Bertemu Wali Nanggroe, Bupati Aceh Tamiang Sampaikan Ini

Bertemu Wali Nanggroe, Bupati Aceh Tamiang Sampaikan Ini
Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al Haytar, saat mengadakan pertemun dengan Forkopimda Aceh Tamiang (Foto: Syafrizal/anteroaceh.com)

KUALA SIMPANG, ANTEROACEH.com- Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al Haytar, melakukan kunjungan ke Aceh Tamiang. 

Dalam kunjungan tersebut Wali Nanggroe mengadakan pertemuan dengan Bupati Aceh Tamiang, H. Mursil, SH, M.Kn serta Forkopimda, Senin (7/12/2020), di ruang rapat Bupati.

Pada pertemuan tersebut Bupati Mursil, menyampaikan berbagai macam persoalan ada di Aceh Tamiang.

Beberapa persoalan yang disampaikan Mursil diantaranya banjir, yang saban tahun terjadi di Aceh Tamiang, 

Selain itu Bupati juga menyampaikan masih banyak masyarakat yang menempati rumah tidak layak huni.

“Walaupun setiap tahun ada bantuan dari Kementerian PUPR maupun juga dari Pemerintah, namun karena jumlah yang sangat banyak sehingga masih kurang bantuan-bantuan tersebut. maka dari itu kami sangat memohon dukungan dan perhatian dari  Wali Nanggroe,” ungkap Bupati.

 Dalam kesempatan itu Bupati juga melaporkan bahwa masih banyak infrakstruktur seperti jalan yang belum terbangun, khususnya yang menghubungkan dengan beberapa Kabupaten diwilayah Hulu yaitu Gayo Lues dan Aceh Tengah. 

“Aceh Tamiang belum ada sarana irigasi untuk persawahan, sehingga menyulitkan petani sawah dalam bertani,” tambahnya.

Merespon apa yang disampaikan Bupati, Wali Nanggroe berjanji menyampaikannya kepada Kementerian dan mencari penyelesaiannya bersama serta mengambil langkah-langkah yang baik.

“Untuk masalah teknisnya nanti akan saya urus, masalah rumah dhuafa ini memang jadi perhatian kita semua yang mana rumah nya tidak layak huni, dan nanti akan kita bicarakan lebih lanjut," kata Malik Mahmud.

Wali Nanggroe mengaku, kedatangannya ke Aceh Tamiang, selain ingin silaturrahim juga untuk mengetahui persoalan yang terjadi di wilayah perbatasan.

Ia menuturkan, banyak persoalan tanah yang terjadi di perbatasan, sepert di Singkil dan Subussalam.

“Banyak juga orang-orang di daerah Sumatera yang datang kesana yang awalnya dengan niat berbisnis sampai akhirnya membangun gereja-gereja. Ini menjadi permasalahan yang rumit karena masalah agama menjadi hal yang sangat sensitif,” terang Wali Nanggroe.

Selain itu lanjutnya, juga masalah pulau-pulau kecil yang menurut sejarah adalah milik Aceh, tiba-tiba ada kabar yang beredar telah diklaim oleh Sumut.

“Tujuan datang kesini untuk mengetahui sejarah dari Aceh Tamiang yang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara, apakah ada konflik- konflik yang terjadi demikian dengan Sumatera Utara,” tutupnya.

Hadir dalam pertemuan tersebut, Unsur Forkopimda Aceh Tamiang, Kepala Dinas PUPR, Kepala Dinas Pertanahan, Kepala Kantor Pertanahan, Kepala Bagian Tata Pemerintahan, Kepala Bagian Humas, Camat Seruway, Camat Rantau, Camat Kejuruan Muda, Camat Tenggulun dan beberapa tamu undangan lainnya. || SYAFRIZAL

Komentar

Loading...