Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

'Bencana Kritikan' dan Mie Tumis Otung

'Bencana Kritikan' dan Mie Tumis Otung

Oleh: Alja Yusnadi 

Di bulan puasa, umat Islam diwajibkan menahan lapar dan haus setelah sahur hingga menjelang magrib. Bagi anak-anak yang baru belajar, tentu hari-hari pertama sangat berat. Bagi yang dewasa tidak mengapa, apalagi dewasa amalan. Puasa sepanjang siang hari itu hanya sepersekian dari puasa yang pernah dijalankan.

Selain anak-anak yang baru belajar puasa, cobaan berat juga dialami oleh Nova Iriansyah, Plt Gubernur Aceh. Di tengah beban pandemi Covid-19, beberapa kawasan di Aceh juga dilanda bencana banjir. Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Utara, Pidie Jaya, bahkan dataran tinggi Gayo ikut disapu banjir. 

Kian lengkap, Nova juga menghadapi bencana kritikan. Sebenarnya kurang tepat kritik disebut bencana. Tapi tak mengapa, karena sekarang lagi musim bencana.

Sejak ditetapkan sebagai Pelaksana Tugas  Gubernur Aceh, hampir tidak ada hari tanpa kritik bagi Nova Iriansyah. Kalau tidak pas dihadapi, bisa membuat telinga merah saga dan pipi merah merona, dan hati membara. Istilah anak muda sekarang: baper atawa bawa perasaan. 

Memang, skil tambahan yang harus dimiliki pemimpin di era digital ini adalah kemampuan menghadapi kritik. Baik presiden sebagai pemimpin tertinggi, hingga kepala desa atau kepala dusun tidak pernah bebas dari kritik. Era keterbukaan informasi, tidak bisa ditutup-tutupi. 

Kalau dulu, di era Orde Baru, Mahbub Djunaidi, Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Najib, Gunawan Muhammad mengkritik penguasa melalui opini, kolom, essay. Tidak semua orang mempunyai keahlian, butuh seseriusan. Mencari data, menulis, dan mengirim ke redaksi. Kalau sekarang? Cukup isi paket internet atau memanfaatkan wifi gratis, tulis dua-tiga kalimat, bahkan dengan gaya satire model baru; Meunyet-nyet.

Beberapa hari terakhir, Nova diuji dengan dua kasus. Pertama, hengkangnya pengusaha dari Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong. Kedua, terpampang di halaman depan salah satu media cetak di Aceh dengan judul “Nova Kaitkan Bencana Dengan Medsos.”

Dua isu ini cukup menyedot perhatian publik dan saya duga membuat Nova tak bisa-paling tidak tak nyenyak-tidur. Di awal kepemimpinannya, Nova acap kali bersorak-sorai perihal investor. Mulai dari mengundang investor lokal, nasional, bahkan sampai ke UEA menjemput investasi.

Peristiwa hengkangnya PT. Trans Continent dari KIA Ladong menjadi pukulan telak bagi Pemerintah Aceh. Bagaimana mau mengundang, sementara yang sudah datang, pergi dengan hati luka. Ibarat sepasang kekasih, ditinggal kawin.

Apalagi, penyebab Ismail Rasyid pergi karena Pemerintah Aceh dianggap tidak konsisten. PT. PEMA, perusahaan plat merah yang ditunjuk untuk mengurus Kawasan Industri Ladong belum bekerja. KIA lebih mirip kawasan lembu, tak ada pagar, tak ada listrik, tak ada parit, yang ada hanya lembu. Belum lagi, ada “pajak nanggroe”. 

Singkatnya, satu-satunya perusahaan yang telah meletakkan batu pertama, pergi. Karena merugi. Peristiwa itu mengisyaratkan Pemerintah Aceh tidak serius, main-main mengurus investasi.

Kedua, entah bagaimana mulanya, media cetak lokal di Aceh menjadikan pernyataan Nova sebagai headline, “Nova kaitkan Bencana dengan Medsos." Apa yang hendak disampaikan Nova dengan kalimatnya itu? 

Publik menangkap, salah satu penyebab bencana adalah pengguna medsos yang nyinyir. Bisa jadi karena banyak sekali yang menggunakan medsos untuk mencerca kinerja Nova.

Benarkah demikian? Mungkin Nova ingin menghibur korban banjir di Paya Tumpi dengan mengembalikan semuanya kepada kehendak Yang Maha Kuasa. Mungkin, dia meminta untuk merenung, selama ini ada yang salah dalam hubungan dengan pemilik Alam.

Saya tidak mengenal Nova secara dekat dan karena itu pula tidak mengetahui tabiatnya. Beberapa kali, saya sempat mendengar Nova berpidato, cukup bagus untuk ukuran kepala daerah. bahasanya runut, bicaranya berwibawa, jernih.

Sebenarnya, Nova memiliki modalitas yang cukup sebagai politisi dan kepala daerah, sebagaimana tradisi pendahulunya, Gubernur Aceh yang berasal dari kampus, insan akademis. Sebut saja Irwandi Yusuf, Samsuddin Mahmud, Ibrahim Hasan, adalah Gubernur Aceh yang mengawali karir sebagai dosen.

Latar pendidikan juga tidak alang-kepalang, alumni ITS dan ITB. Banting setir dari dunia kampus pada tahun 2006, Nova bergabung bersama Partai Demokrat dan tahun 2009 terpilih menjadi anggota DPR RI. Pilkada 2012 dia ikut kontestasi pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh berpasangan dengan M. Nazar, tapi gagal. Lima tahun kemudian, dia mencoba lagi. Bersama Irwandi Yusuf, Nova memenangkan pertarungan. Jelas bukan amatiran.

Tapi, kenapa sejak menjadi Plt Gubernur Aceh, Nova seperti gagap? Dia seakan tidak  membangun konsolidasi politik. Padahal berbagai tim pembantu sudah dibentuk. Nova yang cerdas seakan hilang. 

Berawal kurang baiknya hubungan dengan DPRA, beberapa kebijakan blunder, penganggaran APBA 2020 yang tidak efektif. Jadilah Nova semacam samsak. Pemerintah Aceh berjalan landai, entah ada nahkoda atau tidak. 

Tapi, itulah resiko pemimpin, harus siap sekalipun kritik pedas, sepedas mie tumis otak-jantung atau mie tumis otung.

Perkara mie ini saya cerita sedikit. Sebagai penggemar kelas berat, saya tidak pernah makan mie dicampur otak dan jantung sekali jalan. Palingan mie dicampur daging atau dicampur telor atau dicampur udang atau lobster. Warung-warung juga tidak menyediakan. 

Malam itu, teman saya, Fauzan, Muhajir, Azis mengajak makan mie tumis otung. Kalau anda memiliki riwayat kolesterol dan asam urat, jangan coba-coba mendekat. Tapi rasanya jangan tanya, memaksa lidah menjilat hingga sendok terakhir.

Mengelola pemerintah memang seperti memakan mie tumis otung. Dirasa-rasa, diukur-ukur. Jangan sampai otak berhenti berfikir dan jantung berhenti berdetak. 

Karena daya pacunya diatas rata-rata. Harus diwaspadai, seperti kata Hilgard yang dikutip Albertine Minderop dalam bukunya Psikologi Sastra, ketika menghadapi masalah yang bertumpuk, kadang-kala mencari solusi lain dengan masuk ke dunia khayal, solusi yang berdasarkan fantasi ketimbang realitas.

Misalnya, pada masa perang, serdadu menempelkan gambar-gambar pin-up girl di barak. Fantasi kehidupan tetap berlangsung pada saat kehidupan seksualnya terganggu. 

Dalam contoh lain, orang yang lapar, mengumpulkan potongan gambar berbagai hidangan. Jika dibiarkan, lama-lama menjadi stereotype, pengulangan perbuatan yang tidak bermanfaat dan nampak aneh.

Di penghujung Ramadan, kita berharap sopir dapat menyetir dengan cermat. Tidak masuk ke dalam jurang. Tidak ditusuk dari dalam. Tidak ada olok-olok. Jika ini berhasil, ada baiknya Nova mencoba semangkok mie tumis otung. 

Komentar

Loading...