menentu, sedangkan ibunya  tidak bekerja. Jangankan untuk biaya berobat, untuk makan  sehari-hari, orang tuanya kewalahan.

Komentar

Loading...