Begini Kehidupan Bocah Curi Uang Masjid di Aceh Utara yang Diancam Pistol Oknum Polisi

Begini Kehidupan Bocah Curi Uang Masjid di Aceh Utara yang Diancam Pistol Oknum Polisi

LHOKSUKON, ANTEROACEH.com - Penganiayaan dan intimidasi terhadap  seorang bocah oleh sejumlah warga dan seorang oknum polisi di Masjid Baiturrahman Ceumpeudak, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara  saat ini masih  ditangani kepolisian. 

Kejadian pada  Senin 24 Mei lalu itu akhirnya viral berkat rekaman dua video yang tersebar di media sosial dan mendapat renspon beragam dari  masyarakat. Namun dominan menyalahkan sikap warga dan oknum polisi yang dinilai berlebihan dan terkesan sangat arogan terhadap anak dibawah umur.

Soalnya, sekalipun si bocah itu sudah mengaku telah mengambil uang sebanyak 1,5 juta dari celeng masjid, warga tetap memukul bocah itu berkali-kali di kepala, sampai-sampai muncul oknum polisi kemudian mengancam dengan pistol berisi peluru sehingga si bocah sangat ketakutan. 

Pada video lainnya, si bocah akhirnya dibawa keluar dari halaman masjid dengan kondisi leher terikat tali.

Belakangan muncul kabar, kasus pencurian itu sudah didamaikan di Mapolsek setempat, setelah keluarga si bocah mengembalikan uang tersebut kepada pengurus masjid. 

Kepada petugas di Mapolsek bocah itu mengaku memakai uang untuk jajan dan makan. Pencurian dilakukan saat Ramadan lalu, dan baru diketahui pengurus masjid setelah melihat rekaman CCTV.

Penuturan Akmal Daud  dari lembaga Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) kepada anteroaceh.com,   Rabu (2/6/2021), bocah malang bernama MF (13) tersebut  tinggal bersama ayahnya Nazaruddin (57) di Gampong Rawang Itek, Kecamatan Tanah Jambo Aye. Ayahnya sudah pisah dengan ibunya sejak 7 tahun lalu, karena persoalan ekonomi.

Ibu memilih tinggal di medan bersama kakak perempuannya. Sedangkan adik laki-lakinya masih bersama dengannya. Mirisnya ayah MF sekarang menderita penyakit  paru akut dan penyempitan saraf, sehingga tidak bisa lagi mencari nafkah.  Ia hanya bisa terbaring di rumah.

Dulu, jelas Akmal,  Nazaruddin adalah penarik becak dayung di sekitar kota Panton Labu, kemudian sempat kredit motor agar bisa ngojek. Tapi setelah kredit lunas, motornya hilang dibawa kabur orang. Saat ini tidak ada lagi yang bisa dikerjakan pria paruh baya itu untuk menghidupi MF dan adiknya. 

Kata Akmal, keluarga miskin itu menghuni rumah bantuan dengan kondisi memperihatinkan. Tidak ada perabotan di rumah 6x7 meter tersebut. Bahkan MF dan adiknya tidak punya tempat tidur alias tidur beralas tikar. Dapurnya juga berantakan dan tidak tersedia bahan makanan.

“Selama tidak ada ibunya, MF lah  yang sering memasak untuk ayah dan adiknya, sungguh menyedihkan memang. Mirisnya lagi, sejak 7 tahun lalu ia tidak sekolah lagi, saat itu ia diajak ibunya ke Medan, namun dijemput lagi oleh keluarga ayahnya setelah beberapa tahun terlunta-lunta disana,” ungkap Akmal.

Pengakuan Akmal, untuk kebutuhan makan sehari-hari didapatkan dari bantuan kerabat dan tetangga. Begitu juga dengan uang jajan walau jarang. 

“Terlepas dari kasus yang menjeratnya, MF adalah anak yang baik ia sangat ingin bersekolah seperti teman-temannya, tapi karena tidak punya biaya akhirnya ia pasrah apalagi ia harus memikirkan sendiri untuk bisa makan,” sebut Akmal.

Bahkan, sambung Akmal, MF adalah cucu dari tokoh pendiri Masjid Raya Pase Panton Labu, yang nota bene salah satu masjid termegah di Aceh Utara. Hanya saja nasibnya kini berbeda, setelah kondisi ayahnya semakin terpuruk karena penyakit.

“Kehidupan MF adalah satu dari ribuan potret anak-anak miskin di Aceh Utara yang tidak tersentuh bantuan, terutama dari  Pemerintah Aceh dan Aceh Utara yang  memiliki kewenangan dalam pengelolaan anggaran daerah,” tambahnya.

Saat ini pihaknya sudah menyerahkan sejumlah bantuan kepada Akmal, bahkan rencananya akan dibawa ke sebuah lembaga pendidikan Islam di Bireuen dan menanggung biaya pendidikan.

Komentar

Loading...