Aceh Tanpa Meugang?

Aceh Tanpa Meugang?
Foto: Liputan6.com

MEUGANG atau Ma’meugang adalah tradisi menyambut bulan Ramadhan dan Hari raya. Biasanya, berlangsung dua atau satu hari sebelum puasa dan hari raya idul fitri atau idul adha. Tradisi ini sudah berlangsung lama, usianya diperkirakan beriringan dengan masuknya Islam ke Aceh.

Meugang identik dengan memasak daging. Setiap keluarga, berupaya sekuat tenaga untuk bisa 'merayakan', memasak daging dengan berbagai varian; gulai, goreng, tergantung selera.

Hidangan meugang, disantap bersama keluarga. Memang, kebahagiaan lain dihari meugang adalah berkumpulnya anggota keluarga, yang dirantau, pulang. Oleh karena itu pula kebutuhan daging menjelang meugang naik. Kalau sudah begini, berlakulah teori ekonomi; permintaan naik, harga meningkat.

Dua kemungkinan yang akan sangat berbeda pada meugang tahun ini; pertama tanpa pasar penjualan daging meugang terpusat, kedua para perantau dilarang mudik, termasuk ASN dan pegawai BUMD atau BUMN.  

Pada tahun-tahun sebelumnya, harga daging mencapai 200 ribu rupiah per kilogramnya. Naik hampir 80 sersen dari hari biasa yang berkisar antara 100 sampai 120 ribu per kilogram. Hampir tidak ada interfensi pemerintah melalui kebijakan, mereka menyerahkan sepenuhnya kepada pasar.

Pasar hewan dadakan berjamur bagai cendawan di musim hujan. pedagang menggelar tikar di pinggir jalan, nyaris terhindar dari pantau dinas kesehatan hewan. Begitulah cara pedagang memenuhi daging meugang.

Agaknya, situasi meugang kali ini sedikit berbeda. Ditengah pandemi Covid-19, pemerintah kabupaten/kota sudah merespon dengan berbagai imbauan.

Di Aceh Utara misalnya, pemerintah setempat melalui wakil bupati, Fauzi Yusuf mengimbau warganya untuk menggunakan masker dan menjaga jarak selama berada di pasar.

Di Lhokseumawe, Walikotanya, Suaidi Yahya  mengimbau kepala desa agar warganya tidak berjualan terpusat di ibukota kecamatan, tapi harus menyebar di setiap desa, agar dapat menghidari keramaian.

Bupati Aceh Barat Daya, Akmal Ibrahim meminta masyarakat untuk menjual dan melakukan pemotongan hewan di desa masing-masing.

Bupati juga melarang masyarakat menjual daging di bantaran sungai Krueng Beukah, Gampong Keude Siblah, Kecamatan Blangpidie, dan dilapangan bola kaki Gampong Seunulop, Kecamatan Manggeng.

Biasanya, kedua lokasi tersebut digunakan untuk pemotongan hewan untuk kebutuhan meugang.

Hal serupa juga dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Aceh Selatan. Dalam surat yang ditandatangani Sekretaris Daerah, Pemkab mengintruksikan Camat untuk menyampaikan penegasan kepada Keuchik.

Beberapa hal diantaranya adalah, penyembelihan hewan ternak tidak boleh terpusat di ibukota kecamatan, dilarang melakukan tradisi makan-makan, dan menutup Objek Daerah Tujuan Wisata.

Makan-makan itu biasa dilakukan satu hari setelah meugang dan satu hari sebelum puasa. Masyarakat biasanya ramai-ramai mengunjungi tempat wisata, bersama keluarga.

Pemerintah Kabupaten/Kota terlihat satu suara dalam menyikapi hari meugang kali ini. Ditengah teror Covid-19, masyarakat masih dibolehkan untuk melaksanakan apa yang mereka sebut kearifan lokal itu.

Sikap pemerintah sudah benar, mengimbau masyarakat untuk tidak berkumpul terlalu ramai di satu pasar. Namun, pemerintah daerah melalui Dinas terkait harus melakukan kontrol ketat, bukan hanya soal keramaian, tapi juga pemotongan hewan, harus sesuai syariat dan standar kesehatan. Pemerintah juga harus mengontrol pasar, harga daging tidak boleh terlalu jauh naik dari hari biasa.

Puasa barangkali akan dimulai pada hari jumat (24/4), puncak meugang diperkirakan hari Rabu. Apakah ancaman Corona akan membuat Aceh tanpa meugang? atau sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya?, kita tunggu saja!

Komentar

Loading...