Adu Domba Kitab Suci Aceh

Adu Domba Kitab Suci Aceh
Ilustrasi.

Oleh : Alja Yusnadi

Jangan main-main dengan agama, apalagi memperoloknya. Akibatnya bisa bahaya. Di abad pertengahan, penaklukan dilakukan berbasis keyakinan. Pertempuran meluwas atas nama agama. Ada yang rela mati untuk agama. 

Agama adalah penerang, walau bagi sebagian orang tidak beragama juga tetap hidup terang. Namun satu hal, bagi pemeluknya, yang berbau agama, apalagi ada Tuhan disitu sangat sakral. Dari pengucapannya saja sudah pemeluk. Ada keintiman.

Beberapa waktu lalu, orang Aceh dibuat heboh, ada juga yang panik. Pasalnya, sebuah aplikasi terpajang di Google Playstore. Namanya Kitab Suci Aceh. Apa yang anda bayangkan membaca namanya?

Sekilas, saya menduga isinya tentang kitab suci yang diyakini masyarakat Aceh, Alquran. Ternyata  salah. Isinya adalah Injil dalam Bahasa Aceh.

Bisa anda bayangkan? Aceh, penduduknya mayoritas Islam. Bahkan, persentasenya tertinggi di Indonesia. Secara historis, Aceh juga dikenal sangat fanatik dengan Islam. Tetiba muncul aplikasi Kitab Suci Aceh yang isinya injil?

Jika diibaratkan perang, ini adalah serangan ke jantung pertahanan lawan. Kalau dalam olahraga, ibarat supporter Persija hadir di Sijalak Harupat, duduk di tengah Bonek, memakai jersi Persija dan mengejek permainan Persib.

Bisa anda bayangkan apa yang terjadi? Adegan ini hanya dilakukan oleh profesional, terlatih dan terdidik. Tidak boleh ditiru.

Sebenarnya, dalam setiap agama, selalu ada proses memperluas, mengajak yang belum beragama atau pemeluk agama lain untuk bergabung dengan agamanya. Selalu ada keyakinan dan pembenaran untuk hal ini.

Dalam Islam, disebut dakwah. Melalui pengajian, pendakwah secara persuasif megajak pemeluk Islam untuk terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, sampai kesempatan hidup berakhir.

Dakwah juga ditujukan untuk non-Islam, ada harapan, setelah mendengar dakwah, mereka tidak lagi kafir. Segera memeluk Islam.

Kristen dan katolik mengajak domba-domba tersesat untuk digembala. Berada dalam Kasih Tuhan yang mereka yakini. Saya kira semua itu sah-sah saja dalam koridor hukum. Namun, yang saya tak habis pikir, kenapa pula domba yang hendak digembala itu, justru yang berada di Aceh?

Bukahkah domba-domba di Eropa lebih lebih memerlukan? Apa motivasi dibalik membuat layanan Injil dalam Bahasa Aceh dengan judul yang bombastis, kalau dalam dunia tulisan online, begitu klik bite. Kitab Suci Aceh. Nama yang sangat klik bite.

Namun, pertanyaan pokoknya adalah, apakah itu semua atas maunya Tuhan? Mungkin, kita hanya dapat menduga-duga dan bertindak atas nama Tuhan.

Google adalah penyedia jasa Playstore. Pengembang aplikasi Kitab Suci Aceh adalah kitabsucinusantara.org. Tidak banyak informasi yang dapat diperoleh dari web tersebut. Alamatnya di Indonesia juga tidak jelas.

Sepertinya, organisasi ini berbasis di Amerika. Melihat kemampuannya menerjemahkan Injil kedalam berbagai Bahasa daerah, tidak bisa dianggap sepele, kalau bukan di backup actor kuat.

Saya duga, selain urusan “iman” sepertinya pembuatan playstroe ini juga ada kaitannya dengan bisnis.

Tentu, dalam prinsip ekonomi digital, semakin banyak mendapat perhatian, semakin bagus. Jangan sampai, sikap reaktif, itu yang mereka tunggu. Dalam situasi normal, saya yakin tidak banyak orang Aceh yang mendownload karena kebutuhan. 

Selain soal Misionaris dan Bisnis, ada satu lagi soal yang dapat kita belajar dari kasus Kitab Suci Aceh. apa itu? Soal kebangsaan.

Sejak Indonesia diwacanakan pada tahun 1945, beberapa anggota Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekan (BPUPK) sudah terlibat adu argument mengenai dasar negara.

Perbedaan cara pandang itu terdiri dari dua arus utama, Nasionalis yang menghendaki Indonesia berdasarkan nilai-nilai universal yang dapat diterima semua agama. Satu lagi Agamis, yang menghendaki Indonesia menyandarkan diri pada nilai-nilai berdasarkan agama.

Bung Karno menawarkan solusi. Melalui pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 dihadapan peserta sidang BPUPK, Presiden pertama itu menawarkan Philosophisce grondslag. Yang terdiri dari lima sila, lima nilai dasar yang mempersatukan Indonesia. Itulah Pancasila.

Nilai-nilai itu tujuan pokoknya adalah mengikat semua agama, semua suku, semua Bahasa, semua penduduknya. Tidak menempatkan yang satu diatas dan yang lainnya jauh di dasar.

Dari dulu sampai sekarang yang sering dipertentangkan adalah perihal keyakinan beragama. Akhir-akhir ini, bangsa Indonesia dipertentangkan perihal-perihal itu, cilakanya, dipertentangkan untuk kepentingan politik elektoral.

Padahal, Pancasila itu adalah idiologi yang hidup dan bergerak, bukan hanya hafalan. Tugas kita menghidupkan dan menggerakkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam praktek yang lebih sederhana. Belajarlah pada tradisi Aceh masa lampau. Bagaimana relasi mertua dengan menantu. Keduanya saling menghargai. Tidak banyak bicara.

Jika dalam sebuah pertemuan atau hajatan, sudah duluan hadir mertua, maka menantu mencari jalan lain, terlihat bayangpun jangan. Begitu juga sebaliknya, mertua menghargai menantu.

Aceh sudah jelas menjadi wilayahnya mayoritas Islam. NTT mayoritas Kristen, Bali mayoritas Hindu, Manokwari kota Injil. Jadi hargailah masing-masing daerah itu. Jangan sekali-kali menjajah keyakinan.

Jika pun harus memperluas jaringan, lakukanlah pada daerah zona aman. Yang penduduknya tidak mayoritas memeluk agama tertentu. Lebih bagus lagi pada negara-negara yang penduduknya makin hari semakin banyak yang ateis.

Yang tidak beragama dan tidak bertuhan, tidak beragama tapi bertuhan, atau yang menuhankan agama. Jadi, jangan adu-domba. Berhentilah berbuat yang aneh-aneh, termasuk soal Kitab Suci Aceh itu!.

Komentar

Loading...