Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

84 persen Pelanggar Protkes di Aceh Laki-Laki

84 persen Pelanggar Protkes di Aceh Laki-Laki

BANDA ACEH, ANTEROACEH.com — Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani mengatakan pelanggar protokol kesehatan (Protkes) dalam wilayah Kota Sabang, Banda Aceh dan Aceh Besar lebih banyak didominasi oleh laki-laki.

Petugas operasi yustisi banyak menangkap mereka saat berada di jalan raya dan di warung-warung kopi atau caffe.

“Sejak operasi yustisi digelar awal September 2020 hingga kemarin, selalu laki-laki yang lebih banyak terjaring,” ucap Saifullah Abdulgani (SAG) kepada awak media, Senin (14/12/2020).

Hal itu, dijelaskan SAG berdasarkan data dari Wakil Koordinator Lapangan Penegakan Protkes Satpol PP-WH, Marzuki, dalam operasi yustisi bulan September-November 2020 sudah terjaring 10.088 pelanggar Protkes. Sebanyak 8.456 orang atau 84% adalah laki-laki sementara perempuan hanya 16% atau 1.632 orang.

Pada periode 1-7 Desember 2020, disebutkan SAG kembali terjaring sebanyak 883 orang dengan total 712 orang (81%) laki-laki dan 171 orang (19%) perempuan. Pada periode 8-13 Desember 2020 berikutnya juga masih laki-laki yang mendominasi sebanyak 691 orang (82,2%) dan 150 orang (17,8%) perempuan.

“Trennya tampak konsisten, jumlah laki-laki yang terjaring selalu di atas 80% dari total pelanggar dalam setiap periode waktu operasi yustisi itu dilakukan,” ujar SAG.

Namun demikian, SAG berpendapat data-data tersebut tidak serta-merta menunjukkan perempuan lebih disiplin Protkes dibandingkan laki-laki, karena faktor kebetulan tak bisa dihindari. Laki-laki selalu lebih dominan di warung kopi atau Caffe dibandingkan perempuan, begitupun di jalan raya.

“Pelanggaran Protkes yang dilakukan semuanya tidak menggunakan masker,” ungkap SAG.

Padahal, tambah SAG, masker amat penting untuk melindungi seseorang dari percikan air liur (droplet lawan bicara di tempat-tempat umum, seperti warung kopi dan caffe. Percikan droplet bisa mencapai lebih dari 1,5 meter dan setiap orang berpotensi sebagai pembawa virus (carrier), terutama di daerah yang sudah terjadi transmisi lokal.

Komentar

Loading...