Bank Aceh Harus Bergegas

Bank Aceh Harus Bergegas

Oleh: Ihsan Yunadi
Pasca pemberlakuan Qanun Aceh tentang Lembaga Keuangan Syariah (LKS) membuat munculnya peta baru ‘persaiangan’ perbankan di Aceh.

Selain bank konvensional yang telah ‘angkat kaki’ dari Aceh juga margernya sejumlah bank Himbara Syariah menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI) membawa warna baru khususnya di Serambi Mekah.

Suka atau tidak, masyarakat Aceh disuguhkan dua bank utama sebagai pilihan tranksaksi keungan mereka; Bank Aceh Syariah (BAS) dan BSI. Disamping itu juga ada perbankan lainnya yang juga telah ikut ‘bersyariah’ namun assetnya tak sebesar dua bank itu.

BSI saat ini tengah fokus melakukan migrasi mulai dari data nasabah hingga penyatuan system dari bank-bank yang kemudian jadi BSI seperti BRIS, BNIS dan BSM. Tidak tanggung-tanggung lima hari proses migrasi di Aceh sudah 1,1 juta rekening nasabah beralih ke BSI nilai uang yang beralih diperkirakan diatas 10 triliun.

Dari penyatuan itu berbagai keungggulan dari tiga bank itu disatukan misalnya tarik tunai tanpa kartu ATM, fitur zakat dan layanan Islami disematkan disana, selain itu sejumlah fitur layanan umum lainnya seperti top up ke dompet digital berbagai pembayaran dan layanan pembelian seperti pulsa dan token listrik juga include disana.

Sebagai bank milik daerah, saya lebih tertarik membahas perlunya Bank Aceh Syariah bergegas menyiapkan berbagai kebutuhan masyarakat sehingga menjadi pesaing unggul dalam perbankan Syariah walau disisi lain Bank Aceh telah memiliki pasar sendiri mulai dari pembiayaan keuangan untuk PNS dan menjadi bank mitra pemerintah daerah.

Lebih dari itu, sepertinya BAS juga memiliki peluang lebih besar dengan hadirnya Qanun LKS tentunya dengan mengejar sedikit ketertinggalan yang masih ada di Bank Aceh. BAS harus menjadi tuan rumah atas lahirnya Qanun LKS.

Asset Bank Aceh Syariah memang terus melesat naik belakangan ini, bahkan Dirut BAS menyebut ditengah pandemi Covid-19 asset Bank Aceh terus meningkat dan menunjukkan perkembangan yang sangat positif.

Tapi BAS memang harus segera melakukan perbaikan dan upgrading di sejumlah potensi yang bisa dimaksimalkan misalnya, aplikasi mobile banking; Action, masih banyak fitur yang dibutuhkan oleh masyarakat belum tersedia disana.

Sebut saja jika ada nasabah yang ingin membeli token listrik atau mambayar listrik, saat ini nasabah harus memindahkan dananya dari Bank Aceh Syariah ke bank lain atau transfer ke saldo dompet digital dan itu akan dikenakan biaya transfer antar bank Rp. 6.500 ini akan menjadi pertimbangan nasabah menempatkan dananya di BAS.

BAS benar-benar harus berlari kencang menyiapkan layanan digital itu agar masyarakat Aceh yang menempatkan dananya disana tidak perlu repot jika ingin membayar tagihan kartu Hallo mereka atau membayar internet Telkom Spedy bahkan untuk top up uang mereka ke dompet digital beberapa contoh kecil ini manjadi catatan penting bagi BAS untuk terus berbenah.

Disisi lain kita juga mengaprsiasi Bank Aceh sebagai Bank Pembangunan Daerah (BPD) telah ‘mendigitalisasi’ layanan bahkan secara berturut-turut dua loncatan besar telah dilakukan pertama dilounchingnya aplikasi Action, kedua lahirnya kartu Debit Bank kebanggan masyarakat Aceh itu. 

Satu lagi yang paling mutkhir Bank Aceh Syariah dipercaya sebagai penyalur bantuan bagi pelaku usaha mikro (BPUM) tahun 2021, BAS menjadi BPD pertama di Indonesia yang dipercaya Kementerian Koperasi dan UKM RI untuk melakukan tugas itu.

Oh iya saat ini seluruh pengusaha atau rekanan lokal yang bekerjasama dengan instansi pemerintah juga diminta untuk menggunakan layanan Bank Aceh Syariah sebagai rekening giro perusahaan mereka, alasannya sederhana untuk mempermudah transaksi karena memang seluruh instansi pemerintah di Aceh menggunakan Bank Aceh sebagai mitra.

Namun ada masalah kecil yang muncul disana sehingga menjadi keluhan sejumlah pemilik perusahaan, misalnya untuk membuat buku cek pemilik perusahaan harus menunggu sampai 1 atau 2 hari setelah mendatangi Bank untuk meminta buku cek baru. 

Lebih kurang begini prosesnya, pada hari pertama mendatangi bank, pemilik perusahaan diminta antri untuk melakukan proses permintaan buku cek baru, setelah proses itu selesai dan data sudah diterima pihak bank maka nasabah akan diminta kembali satu atau dua hari setelahnya.

Saat datang seperti jadwal yang ditentukan petugas kita diminta kembali mengantri untuk proses pengambilan buku cek tersebut, agak sedikit membuang waktu bagi pengusaha yang terus berkejaran dengan waktu. 

Jika dibandingkan dengan salah satu bank konvensional yang pernah ada di Aceh proses pengurusan buku cek bisa selesai dalam satu hari kerja bahkan hanya sekitar satu jam.

Kita berharap Bank Aceh Syariah terus tumbuh kembang di tengah iklim keuangan Syariah saat ini. Masyarakat Aceh berharap Bank Aceh bisa menjadi roll mode perbankan Syariah di Indonesia.

Penulis adalah nasabah setia Bank Aceh Syariah

Iklan Bank Aceh Idul Adha 1442

Komentar

Loading...