Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

BKSDA Aceh Segera Tanggani Belasan Gajah Liar yang Obrak-Abrik Kebun Warga di Aceh Jaya  

BKSDA Aceh Segera Tanggani Belasan Gajah Liar yang Obrak-Abrik Kebun Warga di Aceh Jaya  
Foto: (antara)

CALANG, ANTEROACEH.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh akan segera melakukan upaya penanggulangan terhadap gajah liar yang mengobrak-abrik lahan kopi dan sawit warga didaerah Gampong Teupin Asan dan Gampong Babah Dua, Kecamatan Darul Hikmah, Kabupaten Aceh Jaya.

Kepala BKSDA Aceh, melalui Leader Cru Sampoinet, Aceh Jaya, Samsul Rizal mengatakan, setelah melakukan seksi wilayah, pihaknya akan segera melakukan penangganan terhadap belasan gajah liar yang sudah mengobrak-abrik perkebunan warga.

“Pertama yang ingin kita sampaikan kalau kita benar-benar telat menerima informasi jika gajah itu sudah keluar dari habitatnya, dan  kita baru mengetahui setelah beberapa hari gajah itu berada di perkebunan warga, dan merusak kebun warga,” ungkapnya saat dihubungi anteroaceh.com, Selasa (17/11/2020).

Rizal mengaku, pihaknya mengalami kesulitan dalam hal pengiringan gajah-gajah tersebut. Sebab, katanya, saat ini kondisi cuaca di Aceh Jaya tidak mendukung dikarenakan hujan deras.

Namun begitu, pihaknya juga akan segera melakukan upaya penggiringan terhadap gajah tersebut dengan cara menggunakan marcon, sehingga gajah-gajah itu segera kembali ke habitatnya semula.

“Jadi, untuk sementara ini kita hanya melakukan upaya dengan memberikan marcon ke petani yang bertahan di kebunnya, apabila gajah mau masuk ke perkebunan petani bisa meletuskan marcon, sehingga gajah-gajah itu tidak masuk ke kebun petani, dan ini memang cara  manual atau cara standar yang sering kita gunakan untuk mengusir gajah supaya bisa kembali kehabitatnya,” jelasnya.

Kemudian, kata dia, belasan gajah yang sudah merusak kebun petani, seperti sawit, kopi dan jengkol disebabkan kondisinya habitat gajah sedang tidak aman dikarenakan kondisi cuaca hujan deras, sehingga gajah-gajah ini ketakutan dan turun dari habitatnya.

“Apalagi kita melihat dari kelompok gajah ini ada bayi gajah yang barus lahir, dan ini juga satu faktor sehingga mereka turun dari habitatnya apabila kondisi alam cuaca tidak menndukung,” terangnya.

Rizal juga mengaku, jarak permukiman warga dengan perkebunan lebih kurang sekitar 4 kilometer, namun tidak tertutup kemungkinan gajah-gajah tersebut tidak memasuki areal persawahan dan permukiman warga.

“Meskipun terbilang jauh, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan jika gajah-gajah ini akan masuk ke sawah dan permukiman warga, prediksi kita bisa saja gajah ini berputar arah sehingga masuk ke perkebunan dan pemukiman warga. Intinya yang perlu kami sampaikan, jika mendapatkan informasi gajah masuk ke perkebunan warga dan lainnya, maka segera mungkin kita akan melakukan upaya dalam hal pencegahan,” pungkasnya.

Komentar

Loading...