Balada Plat BL di Kota Medan

Balada Plat BL di Kota Medan
Ilustrasi

MEDAN memiliki pertautan tersendiri dengan Aceh. Sebagai kawasan perdagangan, Medan menjadi penyedia berbagai kebutuhan, mulai dari kebutuhan dapur sampai kebutuhan hiburan.

Perekonomian Medan turut dipengaruhi oleh intensitas orang orang Aceh berkunjung kesana. Beberapa Hotel bahkan memberikan potongan khusus bagi tamu yang ber KTP Aceh.Hal ini menunjukkan adanya saling ketergantungan antara Aceh dan Medan.

Dalam situasi normal, diakhir pekan, banyak kendaraan roda empat dengan kode nomor polisi BL berkeliaran di Medan, baik plat merah, kuning, maupun plat hitam. BL adalah nomor polisi untuk kendaraan yang berasal dari wilayah hukum Provinsi Aceh.

Sebagai kota besar, Medan menawarkan banyak pilihan. Selain urusan perdagangan juga urusan hiburan. Keluarga yang agak mapan sering memilih Medan sebagai tempat liburan.

Namun, hubungan baik tersebut dicederai ulah oknum polisi lalu lintas yang melakukan pungli kepada pengendara ber plat BL. Prilaku tersebut acap kali terjadi di perbatasan dan di kota Medan. Setiap melihat plat BL, bagai singa kelaparan menemukan mangsanya. Jika saja razia tersebut dilakukan untuk menjaring semua kendaaraan, tentu kita apresiasi, namun jika hanya menjaring plat BL, sungguh keterlaluan.

Baru-baru ini, oknum polantas kembali berulah di kota Medan. Dalam video yang diunggah di media sosial, Bripka Rasoki Siregar memberhentikan kendaraan dengan nomor polisi BL 1588 QA.

Dalam video tersebut, tidak nampak plang razia, hanya Rasoki sendiri yang berpakaian seragam. Celakanya, polisi tersebut juga ketahuan meludah ke arah supir.

Apa yang dilakukan Rasoki benar-benar keterlaluan, tidak bisa dibiarkan. Setelah diperiksa Propam, akhirnya dijatuhi hukuman, dimutasi keluar poltabes Medan.

Ini bukan kasus pertama, dan kemungkinan kalau tidak ditindak tegas juga bukan yang terakhir. Kapolda Aceh dan Kapolda Sumatera Utara harus duduk membicarakan masalah ini secara serius.

Polisi harus memberikan rasa aman kepada masyarakat melalui semboyannya; melindungi, mengayomi, melayani masyarakat. Polisi dalam menjalankan tugasnya tidak memandang suku, tidak memandang plat. Kalau salah, mau BL atau BK sama saja, harus ditindak.

Jangan ada dikriminasi atas nama Plat. Ibarat penyakit, kasus ini sudah kronis, harus segera diamputasi. Pimpinan kepolisian harus mengintruksikan kepada jajarannya, diseluruh Indonesia, jangan ada diskriminasi.

Barangkail tidak cukup dengan mutasi, kalau perlu harus dibebas tugaskan. Harus diberikan efek jera. Jangan sampai, gegara oknum polantas seperti ini menimbulkan ketakutan dan keresahan dimasyarakat. Sementara plat BK bebas berkeliaran di Aceh, tidak ada perbedaan.

Komisi III DPR RI harus mendakwa Kapolri. Tekan dia untuk menertibkan anak buahnya. Pemerintah Aceh juga harus mengadvokasi. Jangan sampai masyarakat Aceh enggan mutasi, gegara negara gagal memberi rasa aman kepada pemakai BL di Kota Medan. Jangan sampai,”Rencong kiri-kanan, plat BL terus-terusan kena tilang”.

Komentar

Loading...